Tampilkan postingan dengan label Seputar NII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar NII. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Investigasi NII (4) Dana Masuk dari Vonis Zina

Investigasi NII (4): Dana Masuk dari Vonis Zina
Aksi seks bebas dikalangan NII juga dimanfaatkan untuk menambah dana masuk. Perzinahan kerap dihukum denda Rp 300 ribu bagi para pelakunya. Sebelum divonis denda, anggotaNII terlebih dahulu mengakui dosa perzinahannya. Setelah itu mata mereka ditutup dan dibawa ke tempat lain, yaitu pengadilan bagi anggota NII yang melakukan kejahatan.
Anggota kemudian dibawa masuk kedalam sebuah ruangan tertutup kedap suara. Dia didudukkan dihadapan pengurus yang berperan menjadi hakim, jaksa penuntut, dan panitera. Sidang tertutup dan tidka boleh diketahui orang lain, kecuali pengurus.
Anggota diminta mengakui perbuatan zina yang dilakukannya. Sementara, hakim, jaksa, dan panitera membaca pengakuan tertulis. Pengakuan tertulis dan lisan akan dicocokkan. Anggota NII tersebut kemudiandiminta keluar ruangan beberapa saat. Setelah itu diperintahkan masuk kembali kedalam ruang sidang. Hakim kemudian membacakan vonis berupa denda Rp 300 ribu.
Sukanto menyatakan, denda sejumlah itu tidak membuat jera anggota NII melakukanperzinahan. "Mereka akan terus mengulangiperbuatan itu sampai puas," terangnya.
Dalam hukum pidana NII, perzinahan dibagimenjadi tiga kriteria. Pertama, zina antara sesama anggota NII. Kedua, zina antara anggota NII dengan yang bukan. Anggota NII yang seperti ini tidak dianggap bersetubuh dengan manusia, tetapi binatang. Mereka yang di luar anggota NII dianggap seperti hewan.
Terakhir, perzinahan kecil, seperti berciuman, berpelukan, dan memegang atau meraba anggota badan lawan jenis. Anggota NII biasa menyebutnya fahisyah. Mereka yang melakukan salah satu atau semua poin itu akan diwajibkan membayar sejumlah uang, untuk menebus dosa perzinahan yang diperbuat.

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/05/12/ll36pm-investigasi-nii-4-dana-masuk-dari-vonis-zina

Investigasi NII (3) Anggota Perempuan Rela Melacurkan diri demi setoran

Investigasi NII (3): Anggota Perempuan Rela Melacurkan Diri demi Setoran

Kebiasaan seks bebas mengakibatkan sejumlah anggota NII perempuan nekat melacurkan diri demi mengejar setoran kepada mas'ul. Tidak peduli apa pun cara yang ditempuh. Yang penting, setoran kepada pengurus terus berjalan. Pembina Komisi untuk orang hilang dan korban NII-Zaytun, Umar Abduh, menyatakan sejak 1994, aksi melacurkan diri dilakukan secara tidak terorganisir.
Bahkan, ada anggota NII yang sudah berkeluarga di Jakarta Selatan merelakan istrinya menjadi pekerja seks komersial (PSK). Sang suami bahkan menjadi tukang ojek, mengantarkan istrinya ke hotel atau pun rumah tinggal pria hidung belang yanghendak menyetubuhi istri anggota NII.
Sang suami juga kerap berperan sebagai germo yang menerima pesanan orang-orang yang hendak menyetubuhi istrinya. Entah berapa tarifnya sekali 'bermain' dengan wanita NII, yang jelas, harus cukup untuk menutupi setoran yang selalu naik setiap beberapa waktu. Setoran diperkirakan Rp 1-2 juta setiap bulan. Jumlah itu akan dinaikkan seenak hati pengurus.
Tidak heran jika sejumlah anggota NII dari kalangan mahasiswa dan pekerja menjual diri kepada pria-pria hidung belang. Umar menyatakan jumlah wanita NII yang melacurkan diri mencapai ratusan orang.
Aksi mereka tidak dilakukan di lokalisasi. Si perempuan biasanya menerima pesanan dari pria hidung belang yang ingin menikmati tubuh mereka. Alat komunikasi seperti telpon seluler sangat mendukung pelacuran mereka. Biasanya pelanggan menghubungi melalui telpon seluler berupapesan singkat ataupun langsung menelpon.
Penampilan mereka sehari-hari tidak seperti PSK pada umumnya. Mereka memakai pakaian seperti kaos, kemeja, dan bercelana panjang, layaknya wanita-wanita gaul. Mereka juga tidak menggunakan dandanan menor.
Anggota NII yang kerap melacurkan diri berada di wilayah Jakarta Selatan dan Bekasi. Salah seorang pengurus NII Crisis Center, Daru, menyatakan, perzinahan di kalangan anggota NII memang sudah biasa."Lebih dari separoh anggota NII di Jakarta melakukan itu," ungkapnya.
Data Komisi untuk orang hilang dan korbanNII-Zaytun (Kontraz) menunjukkan, jumlah anggota NII di Jakarta mencapai 117.379 orang. Dengan demikian, lebih dari separohnya, sekitar 55 ribu orang, terlibat seks bebas.
Sumber : http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/05/12/ll36i8-investigasi-nii-3-anggota-perempuan-rela-melacurkan-diri-demi-setoran

