Tampilkan postingan dengan label Kisah para Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah para Nabi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Ibadah Haji yang Pertama


Blogspot.com
Sejarah Hidup Muhammad SAW: Ibadah Haji yang Pertama
Ilustrasi

Enam tahun berlalu sejak Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Selama itu mereka terus-menerus bekerja keras, terus-menerus dihadapkan pada peperangan. Kadang dengan pihak Quraisy, adakalanya pula dengan pihak  Yahudi. Sementara itu, Islam pun makin tersebar luas, makin kuat dan kokoh.
 
Sejak tahun pertama Hijrah, Rasulullah sudah mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Kini kaum Muslimin menghadap ke Baitullah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim di Makkah, yang kemudian diperbaharui lagi tatkala Rasulullah masih muda belia. Waktu itu, beliau juga turut mengangkat batu hitam (Hajar Aswad) ke tempatnya di ujung dinding bangunan tersebut.  

Sejak ratusan tahun yang lalu, Masjidil Haram (Masjid Suci) telah menjadi tujuan orang-orang Arab dalam melakukan ibadat. Dalam bulan-bulan suci setiap tahun, mereka datang  ke tempat itu. Setiap orang yang datang keamanannya terjamin. Apabila orang bertemu dengan musuh yang paling keras sekalipun, di tempat ini ia tak dapat menghunus pedang atau mengadakan pertumpahan darah. Akan tetapi sejak  Rasulullah dan kaum Muslimin hijrah, pihak Quraisy telah mengambil tanggung jawab dengan melarang mereka memasuki Masjidil Haram. 

Terkait hal ini, turun firman Allah pada tahun pertama Hijrah: "Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah." (QS Al-Baqarah: 217)

Selama enam tahun itu banyak sekali ayat-ayat turun berturut-turut mengenai Masjid Suci itu yang oleh Allah dijadikan tempat manusia berkumpul dan tempat yang aman. Namun pihak Quraisy menganggap Rasulullah dan pengikut-pengikutnya telah mengingkari berhala-berhala yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, memerangi dan melarang mereka datang berkunjung ke Ka'bah adalah suatu kewajiban bagi Quraisy, kalau mereka tidak mau kembali kepada dewa-dewa nenek-moyangnya.
 
Sementara itu kaum Muslimin merasa menderita karena tak dapat melakukan tugas agama yang sudah menjadi kewajiban mereka, juga sudah menjadi kewajiban nenek-moyang mereka dahulu. Disamping itu, kaum Muhajirin sendiri pun sudah merasa tersiksa dan merasa tertekan—tersiksa dalam pembuangan, tertekan karena kehilangan tanah air dan keluarga. Hanya saja, mereka semua yakin akan adanya pertolongan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada mereka.  

Dengan melarang mengadakan ziarah ke Makkah serta menunaikan kewajiban berhaji dan menjalankan umrah, sebenarnya orang-orang Quraisy sudah melakukan kekejaman terhadap Rasulullah dan para sahabat. Rumah Purba (Ka'bah) ini bukanlah milik Quraisy, melainkan milik semua orang Arab. Hanya saja orang-orang Quraisy  itu berkewajiban menjaga Ka'bah dan mengurus air buat para pengunjung, yakni yang meliputi segala macam kepengurusan Rumah Suci dan pemeliharaan pengunjung-pengunjungnya. Penyembahan berhala oleh suatu kabilah tidaklah berarti membenarkan tindakan Quraisy melarang orang berziarah dan berthawaf di Ka'bah serta melakukan segala upacara peribadatan. 

Rasulullah SAW datang mengajak orang menjauhi penyembahan berhala dan membersihkan diri dari segala noda paganisme dan kemusyrikan. Beliau mengajak  orang ke tingkat jiwa yang lebih tinggi, yakni menyembah hanya kepada Allah SWT. Oleh karena menjalankan ibadah haji dan umrah itu merupakan salah satu kewajiban agama, maka melarang penganut-penganut agama baru ini melakukan kewajiban agamanya berarti suatu tindakan permusuhan.
 
Jika Rasulullah kemudian datang juga disertai orang-orang yang sudah beriman  kepada Allah dan kepada ajarannya—yang sebenarnya mereka adalah penduduk asli  Makkah—orang-orang Quraisy khawatir rakyat jelata di Makkah akan menggabungkan diri. Dengan demikian, ini merupakan benih yang dapat mencetuskan perang saudara.
 
Disamping itu pemimpin-pemimpin Quraisy dan pemuka-pemuka Makkah tidak pernah melupakan Nabi SAW dan pengikutnya yang telah menghancurkan perdagangan mereka, merintangi jalan mereka menuju Syam. Oleh sebab itu, dalam jiwa mereka sudah tertanam benih dendam dan permusuhan. Padahal telah diketahui, bahwa Rumah Purba itu kepunyaan Allah dan kepunyaan seluruh masyarakat Arab. Dan bahwa kewajiban mereka hanyalah menjaganya dan memelihara orang-orang yang sedang berziarah.

Kaum Muslimin sudah gelisah sekali karena rindu ingin berziarah ke Ka'bah dan ingin menunaikan ibadah haji dan umrah. Pada suatu pagi, ketika mereka sedang berkumpul di masjid,tiba-tiba Nabi memberitahukan bahwa beliau telah mendapat ilham dalam mimpi hakiki, insya Allah mereka akan memasuki Masjid Suci dengan aman tenteram, dengan kepala dicukur atau digunting tanpa merasa takut.
 
Rasulullah kemudian mengumumkan kepada khalayak ramai agar berangkat menunaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah yang suci. Dikirimnya utusan-utusan kepada kabilah-kabilah yang bukan dari pihak Muslimin, dianjurkannya mereka supaya ikut bersama-sama pergi berangkat ke Baitullah, dengan aman tanpa ada pertempuran. Rasulullah juga sangat berharap agar kaum Muslimin dapat berangkat sebanyak mungkin. 

Maksud baik Nabi SAW adalah agar semua orang Arab mengetahui bahwa kepergiannya dalam bulan suci itu hendak menunaikan ibadah haji, bukan untuk berperang. Beliau hanya ingin melaksanakan salah satu kewajiban dalam agama Islam, yang juga diwajibkan di agama-agama orang Arab sebelum  itu. 

Untuk itu beliau mengajak orang-orang Arab yang tidak seagama agar juga turut melakukan kewajiban tersebut. Dengan demikian, kalaupun pihak Quraisy masih juga bersikeras hendak memeranginya dalam bulan suci, hendak melarang orang Arab untuk beribadah, maka takkan ada orang-orang Arab yang mau mendukung sikap tersebut. 

Rasulullah mengumumkan kepada semua orang supaya berangkat menunaikan ibadah haji. Kabilah-kabilah di luar Muslimin juga dimintanya berangkat bersama-sama. Tetapi banyak juga dari mereka yang masih menunda-nunda. 

Pada bulan Dzulqa'dah beliau berangkat dengan rombongan dari kaum Muhajirin dan Anshar, serta beberapa kabilah Arab yang menggabungkan diri. Jumlah mereka yang berangkat ketika itu sebanyak 1.400 orang. Rasulullah membawa binatang kurban  yang terdiri dari 70 ekor unta, dengan mengenakan pakaian ihram. Hal ini dimaksudkan agar orang mengetahui bahwa beliau datang bukan untuk berperang, melainkan khusus hendak berziarah dan mengagungkan Baitullah.
 
Ketika rombongan sudah sampai di Dzul Hulaifa, mereka menyiapkan kurban dan mengucapkan talbiyah. Binatang kurban itu dilepaskan dan di sebelah kanan masing-masing hewan itu diberi tanda, di antaranya terdapat unta Abu Jahal yang dirampas pada Perang Badar. Tak seorang pun dari rombongan haji itu yang membawa senjata selain pedang bersarung yang biasa dibawa orang dalam perjalanan. Istri Nabi yang ikut serta dalam perjalanan ini adalah Ummu Salamah.
 (republika.co.id)

Minggu, 26 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kesucian Sang Ummul Mukminin

Akhirnya, berita itu pun sampai juga kepada Ummul Mukminin Aisyah, diceritakan oleh seorang wanita Muhajirin. Ia sangat terkejut mendengarnya, hampir-hampir membuatnya pingsan. Aisyah tenggelam dalam kesedihan, dan tak mampu membendung air matanya yang berjatuhan.
Ia pergi menjumpai ibunya, dengan membawa beban perasaan yang cukup berat. "Ampun, Ibu," katanya. "Orang-orang sudah begitu rupa bicara di luar, tapi sama sekali tidak ibu katakan kepadaku."
Melihat kesedihan yang begitu menekan perasaan putrinya, sang ibu berupaya menghiburnya. Namun Aisyah, belum terhibur juga. Ia merasa lebih pedih lagi bila teringat sikap Nabi kepadanya yang terasa kaku, padahal biasanya beliau sangat lemah-lembut.
Keadaan Rasulullah sebenarnya tidak lebih enak daripada istrinya. Beliau merasa tersiksa karena percakapan orang mengenai keadaan rumah tangganya. Akhirnya tak ada jalan lain, Rasulullah harus menemui sendiri istrinya dan dimintanya supaya mengaku. Beliau masuk menemui Aisyah. Di tempat itu ada orang tuanya dan seorang wanita dari Anshar. Aisyah sedang menangis dan wanita itu juga demikian.
Rasulullah berkata, "Wahai Aisyah, engkau sudah mengetahui apa yang menjadi pembicaraan orang. Hendaknya engkau takut kepada Allah jika engkau telah melakukan suatu kejahatan seperti apa yang dikatakan orang. Bertaubatlah engkau kepada Allah, sebab Allah akan menerima segala taubat yang datang dari hamba-Nya."
Sambil menangis, Aisyah berkata, "Demi Allah, aku sama sekali tidak akan bertaubat kepada Allah seperti yang kau sebutkan itu. Aku tahu, kalau aku mengiakan apa yang dikatakan orang, sedang Allah mengetahui bahwa aku tidak berdosa, berarti aku mengatakan sesuatu yang tak ada. Tetapi kalau pun kubantah, kalian takkan percaya."
Ia diam sebentar. Kemudian sambungnya lagi, "Aku hanya dapat berkata seperti apa yang dikatakan oleh ayah Yusuf: 'Maka sabar itulah yang baik, dan hanya Allah tempat meminta pertolongan atas segala yang kamu ceritakan itu!"
Sejenak keadaan jadi sunyi. Akan tetapi begitu Rasulullah hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba beliau terlelap oleh kedatangan wahyu, seperti biasanya. Beliau segera diselimutkan dan sebuah bantal dari kulit diletakkan di bawah kepalanya.
Dalam hal ini Aisyah berkata, "Aku sendiri samasekali tidak merasa takut dan tidak peduli setelah melihat kejadian ini. Aku tahu bahwa aku tidak berdosa, dan Allah tidak akan berlaku tidak adil terhadap diriku. Sebaliknya orang tuaku, setelah Rasulullah SAW terjaga, aku kira nyawa mereka akan terbang karena ketakutan, kalau-kalau wahyu dari Allah akan memperkuat apa yang dikatakan orang."
Setelah Rasulullah terjaga, beliau duduk kembali dengan keringat bercucuran. Sambil menyeka keringat dari dahinya, beliau bersabda, "Gembirakanlah hatimu, Aisyah! Allah telah membebaskan kau dari tuduhan."
"Alhamdulillah," kata Aisyah.
Kemudian Rasulullah pergi ke masjid, dan membacakan ayat-ayat berikut ini kepada kaum Muslimin:
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."
Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.
Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.
Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar."
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar(berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui,sedang, kamu tidak mengetahui." (QS An-Nuur: 11-19)
Dalam hubungan ini pula datangnya ketentuan hukuman terhadap orang yang melemparkan tuduhan buta kepada kaum wanita yang baik-baik. "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nuur: 4)
Untuk melaksanakan ketentuan Al-Qur'an, mereka yang telah menyebarkan berita keji itu—Mistah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy, masing-masing mendapat hukuman dera delapan puluh kali.
Namun sesudah itu pun Hassan bin Tsabit kembali diterima dan mendapat kasih sayang Rasulullah. Beliau juga meminta AbuBakar agar jangan mengurangi kasih sayangnya kepada Mistah seperti yang sudah-sudah.
Sejak itu selesailah peristiwa dusta ini dan tidak lagi meninggalkan bekas di seluruh Madinah. Aisyah pun sembuh dari sakitnya, lalu kembali ke rumahnya di tempat Rasulullah, kembali dalam kedudukannya yang tinggi di hati seluruh kaum Muslimin. Dengan demikian, Nabi SAW kembali dapat mengabdikan diri kepada ajarannya dan pembinaan kaum Muslimin sebagai suatu persiapan guna menghadapi perjanjian Hudaibiyah.
(republika.co.id)

Kamis, 23 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Hasutan Sang Munafik