Investigasi NII (2) Hubungan Seks Dilakukan Secara terorganisir

Investigasi NII (2): Hubungan Seks Dilakukan Secara Terorganisir
Hubungan laiknya suami-istri di kalangan anggota NII dilakukan secara terorganisir. Pembina Komisi untuk orang hilang dan korban NII-Zaytun, Umar Abduh, mengungkapkan petinggi NII di Jakarta Selatan pernah memerintahkan sekretaris desa NII untuk mencari perempuan-perempuan cantik yang menjadi anggota NII.
Satu per satu mereka dipanggil menghadapmas'ul. Mereka 'dipancing' untuk mengakui dosa-dosa apa saja yang pernah diperbuat. Jika ada yang mengaku pernah berzina, maka akan ditanya lebih lanjut apakah orang tua mengetahui dosa itu. Anggota biasanya menyatakan perzinahan itu tidak diketahui, dan mereka sangat memohon agar pengakuan mereka tidak diketahui ayah ataupun ibu mereka.
Mas'ul kemudian memanfaatkan pengakuan itu untuk menyetubuhi wanita NII tersebut hingga berkali-kali. Jika si perempuan menolak, maka akan diancam pengakuan mereka akan diberitahukan kepada orang tua. Mereka takut akan hal itu, sehingga merelakan dirinya disetubuhi para pengurus NII.
Mereka yang 'menikmati' itu mulai sekretaris desa hingga camat. Ada sebagianwanita yang disetubuhi si penyeleksi. Ada juga yang khusus dihadiahkan kepada pengurus dengan jabatan lebih tinggi."Mereka cantik-cantik," ungkap Umar. Berbeda dengan wanita dengan paras biasa-biasa saja, hanya diminta untuk menghimpun dana, bagaimanapun caranya.
Setelah disetubuhi, wanita anggota NII itu akhirnya terus fanatik terhadap keyakinannya. Negara dianggap sebagai Tuhan, dan pemerintah NII dianggap sebagai rasul yang dapat berbuat semena-mena terhadap anggotanya.

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/05/12/ll3667-investigasi-nii-2-hubungan-seks-dilakukan-secara-terorganisir

Investigasi NII (1) Seks Bebas di Kalangan NII

Investigasi NII (1): Seks Bebas di Kalangan NII

Sekitar 2009 lalu, Bupati Negara Islam Indonesia Wilayah Matraman, Amir Shidiq, tewas karena menderita Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Dia kerap bersetubuh dengan sejumlah pekerja seks komersial PSK di Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya itu, Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menyatakan Amir pernah menyetubuhi 11 wanita anggota NII, sebelum dia meninggal.
Entah dimana jenazah Amir dikebumikan."Tidak ada yang mengetahui, karena informasi ini tersebar di kalangan pejabat (mas'ul)," terang Ken, saat ditemui di PasarMinggu, Jakarta Selatan, Ahad (8/5). Anggota-anggota NII setingkat pengurus desa dan kecamatan pun tidak mengetahuinya. Informasi itu sengaja disimpan agar anggota NII tidak kecewa dengan almamaternya, wadah yang selamaini mereka bela dan perjuangkan.
Ken menilai kematian Amir karena AIDS menandakan seks bebas di kalangan anggota NII mulai tingkat bawah hingga atas kerap terjadi. Dia menceritakan ada seorang anggota perempuan alumni sebuah perguruan tinggi Islam ternama di Timur Tengah, Ulfa, rela disetubuhi anggotaNII laki-laki baik kalangan remaja maupun dewasa di sebuah pesantren sekitar Jawa Barat, yang diduga sebagai sarang pergerakan NII.
"Itu sudah biasa karena pertemuan antar anggota NII di markas selalu terjadi," ungkap Mantan Kepala Desa NII di Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Sukanto. Pasangan mesum antara anggota NII akhirnya melakukan hubungan seks di tempat tersembunyi.
Ada yang melakukan itu di hotel. Ada juga yang nekat melakukannya di markas. Namun ketika itu, markas sedang sepi. Bisa juga karena penghuni markas sedang tidur terlelap sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi.
(republika.co.i)

Selasa, 10 Mei 2011

Dulu Berjasa, Sekarang Diperalat Intelijen (2)

Dulu Berjasa, Sekarang Diperalat Intelijen? (2)