Berita tentang Bani Mushtaliq—yang merupakan bagian dari Khuza'ah—yang telah mengadakan permufakatan di perkampungan mereka di dekat Makkah, telah sampai pula kepada Rasulullah. Mereka sedang mengerahkan segala potensi untuk membunuh Rasulullah dengan dipimpin oleh komandan mereka, Al-Harits bin Abi Dzirar.
Rahasia ini diperoleh Rasulullah dari salah seorang warga Badui. Maka beliau pun segera berangkat sementara mereka sedang lengah, seperti biasanya bila beliau menghadapi musuh. Pimpinan pasukan Muhajirin di tangan Abu Bakar dan pimpinan pasukan Anshar di tangan Sa'ad bin Ubadah. Pihak Muslimin ketika itu sudah berada di sebuah sumber air bernama Muraisi', tidak jauh dari wilayah Bani Mushtaliq.
Kemudian Bani Mushtaliq dikepung. Pihak-pihak yang tadinya datang hendak memberikan pertolongan kini melarikan diri. Dari Bani Mushtaliq sepuluh orang terbunuh, sementara pihak Muslimin hanya seorang yang jadi korban.
Setelah terjadi saling serang dengan panah,tak ada jalan lain bagi Bani Mushtaliq selain menyerah di bawah tekanan pihak Musliminyang kuat dan bergerak cepat itu. Mereka dibawa sebagai tawanan perang, begitu juga wanita mereka, unta dan binatang ternak yang lain.
Dalam pasukan tersebut, Umar bin Al-Khathab mempunyai orang upahan yang bertugas menuntun kudanya. Selesai pertempuran orang ini berselisih dengan salah seorang dari kalangan Khazraj karena soal air. Mereka pun berkelahi dan sama-sama berteriak. Pihak Khazraj berkata, "Saudara-saudara Anshar!" Sedang orang sewaan Umar berkata pula,"Saudara-saudara Muhajirin!"
Teriakan demikian itu terdengar juga oleh Abdullah bin Ubay, yang ketika itu bersama-sama dengan orang-orang munafik turut pula dalam ekspedisi dengan harapan akan beroleh bagian rampasan perang. Dendamnya kepada pihak Muslimin dan kepada Rasulullah segera timbul. Ia kemudian memprovokasi dan mengadu-domba kaum Muslimin, dan mengajak orang-orang untuk membunuh Rasulullah SAW.
Kejadian ini sampai kepada Rasulullah, yang ketika itu baru selesai menghadapi musuh.Ketika itu Umar yang juga hadir, naik pitam mendengar berita ini. "Perintahkan kepada Bilal supaya membunuhnya," kata Umar.
Namun seperti biasa, di sini Nabi SAW memperlihatkan sikap sebagai seorang pemimpin yang sudah matang, bijaksana dan berpandangan jauh ke depan. Beliau berpaling kepada Umar lalu berkata, "Wahai Umar, bagaimana kalau sampai menjadi pembicaraan orang, dan orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri?"
Tetapi Rasulullah sudah mempertimbangkan, bahwa soalnya akan rumit sekali kalau tidak segera diambil langkah yang tegas. Oleh sebab itu, beliau memerintahkan agar kaum Muslimin segera meninggalkan tempat tersebut.
Ibnu Ubay juga mendengar berita yang disampaikan orang kepada Nabi. Ia segera menemui Nabi hendak membantah adanya berita yang dihubungkan dengan dirinya. Ia bersumpah atas nama Tuhan, bahwa dia tidak mengatakan dan tidak pernah bicara macam-macam. Namun itu tidak mengubah keputusan Rasulullah untuk meninggalkan tempat itu. Sesudah itu mereka pulang ke Madinah dengan membawa rampasan perang dan orang-orang tawanan Bani Mushtaliq, di antaranya Juwairiyah binti Al-Harits, putri pemimpin dan komandan perang yang sudah dikalahkan itu.
Kaum Muslimin sudah sampai di Madinah. Abdullah bin Ubay pun tiba di sana. Ia tidak pernah tenang, hatinya selalu gelisah, terbawa oleh rasa dengki terhadap Rasulullah dan kaum Muslimin. Ia pura-puramasuk Islam bahkan beriman, meskipun masih gigih membantah berita peristiwa di Muraisi'.
Pada waktu itulah turun firman Allah: "Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)." Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langitdan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata:"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (QS Al-Munaafiqun: 7-8)
Orang-orang yang mengira bahwa ayat-ayat itu merupakan hukuman terhadap Abdullah bin Ubay, dan Rasulullah pasti akan memerintahkan supaya ia dibunuh.
Ketika itu Abdullah bin Abdullah bin Ubay—putra Abdullah bin Ubay—yang telah menjadi seorang Muslim yang baik, datang kepada Rasulullah. "Rasulullah, saya mendengar tuan ingin supaya Abdullah bin Ubay dibunuh. Kalau memang begitu, tugaskanlah pekerjaan itu kepada saya. Akan saya bawakan kepalanya kepada tuan.Orang-orang Khazraj sudah mengetahui, tak ada orang yang begitu berbakti kepada ayahnya seperti yang saya lakukan. Saya khawatir tuan akan menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Kalau sampai orang lain itu yang membunuhnya, maka saya takkan dapat menahan diri, membiarkan orang yang membunuh ayah saya itu berjalan bebas. Tentu akan saya bunuh dia, dan berarti saya membunuh orang beriman yang membunuh orang kafir. Maka saya akan masuk neraka." Begitulah kata-kata Abdullah bin Abdullah bin Ubay kepada Rasulullah.
Tak ada kata-kata yang lebih dalam dari ucapannya itu, yang melukiskan suasana batin yang sedang gelisah. Gelisah karena pengaruh kebaktian kepada ayah dan pengaruh iman yang sungguh-sungguh, di samping harga diri sebagai orang Arab serta rasa cintanya akan kesejahteraan Muslimin.
Inilah perasaan seorang anak yang melihat ayahnya akan dibunuh. Dia tidak memohon kepada Nabi supaya ayahnya tidak dibunuh,sebab beliau adalah Nabi yang tunduk pada perintah Allah. Dan ia juga yakin akan keingkaran ayahnya. Tetapi karena khawatir akan menuntut balas kepada orang yang kelak membunuh ayahnya, maka dia sendirilah yang akan memikul beban itu. Dia sendiri yang akan membunuh ayahnya, membawa kepalanya kepada Nabi, betapa pun itu sangat menyayat hati dan perasaannya.
Namun, tahukah kita bagaimana jawaban Nabi kepada Abdullah setelah mendengar itu?
"Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita harus berlaku baik kepadanya, harus menemaninya baik-baik selama dia masih bersama dengan kita," kata Rasulullah.
Memaafkan. Sungguh indah dan agung maaf itu. Rasulullah SAW berlaku begitu baik kepada orang yang telah menghasut penduduk Madinah agar memusuhinya—bahkan hendak membunuhnya—dan memusuhi sahabat-sahabatnya. Biarlah sikap baik dan maafnya itu membekas lebih dalam daripada jika beliau menjatuhkan hukuman mati.
Sejak itu, apabila Abdullah bin Ubay mencoba bermain api, golongannya sendiri yang menegurnya, menyalahkan dan menekankan padanya bahwa sisa hidupnya itu adalah karena sikap pemurah Rasulullah.
Suatu hari, Nabi sedang berbincang-bincang dengan Umar bin Al-Khathab tentang masalah-masalah kaum Muslimin, juga menyebut-nyebut Abdullah bin Ubay, begitu pula tentang golongannya yang menegur dan menyalahkannya itu.
"Umar, bagaimana pendapatmu," kata Rasulullah. "Kalau kau bunuh dia ketika kau katakan kepadaku supaya dibunuh saja, tentu akan terjadi kegemparan. Kalau sekarang kusuruh bunuh tentu akan kau bunuh."
"Sungguh sudah saya ketahui, bahwa perintah Rasulullah lebih besar artinya daripada perintah saya," jawab Umar
(republika.co.id)

Rabu, 22 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Provokasi Uyainah bin Hishn

Usai Perang Khandaq dan setelah hukuman dijatuhkan terhadap Bani Quraizah, keadaan Rasulullah dan kaum Muslimin makin stabil. Orang-orang Arab mulai takut takut dan segan. Banyak kalangan Quraisy yang mulai berpikir-pikir untuk berdamai dengan Rasulullah.
Kaum Muslimin sekarang merasa lega setelah pihak Yahudi yang berada di sekitar Madinah dapat dibersihkan sehingga mereka sudah tidak punya arti apa-apa lagi. Mereka masih diperbolehkan tinggal di Madinah selama enam bulan lagi sesudah peristiwa itu. Mereka meneruskan hidup dalam usaha perdagangan, hidup tenteram dan sejahtera.
Rasulullah SAW kembali fokus dalam membentuk masyarakat Madani, dan mereformasi sistem sosial kemasyarakatan.Namun penyusunan kehidupan sosial secara berangsur-angsur sebagai persiapan ke arah transisi besar yang dilakukan Islam bagi umat manusia ini, tidak mengurangi kehendak pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya untuk menghancurkan Rasulullah. Namun beliau tidak kurang pula kewaspadaannya.
Enam bulan kemudian, setelah Bani Quraizah dapat dihancurkan, beliau sudah merasakan adanya suatu gerakan lain di sekitar Makkah. Untuk dapat menyergap pihak musuh, beliau pura-pura pergi ke Syam. Dengan membawa perlengkapan perang Rasulullah berangkat menuju ke arah utara.
Setelah yakin sekali bahwa Quraisy dan sekutu-sekutunya yang berdekatan tak ada yang menyadari maksudnya, beliau pun membelok ke arah Makkah dengan berjalan lebih cepat lagi. Tetapi sesampainya di perkampungan Bani Lihyan di Uran, masyarakat setempat melihatnya. Dari mereka inilah Bani Lihyan mengetahui bahwa Rasulullah menuju ke tempat mereka. Mereka pun segera berlindung ke puncak-puncak bukit dengan membawa harta-benda yang ada. Nabi tidak berhasil menyergap mereka.
Saat itulah beliau kemudian menugaskan Abu Bakar dengan membawa seratus orang pasukan menuju Usfan, sebuah desa dekat Makkah. Rasulullah sendiri kemudian kembali ke Madinah.
Baru beberapa malam saja Rasulullah kembali ke Madinah, tiba-tiba datang Uyainah bin Hishn menyerang pinggiran kota itu. Di tempat tersebut ada beberapa ekor unta yang digembalakan, dijaga oleh seorang laki-laki Muslim dan istrinya. Laki-laki itu dibunuh oleh Uyainah dan kawan-kawannya, unta diambil dan perempuan tersebut dibawa pergi. Mereka segera melarikan diri dengan perkiraan takkan mungkin dikejar oleh kaum Muslimin.
Tetapi sebenarnya, Salamah bin Amr bin Al-Akwa' sempat melihat rombongan yang sedang menggiring unta dan membawa wanita itu. Ia pun berteriak meminta bantuan sambil terus mengikuti jejak rombongan tersebut. Ia melepaskan anak panahnya ke arah mereka, sambil terus berteriak. Teriakan Salamah itu akhirnya sampai jua kepada Rasulullah. Maka beliau pun memanggil-manggil penduduk Madinah, "Ada bahaya! Ada bahaya!"
Seketika itu juga kaum Muslimin datang dari segala penjuru kota. Setelah mendapat perintah, mereka pun berangkat mengikuti jejak gerombolan Uyainah. Rasulullah sendiri mempersiapkan pasukan,lalu berangkat menyusul mereka. Beliau berhenti di sebuah gunung di bilangan Dzu Qarad.
Sementara itu, Uyainah dan anak buahnya kian mempercepat langkah, ingin segera bergabung dengan Ghatafan dan melepaskan diri dari kejaran Muslimin. Akan tetapi pasukan Madinah berhasil mencapai barisan belakang mereka. Sebagian unta itu dapat diselamatkan kembali dari tangan mereka. Tak lama kemudian Rasulullah datang menyusul dan memberikan bantuan. Wanita Muslimah yang dibawa oleh gerombolan Uyainah itu pun selamat.
Ada beberapa orang dari sahabat-sahabat Nabi—yang terdorong oleh amarah—ingin terus mengejar Uyainah, tetapi dilarang oleh Rasulullah. Sebab beliau tahu bahwa Uyainah dan anak buahnya telah sampai ketempat Ghatafan dan berlindung kepada mereka.
Beberapa bulan kemudian, terjadi pertempuran dengan Bani Mushtaliq di Muraisi'. Suatu peperangan yang sangat penting antara kedua belah pihak—Muslimin dan musuhnya—di mana pertempuran terjadi dengan sengit. Peristiwa ini menimbulkan malapetaka dan hampir menjalar dalam tubuh kaum Muslimin, seandainya Rasulullah tidak segera mengambil langkah tegas dan meyakinkan.
Pada saat itu pula Rasulullah menikah dengan Juwairiyah binti Al-Harits, putri pemimpin Bani Mushtaliq. Dan yang paling menegangkan di antara semua ini adalah terjadinya Hadits Ifq—peristiwa bohong—tentang diri Aisyah, Ummul Mukminin.
(republika.co.id)

Selasa, 21 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Mundurnya Pasukan Ahzab

Berita penggabungan Quraizah dengan pihak Ahzab itu sampai juga kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan khawatir sekali akan akibat yang mungkin terjadi. Rasulullah segera mengutus Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus dan Sa'ad bin Ubadah, pemimpin Khazraj, disertai pula oleh Abdullah bin Rawahah dan Khawat bin Jubair dengan tujuan untuk mempelajari duduk perkara yang sebenarnya.
Tetapi sesampainya para utusan itu ke sana, mereka melihat keadaan Quraizah justru lebih jahat lagi dari apa yang pernah mereka dengar semula. Para utusan itu meminta mereka agar menghormati perjanjian yang ada. Namun mereka menolak, bahkan pihak Yahudi kini mau melancarkan serangan kepada Rasulullah dan kaum Muslimin.
Utusan-utusan Rasulullah pulang. Mereka melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam. Kekhawatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Madinah kini melihat pihak Quraizah telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar khayal dan ilusi saja. Terbukti Bani Quraizah sekarang sudah memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepadamereka.
Juga terbukti sekembalinya Huyay bin Akhtab yang memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraizah telah tergabung dengan pihak Quraisy dan Ghatafan—jiwa mereka berubah dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Bani Quraizah telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal pasukan Ahzab selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum Muslimin.
Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah pasukan di bawah pimpinan Ibnu Al-A'war As-Sulami didatangkan dari jurusan sebelahatas wadi, pasukan yang dipimpin oleh Uyaynah bin Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit.
Dalam peristiwa inilah turun ayat: "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncanganyang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari." (QS Al-Ahzab: 10-13)
Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui Ka'ab, pemimpin Bani Quraizah dengan pesan, "Kami sudah cukuplama tinggal di tempat dan mengepung orang itu. Menurut hemat kami, besok kamu harus sudah menyerbu Muhammad dan kami di belakangmu."
Tetapi utusan Abu Sufyan itu kembali dengan membawa jawaban pemimpin Quraizah, "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."
Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak Quraizah, "Cari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok. Sebab besok Muhammad harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar. Dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Muhammad!"
Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraizah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.
Malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir menderu-deru diselingi kilat yang sambung-menyambung.Kini timbul rasa takut dalam hati pasukan Ahzab. Terbayang oleh mereka bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaihah bin Khuwailid maju seraya berteriak, "Muhammad telah mendahului menyerang kita. Selamatkan dirimu!"
"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Bani Quraizah sudah tidak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan hati dari mereka. Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka lebih baik pulang sajalah. Aku pun akan berangkat pulang."
Di tengah-tengah angin badai yang masih bertiup kencang, rombongan itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin, diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya.
Setelah pihak Ahzab berangkat pulang, Rasulullah kembali memikirkan keadaannya. Allah telah menyelamatkannya dari musuh yang selama ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun demikian, pihak Yahudi dapat saja mengulang kembali peristiwa semacam itu—berkhianat dan membuka benteng. Mereka dapat saja mencari kesempatan lain,tidak lagi pada musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang merupakan bantuan Allah dalam menghancurkan pihak musuh.
Disamping itu, kalaupun tidak karena perginya pihak Azhab, dan peristiwa perpecahan yang telah terjadi di pihak Yahudi, niscaya Bani Quraizah sudah siap-siap pula turun ke Madinah, akan menghantam dan memberikan segala macam bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin. Atas perbuatannya itu Bani Quraizah harus dibasmi.
Lalu Ali diberangkatkan lebih dulu ke perkampungan Bani Quraizah dengan membawa bendera. Melihat kemunculan Ali, kaum Yahudi malah memperoloknya dan memaki-maki Rasulullah dengan kata-kata yang menyakitkan.
Bani Quraizah tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh seperti perbentengan Bani Nadzir. Kendatipun benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka tidak akan dapat bertahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan bahan makanan kini berada di tangan penduduk Madinah, setelah pihak Ahzab meninggalkan tempat tersebut.
Kemudian Rasulullah memerintahkan supaya tempat itu dikepung. Pengepungan itu terjadi selama 25 malam. Sementara itu terjadi pula beberapa kali bentrokan dengan saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu Bani Quraizah sama sekali tidak berani keluar dari benteng mereka.
Setelah merasa lelah dan yakin bahwa mereka tidak akan dapat tertolong dari bencana, dan pasti akan jatuh ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan lama, mereka mengutus orang kepada Rasulullah dengan permintaan agar mengirimkan Abu Lubabah kepada mereka untuk dimintai pendapat.
Abu Lubabah adalah warga Anshar golongan Aus yang termasuk sahabat baik mereka. Begitu melihat kedatangan Abu Lubabah, mereka memberikan sambutan yang luar biasa. Kaum wanita dan anak-anak segera meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Abu Lubabah merasa iba melihat mereka.
"Abu Lubabah," kata mereka kemudian."Apa kita harus tunduk kepada keputusan Muhammad?"
"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan ke lehernya. "Kalau tidak berarti potong leher."
Beberapa buku sejarah Nabi menuliskankan,bahwa Abu Lubabah merasa sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.
(republika.co.id)