SEMENJAK ditandatanganinya "Perjanjian Renville" antara Pemerintahan RI dengan Penjajah Belanda, di mana salah satu kesepakatannya adalah berupa gencatan senajata dan pengakuan garis "Demarkasi Van Mook", maka ini telah menjadi pil pahit bagi Indonesia, termasuk bagi Kartosoewirjo yang telah lama merasa berdarah-darah.
Perjanjian yang mewajibkan Pemerintah Indonesia menarik semua pasukannya dan mengakui beberapa wilayah yang dikuasi Belanda dinilai Kartosoewirjo sebagai sikap 'tunduk' pada penjajah kafir.
Ketika semua pasukan harus menarik diri dan pindah ke Jawa Tengah, sebagai konsekwensi Perjanjian Renville, Kartosoewirjo justru bersikap sebaliknya. Bersama Hizbullah dan Sabilillah –keduanya adalah salah satu sayap mujahidin dan kesatuan santri pembela tanah air— dan lebih memilih tetap tinggal untuk meneruskan perlawanan terhadap penjajah (Belanda).
Kekecewaan terhadap Perjanjian Renville ini bahkan sempat membuat Kartosoewirjo menyebut Amir Sjafroedin sebagai seorang ' laknatoellah ' (yang dilaknat Allah) dan penghianat yang telah 'menjual' Jawa Barat serta sikap lemah Soekarno.
Sebagai sikap tegas penolakan Renville, maka 10 Januari 1948 bertemulah perwakilan para pejuang ( mujahidin ) yang mewakili sekitar 160sayap organisasi Islam. Mereka adalah sayap santri yang telah menyerahkan tenaga, pikiran dan nyawanya untuk membela negara melawan penjajah kafir. Hadir beberapa komandan teritorial penting. Di antaranya; Sanusi Partawidjaja, Ketua Masyumi Daerah Priangan, Raden Oni, pemimpin Sabilillah Priangan, Dahlan Lukman, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Siti Murtaji'ah, Ketua GPII Puteri, Abdulullah Ridwan, sebagai Ketua Hizbullah Priangan dan Ketua Masyumi Cabang Garut, Saefullah.
Mereka bertemu di desa Pangwedusan distrik Cicayong untuk membentuk Majelis Islam atau Majelis Umat Islam dan akhirnya mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). Ketua Majelis Islam dipimpin oleh SM Kartosoewiryo, Sekretaris oleh Supradja dan Bendahara dipegang oleh Sanusi Partawidjaja. Sedangkan bidang penerangan dan kehakiman masing.-masing oleh Toha Arsjad dan Abdulkudus Gozali Tusi. Adapun tugas Majelis Islam adalah melanjutkan dan memimpin perang gerilya melawan Belanda di daerah-daerah yang telah dilepaskan/hijrah TNI ke Jawa Tengah.
Sejak itulah Tentara Islam Indonesia (TII) berjuang keras menahan kehadiran tentara Belanda yang akan menguasai Jawa Barat.
Dalam buku "Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo", karangan Al Chaidar (1999) disebutkan, ide pendirian TII ini murni karena sikap rasa juangpara santri yang sesunnguhnya tidak mau tunduk pada tentara penjajah, akibat sikap 'lemah' pemerintah RI yang mudah tundukpada penjajah.
Sebagaimana dikutip Al Chaidar, tercatat ucapan penting Kamran, salah satu peserta pertemuan ini ingin agar Perjanjian Renville dibatalkan.
"Kalau pemerintah RI tidak sanggup membatalkan Renville, lebih baik pemerintah kita ini kita bubarkan dan membentuk lagi pemerintahan baru dengan tjorak baru. Di Eropa dua aliran sedang berdjuang dan besar kemungkinan akan terjadi perang dunia III, ja'ni aliran Rusia lawan Amerika. Kalau kita di sini mengikuti Rusia kita akan digempur Amerika, begitu djuga sebaliknja. Dari itu kita harus mendirikan negara baru, ja'ni Negara Islam. Timbulnya Negara Islam ini,jang akan menyelamatkan Negara." (" Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo", Al Chaidar, 1999)
Jelas sekali jika awal gagasan pendirian NII ingin menyelamatkan negara. Seperti diketahui, semanjak Indonesia dalam wilayah jajahan, banyak sayap-sayap milisi pejuang lahir untuk membela Negara. Apalagi karena Indonesia mayoritas Muslim, hampir semua organisasi Islam memiliki sayap militer. Sebagai bentuk bela Negara ini, ulama bahkan banyak berperan ambil bagian penting mensupport masyarakat melawan penjajah kafir hingga ke desa-desa.
Dalam buku "API Sejarah 2" (2010), karya Ahmad Mansur Suryanegara disebutkan, saat terjadinya protes sosial di Pesantren Sukamanah 18 Februari 1944 yang melahirkan resolusi politik dalam bentuk 'jihad fi sabilillah' yang dipimpin para ulama untuk menuntut Indonesia Merdeka berdasarkan Islam.
Peran para mujahid (pejuang Islam) dalam membela kemerdekaan ini tak bisa dianggap kecil. Ahmad Mansur Suryanegara mengutip perbedaan kekuatan massa partai politik IslamMasyumi yang memiliki sayap militer bernama Laskar Hizbullah dan Laskar Fi Sabilillah.
"Nampaknya, Soetan Sjahrir baru menyadari realitas kekuatan Partai politik Islam Indonesia, Masyumi. Memiliki massa pendukung partai yang konkrit dan sangat besar serta memiliki Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang sangat kuat. Kebesaran massa politik Islam Masyumi pada massa itu, dapat diukur dengan perbandingan massanya satu kabupaten saja, sama dengan massa partai non Islam lainnya untuk seluruh Indonesia."
Umumnya para pejuang kemerdekaan adalah dimotori ulama dan para santri. Wajar jika besar harapan mereka Indonesia menjadi Negara Islam. Jadi ide dan gagasan seperti ini sebenarnya bukan semata ada pada diri Kartosoewirjo. Bahkan ide seperti ini makin tajam taktala penentuan Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.
Prof Dr Soepomo sempat menyampaikan pendapatnya soal ini:
"Memang di sini terlihat ada dua paham, ialah paham dari anggota-anggota ahli agama yang menganjurkan supaya Indonesia didirikansebagai Negara Islam. Dan anjuran lain, sebagai telah dianjurkan Tuan Mohammad Hatta ialah negara persatuan nasional yang semisalnya urusan agama dan urusan Islam dengan perkataan lain, bukan Negara Islam." (API Sejarah 2 , 2010).
Lagi pula adalah hal yang wajar jika saat itu ada keinginan pendirian Negara Islam. Sebab, menurut Ahmad Masnyur Suryanegara, sebelum pendudukan tentara Jepang, Nusantara Indonesia telah berdiri sekitar 40 Kesultanan Islam.
Tapi entahlah, mengapa dalam sejarah belakangan, kiprah para mujahidin dan pejuang kemerdekaan itu lebih ditonjolkan (tepatnya lebih diperkenalkan ke masyarakat) dari sisi pemberontakannya? Dan mengapa pula di wilayah Nusantara yang dikenal memiliki banyak kesultanan Islam ini masyarakat sering 'ditakut-takuti' meski hanya untuk menyebut kata "Negara Islam"?*/ bersambung

Rep: Akbar Muzakki
Red: Panji Islam
( hidayatullah.com )

Sabtu, 07 Mei 2011

Menelusuri Benang Merah Antara NII dan Bank Century

Menelusuri Benang Merah Antara NII dan Bank Century
r
uang hati
Pimpinan Negara Islam Indonesia (NII) Panji Gumilang, berteman dekat dengan pemilik Bank Centyry Robert Tantular. Demikian diungkapkan Sholahudin, peneliti DI/TII dan NII, usai acara diskusi bertema NII dan Radikalisme di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (30/4). Karena kedekatan dengan Robert Tantular itulah, Panji Gumilang menyimpang dana NII di bank yang bermasalah itu. "Makanya tak heran bila uangnya NII hampir Rp 250 miliar ditaruh di Century," ujar Sholahudin.
Pimpinan NII dengan Bos Bank Century ternyata punya hubungan yang akrab
Kedekatan pemilik Century dan Panji diawali dengan seringnya pimpinan NII tersebut menukar pecahan uang asing di gerai penukaran uang milik kakak Robert. Disebutkan, lantaran kerap ke Sabah, Malaysia, biasanya sekembali dari luar negeri,Panji mampir ke money changer milik kakak Robert.
Merasa akrab, jelas Sholahudin, tak heran jikaPanji berminat untuk ikut memiliki produk investasi di Century. Secara rutin uang, emas, dan barang berharga lainnya diinvestasikan ke Century dengan jumlah mencapai Rp 250 miliar tersebut. Menurut Sholahudin, disaat kondisi Bank Century yang bermasalah sekarang ini, secara otomatis membuat Panji menjadi pusing. Bagaimana nasib dananya yang dititipkan di bank milik Robert tersebut hingga kini tidak jelas.
Selain itu, kata Sholahudin, uang Rp 50 miliar yang dipinjam dari salah satu bank untuk usaha pengembangbiakan sapi, juga menjadi salah satu beban bagi Panji saat ini. Mengingat kewajiban yang harus dibayar saban bulan kepada bank mencapai Rp1 miliar. Berdasarkan kondisi keuangan yang semakin sulit tersebut, ujar Sholahudin, makanya NII sekarang kian gencar menggalang dana. Salah satunya dengan memperluas jaringan dan memperbanyak perekrutan anggota.
Semakin banyak sel, kata Sholahudin, NII berharap kian banyak pundi uang yang dapat mereka kumpulkan. Mulai dari sumbangan anggota hingga menebar pasukan pengumpul dana dengan label sumbangan amal. "Jadi, motif NII sebenarnya hanya materi untuk saatini. Mereka tidak melakukan teror bom dan perbuatan anarkis lainnya," ungkapnya. "Negara Islam cuma dijadikan doktrin untuk merangkul anggota. Materi adalah tujuan utamanya," tandas Sholahudin meyakinkan.
Karena motif yang dominan materi itulah, kata Sholahudin, NII belum secara masif membahayakan negara. Bahkan dia dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik mengingat massa NII yangriil. "Fakta itu terlihat dari kedekatannya pimpinan NII dengan penguasa, mulai dari Soeharto dulu saat menjadi presiden dan hingga sekarang," paparnya. (Sumber)
Attachment includes the note and its objects