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Konspirasi Yahudi dan Quraisy

Tiba waktunya kaum Muslimin kini merasakan hidup yang lebih tenang di Madinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu banyak mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang mereka peroleh dari peperangan selama ini. Meskipun dalam banyak hal, kejadian ini telah membuat mereka lupa terhadap masalah-masalah pertanian dan perdagangan.
Namun disamping ketenangan itu, Rasulullah selalu waspada terhadap segala tipu-muslihat dan gerak-gerik musuh. Mata-mata selalu disebarkan ke seluruh pelosok jazirah, mengumpulkan berita-berita sekitar kegiatan masyarakat Arab yang hendak berkomplot terhadap dirinya. Dengan demikian beliau selalu siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan diri.
Baik Quraisy maupun Yahudi Bani Qainuqa', Yahudi Bani Nadzir, demikian juga kabilah Ghatafan, Hudhail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan Syam, saling menunggukapan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya itu akan binasa. Kalaupun mereka akan mendapat kesempatan, masing-masing berharap akan dapat mengadakan balas dendam terhadap laki-laki yang sekarang datang mencerai-beraikan masyarakat Arab dengan kepercayaan mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Makkah, mengungsi dalam keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman yang telah memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun sekarang ini telah menjadi orang kuat. Sehingga kota-kota dan kabilah-kabilah Arab yang terkuat sekalipun merasa segan kepadanya.
Rencana hendak menghasut orang-orang Arab adalah yang paling terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka Bani Nadzir. Untuk melaksanakan rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka pergi menemui Quraisy di Makkah. Mereka terdiri dari Huyay bin Akhtab, Salam bin Abi Al-Huqaiq dan Kinanah bin Al-Huqaiq, bersama-sama dengan beberapa orang dariBani Wa'il, Hawadzah bin Qais dan Abu Ammar.
Dalam hal ini, Allah berfirman: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi sebahagian dari Al-kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya." (QS An-Nisaa': 51-52)
Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang sepaham dengan dia, juga menemui kabilah Ghatafan yang terdiri dari Qais Ailan, Bani Fazara, Asyja' Sulaim, Bani Sa'ad dan Asad, serta semua pihak yang ingin menuntut balas kepada Muslimin. Mereka ini aktif sekali mengerahkan orang supaya menuntut balas dengan menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi Rasulullah.
Kelompok-kelompok yang sudah diorganisasikan oleh pihak Yahudi itu kini berangkat hendak memerangi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Pihak Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan dengan 4.000 orang prajurit, 300 ekor kuda dan 1.500 pasukan unta. Pimpinan brigade yang disusun di Darun Nadwa diserahkan kepada Utsman bin Talhah. Ayah orang ini tewas terbunuh ketika memimpin pasukan di Uhud.
Bani Fazara yang dipimpin oleh Uyaina bin Hishn bin Hudzaifah telah siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja' dan Murrah masing-masing membawa 400 prajurit. Pihak Murrah dipimpin oleh Al-Harits bin Auf dan dari pihak Asyja' oleh Misiar bin Rukhailah. Menyusul pula Sulaim, biang-keladi peristiwa Bi'r Ma'unah, dengan 700 orang. Datang pula Bani Sa'ad dan Asad menggabungkan diri. Jumlah mereka seluruhnya kurang lebih 10.000 orang. Pasukan Ahzab ini, berangkat menuju Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan.
Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Rasulullah dan kaum Muslimin di Madinah. Mereka merasa gentar. Kini seluruh kabilah Arab sudah bersatu-padu hendak menumpas dan memusnahkan mereka, dengan perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah perang Arab.
Salman Al-Farisi, salah seorang sahabat yang banyak mengetahui seluk-beluk peperangan, yang belum dikenal di daerah-daerah Arab, menyarankan supaya di sekitar Madinah itu digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran ini segera dilaksanakan oleh kaum Muslimin.
Ketika menggali parit itu, Rasulullah ikut bekerja. Beliau turut mengangkat tanah dan sambil terus memberi semangat. Dengan bekerja giat terus-menerus, penggalian parit itu selesai dalam waktu enam hari. Dinding-dinding rumah yang menghadap ke arah datangnya musuh, yang jaraknya dengan parit itu kira-kira duafarsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di belakang parit dikosongkan. Wanita dan anak-anak ditempatkan dalam rumah-rumah yang telah diperkuat. Di samping parit diletakkan batu-batu agar dapat dilemparkan sebagai senjata pada saat dibutuhkan.
Tatkala pihak Quraisy dan sekutu-sekutunya datang dengan harapan akan menemui Rasulullah di Uhud, ternyata tempat itu kosong. Mereka meneruskan perjalanan ke Madinah, tapi mereka dikejutkan oleh adanya parit. Dengan perasaan jengkel, mereka lalu bermarkas didaerah Ruma, sedangkan Ghatafan serta pengikut-pengikutnya dari Najd, bermarkasdi Dhanab Naqamah.
Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat, bahwa tidak mungkin mereka menerobos parit itu. Dengan demikian selama beberapa hari mereka hanya saling melemparkan anak panah. Abu Sufyan sendiri dan pengikut-pengikutnya yakin bahwa akan sia-sia saja mereka berlama-lama menghadapi kota Madinah dengan paritnya itu, karena tidak akan dapat mereka terobos. Apalagi pada waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luar biasa disertai angin badai yang bertiup kencang, sehingga sewaktu-waktu dikhawatirkan turun hujan lebat.
Semua itu tidak diperhitungkan oleh Huyay.Ia khawatir akan akibatnya. Jalan lain tidak ada. Ia harus mempertaruhkan nasib terakhir. Kepada pihak Ahzab itu ia membisikkan, bahwa ia dapat meyakinkan Bani Quraizah supaya membatalkan perjanjian perdamaiannya dengan Muhammad SAW dan pihak Muslimin. Dan selanjutnya akan menggabungkan diri dengan mereka, dengan demikian terputuslah semua perbekalan dan bala bantuan kepada Nabi Muhammad, dan dari segi lain, jalan masuk ke Madinah akan terbuka.
Quraisy dan Ghatafan merasa gembira atas keterangan Huyay tersebut. Huyay sendiri cepat-cepat berangkat hendak menemui Ka'ab bin Asad, orang yang berkepentingan dengan adanya perjanjian Bani Quraizah tersebut.
Tetapi begitu mengetahui kedatangan Huyay, Ka'ab menutup pintu bentengnya, dengan perhitungan bahwa pembelotan Bani Quraizah terhadap Rasulullah dan pembatalan perjanjian secara sepihak kemudian menggabungkan diri dengan musuhnya, adakalanya memang akan menguntungkan pihak Yahudi. Itu kalau pihak Muslimin dapat dihancurkan. Tetapi jika pihak Ahzab kalah, maka Yahudi Bani Quraizah akan hancur lebur. Sungguhpun begitu Huyay terus juga berusaha, hingga akhirnya pintu benteng itu dibuka oleh Ka'ab.
(republika.co.id)