Inilah Beda NII Era Kartosoewirjo danNII Masa Kini

Inilah Beda NII Era Kartosoewirjo danNII Masa Kini

ruang hati

Negara Islam Indonesia (NII) punya sejarah panjang di Bumi Indonesia. Bermula dari gerakan Darul Islam yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 oleh Sekarmadji MaridjanKartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan ini tak lantas hilang pasca Kartosoewirjo ditangkap dan dieksekusi pada 1962. Belakangan, NII kembali jadi sorotan setelah sejumlah orang dikabarkan menjadi korban penculikan dan pemerasan. Bukti, gerakan ini masih ada.
Kartosoewirjo dan Bendera NII (Negara Islam Indonesia)
Meski demikian, mantan pengikut NII, Ken Setiawan mengaku, sebenarnya NII yang bertujuan mendirikan negara Islam sudah tak ada lagi. "Bagi kami, NII tamat setelah Kartosuwirjo tewas," kata Ken pada media Vivanews yang dikutip ruanghati.com. Apa yang disebut NII saat ini, kata dia, tak lain tak bukan hanya organisasi yang bertujuan mengumpulkan uang sebanyak mungkin. "Tujuannya, mencari pengikut dan mencari uang," jelas pendiri NII Crisis Centre ini.
Meski tak terang-terangan makar, Ken menilai, operasi NII saat ini tak kalah bahaya. "Mungkin bagi negara belum membahayakan, karena mereka tak melakukan aksi kekerasan. Senjata mereka hanya spidol, tapi lebih bahaya," tambah dia.Diungkapkan dia, NII model baru ini menyebarkecemasan dan keresahan di masyarakat. Hubungan silaturahmi anak-orang tua terputus, uang diperas, menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. "Bahkan dengan merampok."
Sebelumnya, Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto mengatakan, sejauhini belum ada gerakan secara sistematis dari NII. Djoko menambahkan terkait gerakan NII ini, intelijen telah melakukan pembicaraan. "Tidak perlu dibesar-besarkan, selama itu tidak menganggu," ujarnya. Sejauh ini pemerintah mengaku belum mengetahui pastiapakah NII benar-benar bertujuan ingin mendirikan negara Islam. "Gerakan seperti itu kan tidak pernah terproklamirkan mendirikan negara," kata dia
Menurut dia, tidak semua hal harus diarahkan ke NII, termasuk serangkaian jaringan baru terorisme yang belakangan terjadi. Sementara, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mengaku heran mengapa pemerintah melalui kekuatan intelijen tak mampu melihat gerakan masif NII. Luputnya gerakan ini dari pengamatan tentu patut dipertanyakan.
"Menurut saya tidak masuk akal, sampai bisa merekrut puluhan ribu orang tanpa tidak terdeteksi dari awal. Pemerintah harus memberi jawaban dalam langkah konkrit," tuturnya. "NII itu tak berdiri sendiri. Berkembangnya gerakan sekterianisme, radikalisme, ini kok dibiarkan saja?" (Sumber)
Attachment includes the note and its objects

Rabu, 04 Mei 2011

Jejak-jejak NII (1) Dulu Berjasa, Sekararang diperalat intelijen?

Jejak-jejak NII (1)
Dulu Berjasa, Sekarang Diperalat Intelijen?

Rabu, 04 Mei 2011
Hidayatullah.com— Beberapa minggu ini, media didominasi pemberitaan seputar isu 'pencucian otak' dan Negara Islam Indonesia (NII). Dampaknya luar biasa, berbagai pihak langsung alergi terhadap simbol-simbol Islam. Tak hanya itu, beberapa pengelola perguruan tinggi sudah ada yang mengeluarkan larangan lembaga dakwah di kampus. Alhasil, NII yang semula dilahirkan pendirinya sebagai sebuah cita-cita luhur untukmenerapkan syariat Islam, kini, tiba-tiba berbalik menjadi isu menakutkan; merampok, mencuri, dan hal-hal berbau teror. Ada apa sebenarnya? mengapa NII yang dulu berjasa menjaga teritorial wilayah Jawa Barat kini berimej buruk? Siapa NII yang asli, dan siapa yang hanya menumpang? Wartawan hidayatullah.com , Akbar Muzakki secara khusus melakukan riset pustaka selama beberapa hari. Inilah hasilnya;
***
Sebagai akibat ditandatanganinya persetujuan Renville 17 Pebruari 1948 oleh pemerintah RI (Kabinet Amir Sjarifuddin) dengan pemerintah Belanda, maka pasukan militer RI harus ditarik dari kantong-kantong yang dikuasai Belanda.
Ketika pemerintahan RI diminta untuk hijrah keJogjakarta sebagaimana hasil perjanjian Renville. Maka ibukota negara RI pun berpindah ke Jogjakarta.
Sedangakan aparat keamanan dalam hal ini Tentara Republik Indonesia (TRI ) harus meninggalkan ibukota termasuk Divisi Siliwangi yang diandalkan pun hijrah ke Jogjakarta.
Meski TNI Devisi Siliwangi kala itu harus ditarik mundur dari Jawa Barat yang dikuasai Belanda dan hijrah ke Jawa Tengah yang dikuasai RI, pasukan gerilya seperti Hizbullah dan Sabilillah yang beroperasi di Jawa Barat tidak mau ikut hijrah ke Jawa Tengah. Sikap inidiambil karena dua pasukan pembela umat itu tidak setuju dengan Perjanjian Renville. Selain itu, pasukan ini tak ingin ada kekosongan wilayah.
AH Nasution dalam bukunya " Memenuhi Panggilan Tugas" menceritakan perjalanan melewati bukit-bukit dan lereng-lereng untuk bisa menuju ke Jogjakarta. Sementara di Jogja dibentuk panitia hijrah untuk penyambutan TRI yang diketuai Menteri Arudji Kartawinata.
Dalam perjalanan perjuangan tersebut AH Nasution juga meminta para ajengan Pak Embes (sebutan ulama di Jawa Barat) untuk bisa memberikan doa dan meminta agar ajengan juga ikutserta dalam rombongan. Namun ajengan tak mau. Bahkan AH Nasution meninggalkan beberapa pucuk senjata untuk keamanan mereka kelak. Ternyata benar, kampung tersebut diobrak-abrik Belanda.
Jawa Barat kosong dari Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan tidak ada kekuatan pertahanan yang menjaga wilayah RI yang berdasarkan Perjanjian Renville memang harusdikosongkan dari militer. Presiden dan Waprespindah ke Jogjakarta, sementara territorial militer juga harus dikosongkan.
Ketika kekosongan itu terjadi, SM Kartosoewirjo, yang kala itu sebagai komandan pejuang Hizbullah dan komondan pejuang Sabilillah tidak mau ikutserta meninggalkan teritorial.
Kemudian mereka melakukan pertemuan pada10-11 Pebruari 1948 di desa Pangwedusan distrik Cicayong dihadiri pemimpin-peminpin Hizbullah , Gearakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dan Sabilillah. Sebagaimana disebutkan dalam buku " Peta Sejarah Perjuangan Politik Umat Islam di Indonesia" karya Abdul Qadir Djaelani dalam pertemuan tersebut membuat keputusan terpenting adalah membekukan Masyumi di Jawa Barat, membentuk Majelis Islam atau Majelis Umat Islam dan mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). Ketua Majelis Islam dipimpin oleh SM Kartosoewiryo, Sekretaris oleh Supradja dan Bendahara dipegang oleh Sanusi Partawidjaja. Sedangkan bidang penerangan dan kehakiman masing.-masing oleh Toha Arsjad dan Abdulkudus Gozali Tusi. Adapun tugas Majelis Islam adalah melanjutkan dan memimpin perang gerilya melawan Belanda di daerah-daerah yang telah dilepaskan/hijrah TNI ke Jawa Tengah.
Sejak itulah Tentara Islam Indonesia (TII) berjuang keras menahan kehadiran tentara Belanda yang akan menguasai Jawa Barat. Pergerakan perjuangan TII dengan tentara Belanda pun akhirnya tak terelakkan.
Rakyat sebenarnya tidak ingin mengulang kejadian Bandung Lautan Api yang bermula adanya ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.
Kolonel Abdul Haris Nasution selaku KomandanDivisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehinggapertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Islam militan Muhammad Toha dan Ramdan yang bukan dari prajurit TRI itu berhasil meledakkangudang tersebut dengan granat tangan.
Aksi militer Belanda kedua 19 Desember 1948, selain tertawannya Soekarno-Hatta melahirkanberdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan presidennya Sjafruddin Prawiranegara di Padang mempunyai akibat-akibat lainnya.
TNI Divisi Siliwangi yang selama itu hijrah ke Jawa Tengah terpaksa harus kembali ke pangkalan asal di Jawa Barat. Sesampainya di Jawa Barat disambut oleh pamflet-pamflet yang dikeluarkan oleh Majelis Islam agar TNI bergabung dengan TII. Tetapi seruan itu ditolak oleh Siliwangi. Oleh karena itu Majelis Islam dengan TII-nya menganggap TNI Siliwangi sebagai 'pasukan pengacau dan pembrontak' yang memasuki wilayah kekuasaannya.
Insiden penting terjadi setelah itu 25 Januari 1949 di Antralina dekat Malangbong Garut. Sebagian staf Brigade XIV dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat, sempat terpisah dari pasukan yang mengawal mereka; dan sesampainyadi Antralina mereka ditangkap oleh kedua pihak (Siliwangi dan TII) sebagai hari dimulainya perang segitiga pertama di Indonesia antara TNI Siliwangi, TII, dan Belanda.
Dengan melihat aksi polisional Belanda kedua yang disebut agresi militer kedua dan gagalnyaperjanjian Roem Royen yang memperburuk situasi politik dan keamanan RI dan masih ada usaha untuk mempertahankan RI untuk berdaulat.
Situasi di Jawa barat semakin rumit karena 4 kekuatan militer antara TII, TNI, KNIL, dan militer Pasundan saling bertempur. Akhirnya KNIL Belanda undur diri dari pertempuran setelah adanya persetujuan Roem Royen. Sedangkan militer Pasundan bergabung dengan TNI.
Ketika PDRI dan TNI kemudian menerima Roem Royen, Kartosoewiryo tetap menolaknya dan mendorong diproklamasikannya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampang-Cigayong, Garut Jawa Barat. NII juga dikenal dengan sebutan Darul Islam (DI) yang kemudian disingkat DI/TII.
Selain karena rasa kecewa terhadap negara yang dinilai semakin sekuler, Kartosoewiryo merasa kecewa dengan Perjanjian Renville karena Soekarno terlalu tunduk pada Belanda.
Al Chaidar, dalam buku "Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia (NII) SM Kartosoewirjo" mengatakan, meski kala itu perdebatan ideologi Islam masih belum final, Kartosowirjo berusaha menerjemahkan nilai-nilai al-Quran ke dalam bentuk-bentuk praktek birokrasi dan hukum negara.
"Mungkin jika ada yang mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dia itu adalah Kartosoewirjo dan pejuang mujahidin sejati dalam Darul Islam, sementara umumnya masyarakat hanya mempraktekkan nilai-nilai ritual ibadah dan secara terbatas (bersifat individu) mempraktekkan syariah, " tulisnya.
Hanya saja, kata Al Chaidar, pendirian NII –yang awalnya merupakan perjuangan suci karena sebuah cita-cita luhur yang diilhami ajaran Islam-- kemudian, dimanipulasi sebagai "pemberontakan".*/ bersambung
Rep: Akbar Muzakki
Red: Cholis Akbar
Attachment includes the note and its objects