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Pengkhianatan Bani Quraizah

Setelah Abu Lubabah pergi, Ka'ab bin Asad—pemimpin Bani Quraizah—menyarankan mereka agar menerima agama Muhammad dan memeluk Islam. Maka harta-benda dan anak-anak mereka akan hidup lebih aman.
Namun saran itu ditolak. "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat, tidak akan menggantikannya dengan yang lain," kata mereka.
Ka'ab juga menyarankan supaya kaum wanita dan anak-anak dibunuh saja, dan mereka boleh melawan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dengan pedang terhunus tanpa meninggalkan suatu beban di belakang. Biar nanti Tuhan menentukan, kalah atau menang. Kalau mereka hancur, tidak ada lagi turunan yang akan dikhawatirkan. Sebaliknya, kalau menang mereka akan memperoleh wanita-wanita dan anak-anak lagi.
Bani Quraizah kemudian mengirimkan utusan kepada Rasulullah, mengusulkan bahwa mereka akan pergi ke Adhri'at dengan meninggalkan harta-benda mereka.Tetapi usul ini ditolak. Mereka harus tundukkepada keputusan semula. Dalam hal ini mereka lalu mengirim orang kepada suku Aus, meminta Sa'ad bin Mu'adz sebagai lawan berunding. Mata mereka seolah-olah tertutup, sehingga lupa akan kedatangan Sa'ad saat pertama kali mereka melanggar perjanjian, lalu diberi peringatan. Juga tatkala mereka memaki-maki Muhammad SAW di depan Sa'ad serta mencerca kaum Muslimin tidak pada tempatnya.
Sa'ad lalu membuat persetujuan dengan mereka. Setelah persetujuan ditetapkan, Bani Quraizah diperintahkan supaya keluar dan meletakkan senjata. Keputusan ini mereka laksanakan. Selanjutnya Sa'ad memutuskan bahwa mereka yang melakukan kejahatan perang dijatuhi hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan anak-anak ditawan.
Mendengar keputusan itu Rasulullah bersabda, "Demi Dzat yang menguasai diriku. Keputusanmu itu diterima oleh Allah dan oleh orang-orang beriman, dan dengan itu aku diperintahkan."
Setelah itu, Sa'ad keluar ke sebuah pasar di Madinah. Diperintahkannya supaya digali beberapa buah parit di tempat itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa dan di sana leher mereka dipenggal, dan di dalam parit-parit itu mereka dikuburkan. Sebenarnya Bani Quraizah tidak menduga akan menerima hukuman demikian dari Sa'ad bin Mu'adz.
Bahkan tadinya mereka mengira Sa'ad akan bertindak seperti Abdullah bin Ubay terhadap Bani Qainuqa', yang dibolehkan pergi dari Madinah. Mungkin Sa'ad teringat, bahwa kalau pihak Ahzab yang menang karena pengkhianatan Bani Quraizah itu, maka kaum Muslimin pasti akan habis dibantai. Maka balasannya seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
Terbunuhnya Bani Quraizah itu adalah karena ulah Huyay bin Akhtab, meskipun dia sendiri juga terbunuh. Dia telah melanggar janji yang dibuat oleh golongannya sendiri, Bani Nadzir, yang olehRasulullah telah dikeluarkan dari Madinah dengan tiada seorang pun yang dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima.
Tetapi tindakannya menghasut pihak Quraisy dan Ghatafan, kemudian menyusun kekuatan dengan masyarakat dan kabilah-kabilah Arab untuk memerangi Rasulullah. Hal ini memperbesar permusuhan antara golongan Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka merasa belum puas sebelum dapat menghabisi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Huyay juga mengajak Bani Quraizah melanggar perjanjian dan meninggalkan sikapnya yang netral.
Sekiranya Bani Quraizah menolak dan tetap bersikap netral, tentu mereka takkan mengalami nasib seburuk itu. Huyay juga datang ke benteng Bani Quraizah—setelah kepergian pihak Ahzab—dan mengajak mereka melawan kaum Muslimin. Sekiranyasejak awal Bani Quraizah bersedia menerima keputusan Rasulullah serta mengakui kesalahannya yang telah melanggar janjinya sendiri, niscaya pertumpahan darah dan pembunuhan tidak akan terjadi.
Akan tetapi, permusuhan itu sudah berurat berakar dalam jiwa Huyay dan kemudian menular pula ke dalam hati orang-orang Quraizah, sehingga Sa'ad bin Mu'adz sendiri sebagai kawan sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup, keadaan tidak akan pernah tenteram. Mereka akan kembali menghasut golongan Ahzab, agar mengerahkan kabilah-kabilah dan orang-orang Arab supaya memerangi kaum Muslimin dan membantai mereka hingga habis. Keputusan tegas Sa'ad terdorong oleh sikaphendak mempertahankan diri, dengan pertimbangan bahwa eksistensi atau lenyapnya orang-orang Yahudi itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.
Kaum wanita, anak-anak serta harta-benda Bani Quraizah oleh Nabi dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin, setelah seperlimanya dikeluarkan. Setelah itu, Sa'adbin Mu'adz mengirimkan tawanan-tawanan Bani Quraizah itu ke Najd.
Adanya serbuan Ahzab serta hukuman yang telah dijatuhkan terhadap Bani Quraizah, telah memperkuat kedudukan Muslimin di Madinah. Orang-orang munafik sudah tidak bersuara lagi. Seluruh masyarakat dan kabilah-kabilah Arab mulai berbicara tentang kekuatan dan kekuasaan Muslimin, disamping posisi dan kewibawaan Rasulullah.
Namun ajaran Islam bukan hanya untuk Madinah saja, melainkan buat seluruh dunia. Jadi Nabi dan para sahabatnya masihharus terus berdakwah dan berjihad menjalankan perintah Allah, mengajak manusia menganut agama yang benar, dengan terus membendung setiap usaha yang hendak melanggarnya.
(republika.co.id)

Jumat, 17 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Pernikahan dan Istri-Istri Nabi