Minggu, 01 Mei 2011

DDII: Jika Tak Terbukti, Jangan Salahkan Masyarakat Simpulkan Kasus Bom Didesain

DDII: Jika Tak Terbukti, Jangan Salahkan Masyarakat Simpulkan Kasus Bom Didesain
( sumber : www.eramuslim.com )

Minggu, 01/05/2011 08:47 WIB

Akhir-akhir ini isu radikalisme dan fundamentalisme dijadikan wajah khas yang identik dengan ajaran Islam. Jika dahulu kita hanya mendengar, orientalis yang berbicara bahwa fundamentalisme dikaitkan pada Gerakan Islam tertentu, selangkah lebih maju, kini pengamat teroris (yang juga didikan Barat)justru menyudutkan ajaran Islam itu sendiri sebagai biang radikalisme.
Ayat-ayat Al Qur'an pun kemudian menjadi tertuduh. Wacana penegakkan Syariat Islam dan pendirian Negara Islam menjadi isu yang seksi untuk dimainkan. Media pun berlomba-lomba menghadirkan pengamat-pengamat terorisme baru dari mulai akademisi, pakar Intelejen, sampai mantan mujahidin. Padahal menurut, KH. Syuhada Bahri, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), ada aktor intelektual yang sengaja memainkan kasus ini.
"Isu ini dimanage oleh orang yang punya kepentingan," tukasnya ketika ditemui Eramuslim.com, Rabu 27/04/2011, di KantoR DDII, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Bahkan menurut beliau, jika aparat penegak hukum tidak bisa membuktikan tuduhan bahwa Islam yang menjadi dalang ini semua, kasus ini bisa jadi berbalik kepada aparat penegak hukum itu sendiri.
"Kalau polisi tidak mampu menunjukkan siapa aktor intelektual dibalik itu semua, saya khawatir nanti orang akan berkesimpulkan bahwa pelakunya adalah polisi sendiri," tambah Kyai yang aktif menurunkan ribuan Da'i ke daerah pelosok Indonesia ini.
Lalu sebenarnya siapakah dalang dibalik aksi teorisme akhir-akhir ini? Betulkah Islam sedang digembosi? Kenapa isu bom di Indonesia seakan-akan tidak ada habisnya untuk diberitakan?
Untuk mengetahui lebih jauh analisis-analisis beliau, berikut petikan wawancara Wartawan Eramuslim.com, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, bersama Juru Foto Muhammad Zakir Salmun, 26/04/2011, dengan KH. Syuhada Bahri. Selamat Membaca!
Akhir-akhir ini banyak kasus terorisme, siapa dalangnya?
Yang pasti kalau kita merujuk pada tuntunan Islam. Islam itu tidak mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kekerasan. Hanya memang orang seringkali mencoba mengklaimbahwa menyebarkan Islam dengan kekerasan.Itu kan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan orang. Namun kalau kita merujuk kepada sumber Islam, justru Islam membawa ketenangan dan ketentraman. Kita bisa lihat satu ayat dalam Al Qur'an.
Kata Allah 'Aku akan turunkan kepada kalian petunjuk dan siapa saja yang mengikuti petunjuk itu, tidak akan ada rasa takut.' Berarti dia akan mendapatkan rasa aman. Jadi Islam itu diturunkan untuk membawa keamanan dan ketenangan.
Kemudian dalam kehidupan, lahirlah sebuah ketidakadilan. Dan ketidakadilan itu dipertotonkan secara jelas. Seperti contoh Israel, sudah jelas-jelas melakukan pelanggaran. Berapa kali dia melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM berat, namun seringkali ia dibela terus oleh kelompok-kelompok dan negara-negara tertentu. Jelas iniketidakadilan.
Dulu saya masih ingat Taufik Hidayat marah ketika koknya masuk, tapi hakim garis menyatakan keluar. Taufik kemudian membanting raketnya saking kesal. Tapi yang dilakukan official membujuk Taufik agar mau melanjutkan permainan, bukan menghadapi ketidakadilan. Nah kalau cara atau pendekatanyang dilakukan seperti itu, maka ketidakadilanakan tetap langgeng dan untuk mencari sensasi menyalahkan orang, maka dimunculkanlah isu teorisme dan lain sebagainya. Dan itu bermula dari realitas ketidak adilan.
Tapi jika ada orang yang seperti itu sekarang, kemungkinan pertama dimunculkan oleh orang-oang yang tidak senang dalam rangka menyudutkan Islam. Kemungkinan kedua, dimunculkan pemahaman-pemahaman terhadap Al Qur'an dan Sunnah yang bisa melahirkan radikaslisme. Yang lebih memakai pendekatan doktriner daripada didikan.
Dan kemudian setelah itu, ini dimanage oleh orang yang punya kepentingan. Makanya kalau kita perhatikan dulu kalau berbicara terorisme itu cenderung Islam garis keras, kelompok DR Azhari dan lain sebagainya. Akan tetapi karena kelompok ini sudah hampir habis dan tidak bisa dituduh lagi mendalangi aksi terorisme, sekarang sepertinya isu ini akan digeserkan kepada NII. Dengan mengatakan ini kelompok baru tidak ada kaitannya dengan kelompok lama. Nanti jika NII habis lalu apalagi? Kalau begitu berarti ada sutradara yang kita tidak tahu siapa itu yang memanage teroris dalam rangka terus menyudutkan Islam.
Apakah Bisa Dikatakan Sutradara Itu Adalah Musuh Islam?
Kita tidak tahu, karena memang bukti itu tidak kelihatan. Tapi kalau kita melihat realitasnya, karena melihat kelompok lama sudah hampir habis, isunya digeserkan kepada kelompok lain, seperti NII KW 9. Kita juga tidak setuju cara-cara seperti itu. Tapi maksud saya penggeseran ini sepertinya mengesankan ada seorang sutradara dan aktor intelektual di belakang ini semua yang betul-betul memahami dalam rangka memanage isu ini.
Jadi Semua Ini Sudah Rangkaian?
Betul. Kalau sudah seperti itu, siapapun yang melakukan aksi terorisme, pasti Islam yang sudah dituduh. Kenapa orang-orang tidak berfikir, jangan-jangan ini keturunan tahun 1965.
Partai Komunis Indonesia, Maksud Anda?
Bisa saja, toh jika mereka yang melakukan akan digeser kepada Islam. Kan sekarang ini soal salah dan benar menjadi saru. Masalah benar dan salah itu kadang-kadang lebih ditentukan oleh media dalam menggirng opini?
Padahal NII itu kan Sudah Jelas Menyimpang? Kenapa Masih saja Dikaitkan Kepada Islam.
Itu untuk memanage isunya saja. Kita memangberpikir jika ini habis, seharusnya kan habis, tidak ada bom lagi. Tapi karena kepentingan isu terorisme ini harus tetap ada.
Lalu Tujuannya Untuk Apa?
Tujuan utamanya tidak ada lain untuk menyudutkan umat Islam. Maka itu ciri-ciri teroris selalu dikatakan celananya ngatung, berjenggot, jidatnya hitam. Kalau urusan celana ngatung banyak gadis pakai celana ngatung sekarang, berarti itu teroris juga dong?
Tapi kok Ada Salah Seorang Pemimpin Ormas Islam Terbesar Bilang Seperti Itu?
Itu yang saya katakan sudah terpengaruh bentukan opini oleh sang sutradara yang kita tidak tahu siapa itu. Kalau misalnya kita melihat sisi yang lain dimana sekarang ini ada advokasi kebebasan agama. Itu kan pelaku teror juga. Orang yang sudah mempelajari Islam, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, tapi kemudian diterjemahkan, pokoknya kalau orang gak salah tidak boleh juga dipaksa. Ini kan teror juga, bahkan lebih berbahaya karena yang diteror akidah. Kalau bom kan fisik, lha ini akidah kita.
Tapi Kenapa Pemerintah Tidak Menyebut Mereka Teroris? Kan Sudah Jelas Fatwa Haram MUI Tentang Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme?
Justru di sinilah karena dunia ini sudah kecil dan sudah kabur. Akhirnya kemudian ketika akan berbuat ada pesanan dari kanan-kiri, depan dan belakang, akhirnya pemerintah bingung mau mengambil sikap. Dan proses ini telah berjalan sekian lama bagaimana proses pendangkalan akidah berjalan dengan baik. Dahulu orang berzina masih bersembunyi, sekarang sudah direkam, bahkan bangga. Apalagi kemampuan media cukup canggih dalam mempengaruhi opini. Jadi saya melihatnya dari situ.
Jadi Ada Momentum Kelompok-kelompok Kebebasan Beragama Terkait Isu Terorisme? Apalagi Sekarang Disuarakan Isu Teorisme Hadir Karena Ingin Menegakkan Syariat Islam?
Iya. Jika cirinya adalah menegakkan syariat Islam, bagi orang Islam apa yang mesti ditegakkan? Paling tidak dalam diri kita SyariatIslam itu harus berlaku. Sama seperti dalam agama Kristen, jika orang Kristen yang baik dikatakan adalah orang Kristen yang tidak boleh menegakkan Syariat Kristen, lalu orang Islam yang baik tidak boleh menegakkan Syariat Islam? Lantas yang mau ditegakkan apa? Aturan manusia? Kalau aturan manusia tergantung kepentingan manusia itu sendiri. Kalau sudah begitu kita mau jadi apa?
Lalu Pemerintah Justru Menerapkan Siaga1, kok SBY Seperti Orang Bingung?
Saya kira itu sah-sah saja. Itu memang kewenangan mereka. Cuma yang kita sayangkan mereka tidak menghitung dengan sikap yang seperti itu akan melahirkan rasa takut di kalangan bangsa. Kalau sudah seperti itu, jangan-jangan nanti ke mesid juga takut.
Ngaji Juga Takut?
Iya. Polisi itu kan pengayom masyarakat bukanpenghibur masyarakat. Kalau menghibur itu urusan artis. Cuma kita ingin mengingatkan kalau dengan mudah memberikan reaksi yang seperti itu, nanti kredibilitas pemerintah akan menurun. Kenapa menurun? Karena tidak pernah Hari Raya Idul Fitri diterapkan siaga 1, tapi kenapa Paskah yang bagian kecil dari Kristen kok siaga 1? Karena dimana-mana yangterlihat diamankan oleh polisi adalah gereja. Ini kan sama dengan mengesankan umat Islam ingin menyerang, ingin menggangu.
Padahal Islam sudah jelas-jelas di dalam surat Al Kafiruun. "Katakanlah: "Wahai orang-orang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku".
Islam sudah diajarkan dalam agamanya untuk tidak menggangu umat agama lain dalam beribadah. Sering terjadi konflik karena masing-masing agama punya kewajiban berdakwah. Kalau berdakwah kepada internal agamanya saja tidak menjadi masalah. Ini kan sering terjadi konflik ketika agama yang satu menjadikan pemeluk agama lain menjadi sasaran dakwah agamanya.
Maka Indonesia yang multi agama ini punya kewajiban untuk membuat aturan dan semua agama harus taat dalam peraturan itu. Tapi ada yang tidak mau taat, yang tidak taat itu kadang-kadang mendapat dukungan dari luar, di negara-negara dimana menjadi tempat Indonesia ngutang. (Tertawa). Katanya kan begitu.
Jadi Negara Kita Tidak Berdaulat Dalam Konteks Keagamaan?
Iya tidak juga, tapi dalam hal-hal tertentu sepertinya kita tidak punya apa-apa. Seperti kasus Ahmadiyah Apa susahnya sih? Pakistan juga dilarang, menyatakan Ahmadiyah keluar dari Islam, tapi tidak ada apa-apa.
Jadi Bagaimana Umat Seharusnya Menyikapi Fitnah Sekarang Ini?
Kalau saya melihatnya, yang pertama umat Islam harus berusaha secara optimal bagaimana mengajarkan umat memahami Islam dengan sebenarnya. Bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat memahaminya. Bagaimana mendakwahkan Islam sebagaimana Rasulullah SAW dan sahabat melakukannya.
Kalau terjadi pelanggaran, jangan menuduh karena ini disebabkan ajaran Islam. Kalau karena salah memahami Islam, itu mungkin. Karena itu kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW memahami Islam.
Kalau ada pelanggaran, para aparat penegak hukum harus mampu membuktikan. Seperti kasus bom di Cirebon, kalau polisi tidak mampu menunjukkan siapa aktor intelektual dibalik itu semua, saya khawatir nanti orang akan berkesimpulkan bahwa pelakunya adalahpolisi sendiri. Makanya polisi dituntut untuk mampu membuktikan
Iya karena Kasus ini Juga Terlihat Didesain…
Iya karena mereka yang mendahului menuduh seperti itu kan? Nah kalau ini tidak terbukti semuanya. Kok ada bom yang ditanam di depan Kodam Jaya, kan gak mungkin secara logika. Orang yang lewat disitu saja sudah dalam pantauan penjaga, masak ada orang yang sempat menggali lobang dan menimbun bom disitu. Ini kan apa iya? Bukankah menjagaitu lebih baik daripada mengobati? Seharusnya jika ada gerak-gerik mencurigakan, sudah seharusnya cepat ditangkal. Kalau ternyata ketika menunggu mengambil tindakan jika bom baru meledak, jangan-jangan itu sebuah pekerjaan untuk menambah penghasilan.(pz)
Attachment includes the note and its objects