Rasulullah menikah dengan Khadijah dalam 23 tahun, usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka yang begitu tampan,gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu, Khadijah adalah tetap istri satu-satunya, selama 28 tahun, sampai melampaui usia 50-an.
Nabi Muhammad hidup hanya dengan Khadijah selama 17 tahun sebelum kerasulannya dan 11 tahun sesudah itu. Dan pada waktu itu pun sama sekali tak terlintas dalam pikirannya untuk menikah lagi dengan wanita lain. Baik pada masa Khadijah masih hidup, ataupun sebelum beliau menikah dengan Khadijah, belum pernah terdengar bahwa beliau termasuk orang yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita, padahal waktu itu mereka belum memakai hijab.
Setelah Khadijah wafat, Rasulullah menikah dengan Saudah binti Zam'ah, janda Sakran bin Amr bin Abd Syams. Tidak ada suatu sumber yang menyebutkan, bahwa Saudah adalah seorang wanita cantik, berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi pengaruh duniawi dalam pernikahan itu.
Masalahnya, Saudah adalah istri orang yang termasuk mula-mula masuk lslam, termasuk orang-orang yang dalam membela agama Allah, turut memikul pelbagai macam penderitaan. Ia dan suaminya turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan Nabi berhijrah ke seberang lautan itu. Jika setelah itu Rasulullah kemudian menikahinya, adalah untuk memberikan perlindungan hidup dan untuk memberikan tempat setaraf dengan Ummul Mukminin.
Adapun Aisyah dan Hafshah adalah putri-putri dua orang pembantu dekatnya, Abu Bakar dan Umar. Segi inilah yang membuat Rasulullah mengikatkan diri dengan kedua orang itu, dengan ikatan semenda perkawinan dengan putri-putri mereka. Sama juga halnya beliau mengikatkan diri dengan Usman dan Ali dengan jalan menikahkan kedua putrinya kepada mereka.
Kalaupun benar kata orang mengenai Aisyah serta kecintaan Rasulullah kepadanya, maka cinta itu timbul sesudah pernikahan, bukan ketika menikah. Gadis itu dipinangnya kepada orang tuanya tatkala ia berusia sembilan tahun dan dibiarkannya dua tahun sebelum pernikahan dilangsungkan. Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa beliau sudah mencintainya dalam usia yang masih begitu kecil. Hal ini diperkuat lagi oleh pernikahan beliau dengan Hafshah binti Umar yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya sendiri sebagai saksi.
Suatu ketika Umar menemui Hafshah, putrinya. "Anakku," kata Umar, "Engkau menentang Rasulullah SAW sampai ia merasa gusar sepanjang hari? "
Hafshah menjawab, "Memang kami menentangnya."
"Engkau harus tahu," kata Umar."Kuperingatkan engkau akan siksaan Tuhan serta kemurkaan Rasul-Nya. Anakku, engkau jangan terpedaya oleh kecintaan orang yang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dengan kecintaan Rasulullah SAW. Engkau sudah tahu bahwa Rasulullah tidak mencintaimu, dan kalau tidak karena aku, engkau tentu sudah diceraikan."
Telah kita lihat bukan, bahwa Rasulullah menikahi Aisyah atau Hafshah bukan karena cintanya atau karena suatu dorongan berahi, tapi karena hendak memperkokoh ikatan masyarakat Islam yang baru tumbuh dalam diri dua orang pembantu dekatnya itu. Sama halnya ketika beliau menikahi Saudah, maksudnya supaya pejuang-pejuang Muslimin itu mengetahui, bahwa kalau mereka gugur dalam membela agama Allah, maka istri dan anak-anak mereka tidak akan dibiarkan hidup sengsara dalam kemiskinan.
Pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Khuzaimah dan Ummu Salamah mempertegas lagi hal tersebut. Zainab adalah istri Ubaidah bin Harits bin Muthalib yang syahid dalam Perang Badar. Dia tidak cantik, hanya terkenal karena kebaikan hatinya dan suka menolong orang, sampai ia diberi gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin). Umurnya pun sudah tidak muda lagi. Hanya setahun atau dua tahun sesudah itu, ia pun meninggal. Setelah Khadijah, dialah satu-satunya istri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.
Sedangkan Ummu Salamah sudah banyak anaknya sebagai istri Abu Salamah, yang wafat akibat luka yang dideritanya dalam Perang Uhud. Empat bulan setelah kematian Abu Salamah, Rasulullah meminang Ummu Salamah. Tetapi wanita ini menolak dengan lemah lembut karena ia sudah banyak anak dan sudah tidak muda lagi. Namun akhirnya, ia setuju dinikahi Rasulullah yang bertindak mengurus dan memelihara anak-anaknya.
Dari apa yang sudah diuraikan di atas, apakah yang dapat disimpulkan oleh penelitian sejarah yang murni? Yang dapat disimpulkan ialah bahwa Rasulullah menganjurkan orang beristeri satu dalam kehidupan biasa. Beliau menganjurkan cara demikian seperti contoh yang sudah diberikannya selama masa Khadijah.
Untuk itu, Allah berfirman: "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS An-Nisaa': 3)
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisaa': 129)
Ayat-ayat ini turun pada akhir-akhir tahun kedelapan Hijrah, setelah Rasulullah menikah dengan semua istrinya, maksudnya untuk membatasi jumlah istri itu sampai empat orang, sementara sebelum turun ayat tersebut pembatasan tidak ada. Ini juga yang telah menggugurkan kata-kata orang, bahwa Rasulullah membolehkan untuk dirinya sendiri dan melarang untuk orang lain. Kemudian turun ayat yang memperkuat diutamakannya satu istri dan menganjurkan demikian karena dikhawatirkan takkan berlaku adil, dengan penekanan bahwa berlaku adil itu tidak akan disanggupi.
Demikian pula dengan pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy, bekas istri Zaid, bekas budak dan anak angkatnya. Awalnya Rasulullah masih ragu dan cemas dengan perguncingan orang, karena beliau menikahi istri bekas budaknya.
Namun Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." (QS Al-Ahzab: 37)
Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam segala hal, yang oleh Allah telah diperintahkan dan telah dibebankan agar menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Beliau tidak takut akan apa yang dikatakan orang dalam hal perkawinannya dengan istri bekas budaknya itu. Takut kepada manusia tak ada artinya dibandingkan dengan takutnya kepada Allah dalam melaksanakan segala perintah-Nya. Beliau menikahi Zainab supaya menjadi teladan akan apa yang telah dihapuskan Allah mengenai hak-hak yang sudah ditentukan dalam hal bapak dan anak angkat.
Hubungan Nabi Muhammad dengan istri-istrinya adalah hubungan yang sungguh terhormat dan agung, seperti dalam keterangan Umar bin Al-Khathab. Dan contoh semacam itu akan banyak dijumpai dalam sejarah kehidupan beliau. Semua itu akan menjadi contoh yang berbicara sendiri, bahwa belum ada seorang pun yang dapat menghormati wanita seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad. Belum ada seorang pun yang dapat mengangkat martabat wanita ke tempat yang layak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
(republika.co.id)