Sabtu, 30 April 2011

9 Ajaran NII yang Menyimpang dari Syariat IslamJ

9 Ajaran NII yang Menyimpang dari Syariat Islam
Jaka Permana

inilah.com, Bandung - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menyatakan sejak 10 tahunlalu, telah mengawasi gerak-gerik dan memerangi Negara Islam Indonesia (NII).
FUUI juga mengeluarkan fatwa soal penyimpangan gerakan NII. "Kita sudah mengeluarkan fatwa yangcukup membuat lumpuh mereka (Jaringan NII) sementara, tapi tidak bisa total karena harus ada kekuatan yang kuat melalui pemerintah untuk memutus mata rantai mereka," kata Ketua FUUI Athian Ali Da'i usai dialog NII bersama siswa dan mahasiswa se-Kota Bandung di Masjid Al-Fajr, JalanCijagra Buahbatu Kota Bandung, Sabtu (30/4/2011).
Athian mengatakan, ada sembilan poin ajaran NII yang dinilai menyimpang dari syariat Islam.
Sembilan poin penyimpangan NII yang muncul sejak 28 Januari 2002 lalu tersebut, yakni:
1. Setiap muslim yang berada di luar gerakan tersebut dituduh kafir dan dinyatakan halal darahnya.
2. Dosa karena melakukan zinah dan perbuatan maksiat lainnya dapat ditebus dengan uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
3. Tidak ada kewajiban meng-qadha saum Ramadan, tetapi cukup hanya dengan membayar uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
4. Untuk membangun sarana fisik dan biaya operasional gerakan, setiap anggota diwajibkan menggalang dana dengan menghalalkan segala cara, di antaranya menipu dan mencuri harta setiapmuslim di luar gerakan tersebut termasuk orangtuasendiri.
5. Taubat hanya sah jika membayar apa yang mereka sebut 'Shodaqoh Istigfar' dalam jumlah yang ditetapkan.
6. Ayah kandung yang belum masuk ke dalam gerakan tersebut tidak sah menikahkan putrinya.
7. Tidak wajib melaksanakan ibadah haji kecuali telah menjadi mas'ul atau pimpinan dalam jumlah yang ditetapkan.
8. Qanun asasi (aturan dasar) gerakan tersebut dianggap lebih tinggi derajatnya dibadingkan kitabsuci Alquran, bahkan tidak berdosa bila menginjak Mushaf Alquran.
9. Apa yang mereka sebut salat aktivitas, dalam pengertian melaksanakan program gerakan dianggap lebih utama daripada salat fardu.[den]
Attachment includes the note and its objects

Aneh, Pesantren Dimata-matai, NII Tidak

"Aneh, Pesantren Dimata-matai, NII Tidak"

Elin Yunita Kristanti, Fadila Fikriani Armadita |
Jum'at, 29 April 2011, 19:39

VIVAnews - Pertanyaan besar soal Negara Islam Indonesia (NII) meliputi benak pengasuh Pesantren Tebu Ireng, Salahuddin Wahid: mengapapemerintah seperti membiarkan NII?
Sebab, bukan kali ini saja kelompok NII dilaporkan melakukan pemerasan dan penipuan. "Ini kan aneh. Pesantren nggak ngapa-ngapain dimata-matai, NII yang sudah jelas di depan mata dibiarkan. Ada apa ini?" Gus Solah mempertanyakan di Gedung Departemen Agama, Jumat, 29 April 2011.
Adik Gus Dur ini mengaku, sudah tiga tahun lalu ia melaporkan persoalan NII pada Ansya'ad Mbai, Ketua Badan Nasional Penanggulangan Teror; Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), dan kepolisian.
"Mereka sudah tahu tapi kenapa dibiarkan?" tanyanya.
Menurut Gus Solah, motif dan tujuan NII KW9 (Komandemen Wilayah 9) adalah memanfaatkan orang untuk mencari uang. "Dalam setahun katanya bisa sampai ratusan miliar rupiah."
Dia juga meminta aparat untuk menguak keterkaitan Pesantren Al-Zaytun dengan NII.
Soal dugaan adanya intelijen di balik awetnya NII, Gus Solah mengatakan sudah sejumlah orang yangmengatakan hal itu, termasuk pengamat terorisme,Al Chaidar. "Ini harus dijawab pemerintah, mudah-mudahan bukan intel. Tapi kalau ini proyek intel, kan keterlaluan banget," katanya.
Sebelumnya, dugaan adanya keterkaitan intelijen dengan NII dibantah oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto. Dia juga membantah keterlibatan TNI di balik gerakan yang disebut akan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. " Kayak kurang pekerjaan saja TNI sama intelijen," ujarnya.
Kepala Badan Intelijen Negara, Sutanto, meminta masyarakat untuk tidak mengait-ngaitkan intelijen dengan Pesantren Al Zaytun. "Jangan berpikir padamasa lalu. Sekarang transparan. Masyarakat bisa melihat apa yang kami lakukan," ujar mantan Kapolri ini. (Laporan: Nur Eka Sukmawati | kd)