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Pelajaran Perang Uhud

Pihak Muslimin sangat sibuk memerhatikan soal rampasan perang.Di tengah keaadaan yang demikian, tiba-tiba Khalid bin Walid berseru sekuat-kuatnya, dan membalikkan anak buahnya ke belakang tentara Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul mundur kini kembali maju dan menyerang pasukan Muslimin dengan pukulan maut yang hebat.Bencana pun berbalik.
Barisan kaum Muslimin sudah centang-perenang, persatuan sudah pecah-belah, pahlawan-pahlawan teladan telah dihantam oleh pihak Quraisy. Mereka yang tadinya berjuang dengan perintah Allah hendak mempertahankan iman, sekarang berjuang hendak menyelamatkan diri sendiri dari cengkraman maut.
Pada saat kondisi sedemikian kacau, muncul rumor bahwa Rasulullah telah terbunuh. Begitu Quraisy mendengar Nabi Muhammad terbunuh, mereka terjun mengalir ke jurusan tempat di mana tadi beliau berada. Masing-masing ingin supaya dialah yang membunuhnya atau ikut memegang peran di dalamnya.
Ketika itulah Muslimin yang dekat sekali dengan Nabi segera mengelilinginya, menjaga dan melindunginya. Iman mereka tergugah kembali, keberanian mereka makin bertambah bilamana mereka melihat batu yang dilemparkan Quraisy itu telah mengenai diri Nabi.
Wajah Rasulullah terluka, gigi gerahamnya tanggal. Dua keping lingkaran rantai topi besi yang menutupi wajah Rasulullah menembusi pipinya. Batu-batu yang menimpa Rasulullah itu dilemparkan oleh Utbah bin Abi Waqqash. Rasulullah dan para sahabat mundur dan mendaki Gunung Uhud, dengan demikian mereka dapat menyelamatkan diri dari kejaran musuh.
Ketika balatentara Islam sibuk mendaki Gunung Uhud, tiba-tiba Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya sudah berada di atas bukit. Tetapi Umar bin Al-Khathab dan beberapa orang sahabat Rasul segera menyerang dan berhasil mengusir mereka. Sementara itu, kaum Muslimin sudah makin tinggi mendaki gunung.
Namun keadaan mereka sudah begitu payah dan letih, sampai-sampai Nabi SAW melakukan shalat Zuhur sambil duduk—juga karena luka-luka yang dideritanya. Demikian juga kaum Muslimin yang lain, mereka shalat di belakang Rasulullah sambil duduk pula.
Sebaliknya pihak Quraisy, sangat girang dengan kemenangan ini. Mereka merasa telah membalas dendam kekelahan Perang Badar. Seperti kata Abu Sufyan, "Yang sekarang ini untuk peristiwa Badar. Sampai jumpa lagi tahun depan!"
Tetapi istrinya, Hindun binti Utbah, tidak cukup puas hanya dengan kemenangan, dan tidak cukup hanya dengan tewasnya Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia dan rombongannya menyiksa mayat-mayat Muslimin; mereka memotongi telinga dan hidung mayat kaum Muslimin. Hindun juga membedah perut Hamzah, mengeluarkan jantungnya, lalu mengunyahnya.
Selesai menguburkan mayat-mayatnya sendiri, Quraisy pun pergi. Kini kaum Muslimin kembali ke garis depan guna menguburkan mayat-mayat pasukan Islam.Kemudian Rasulullah mencari jenazah Hamzah, pamannya.
Ketika Rasulullah melihat kondisi jenazah pamannya, yang dianiaya dan dibedah perutnya, beliau sangat sedih. "Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti engkau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini," ujarnya.
Lalu katanya lagi, "Demi Allah, kalau pada suatu ketika Allah memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab."
Namun Allah SWT menurunkan firman-Nya: "Dan kalau kamu mengadakan pembalasan,balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan." (QS An-Nahl: 126-127)
Rasulullah kemudian memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan beliau melarang orang-orang melakukan penganiayaan. Diselubunginya jenazah Hamzah dengan mantelnya lalu dishalatkannya.
Nabi SAW kemudian memerintahkan supaya korban-korban itu dikuburkan di tempat mereka menemui syahid, demikian pula dengan jenazah Hamzah. Setelah itu, kaum Muslimin berangkat pulang ke Madinah, dibawah pimpinan Rasulullah, dengan meninggalkan 70 orang syuhada.
Kepedihan terasa melecut hati mereka; karena kehancuran yang mereka alami setelah mendapat kemenangan. Semua ini terjadi karena pasukan pemanah melanggar perintah Nabi. Sementara kaum Muslimin terlalu sibuk mengurusi rampasan perang dari pihak musuh.
(republika.co.id)

Selasa, 14 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kecamuk Perang Uhud

Pagi-pagi sekali, kaum Muslimin berangkat menuju Uhud. Mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu berada di belakang mereka. Selanjutnya Muhammad SAW mengatur barisan para sahabat. Lima puluhorang barisan pemanah ditempatkan di lereng-lereng gunung.
"Lindungi kita dan belakang, sebab kita khawatir mereka akan mendatangi kita daribelakang. Dan bertahanlah kalian di tempatitu, jangan ditinggalkan! Kalau kalian melihat kami dapat menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka, kalian jangan meninggalkan tempat. Dan jika kalian melihat kami diserang jangan membantu. Tugas kalian adalah menghujani kuda mereka dengan panah, sebab dengan serangan panah kuda itu takkan dapat maju," pesan Rasulullah.
Selain pasukan pemanah, yang lain tidak diperbolehkan menyerang siapa pun, sebelum beliau memberi perintah menyerang.
Adapun pihak Quraisy, mereka pun sudah menyusun barisan. Barisan kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedang sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Bendera diserahkan kepada Abdul Uzza Talhah bin Abi Talhah. Wanita-wanita Quraisy sambil memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah barisan itu. Kadang mereka di depan barisan, kadang di belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun binti Utbah, isteri AbuSufyan.
Kedua belah pihak sudah siap bertempur. Masing-masing telah siap mengerahkan pasukan. Yang selalu teringat oleh Quraisy adalah peristiwa Badar dan korban-korbannya. Yang selalu teringat oleh kaum Muslimin Allah SWT serta pertolongan-Nya. Rasulullah berpidato memberi semangat dalam menghadapi pertempuran itu. Beliau menjanjikan pasukannya akan mendapat kemenangan apabila mereka tabah.
Perang pun pecah. Budak-budak Quraisy dan Ikrimah bin Abu Jahal yang berada di sayap kiri, berusaha hendak menyerang Muslimin dari samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka dengan batu sehingga Abu Amir dan pengikut-pengikutnya lari tunggang-langgang.
Ketika itu juga Hamzah bin Abdul Muthalib berteriak, "Mati, mati!" Lalu terjun ke tengah-tengah tentara Quraisy itu.
Pekik takbir menggema dari kalangan Muslimin seraya melancarkan melancarkan serangan. Pihak Quraisy pun tak mau kalah,mereka menyerbu pula ke tengah-tengah pertempuran. Darah mereka mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka yang tewas setahun lalu di Badar.
Dua kekuatan yang tidak seimbang itu, baik jumlah orang maupun perlengkapan, kini berhadap-hadapan. Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya cuma satu, balas-dendam! Dendam yang tak pernah pupus sejak Perang Badar. Sedang jumlah yang lebih kecil, motifnya adalah mempertahankan akidah, iman dan agama Allah.
Mereka yang menuntut balas itu terdiri dari orang-orang yang lebih kuat, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar. Di belakang mereka, kaum wanita turut pula mengobarkan semangat. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa budak-budak dan menjanjikan akan memberikan hadiah yang besar apabila mereka dapat membalaskan dendam atas kematian ayah, saudara, suami atau orang-orang yang dicintai lainnya, yang terbunuh di Badar.
Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang pahlawan Arab terbesar dan paling berani. Ketika terjadi Perang Badar dialah yang telah menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak sedikit orang-orang yang dicintainya yang telah ditewaskan. Seperti juga dalam Perang Badar, dalam Perang Uhud ini pun Hamzah adalah singa dan pedang Tuhan (Syaif Allah) yang tajam. Ia berhasil menewaskan Arta bin Abd Syurahbil, Siba' bin Abdil Uzza Al-Ghubsyani, dan setiap musuh yang dijumpainya, tidak luput dari sabetan pedangnya.
Hindun telah menjanjikan Wahsyi—orang Abisinia dan budak Jubair bin Mut'im—akan diberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu juga Jubair bin Mut'im sendiri, tuannya, yang pamannya terbunuh di Badar, berkata padanya, "Kalau Hamzah paman Muhammad itu kau bunuh, maka engkau kumerdekakan!"
Wahsyi pun berhasil membunuh Hamzah, paman Rasulullah. Hamzah, si pedang Allah,menjemput syahid di Uhud, terkena sambaran tombak Wahsyi. "Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-tengah orang banyak sedang membabati orang dengan pedangnya. Tombak kuayunkan-ayunkan, lalu kulemparkan, dan mengenai sasaran di bawah perut Hamzah. Kubiarkan tombak itu sampai dia tewas. Sesudah itu kuhampiri dia dan kuambil tombakku, lalu kembali ke markas. Aku diam di sana, sebab sudah tak ada tugas lain selain itu. Aku membunuh Hamzah agar dimerdekakan dari perbudakan. Dan sesudah aku pulang ke Makkah, ternyata aku dimerdekakan," kata Wahsyi menuturkan kisahnya membunuh Hamzah.
Pertempuran berat sebelah itu, antara 700 orang Muslim melawan 3.000 kaum Musyrik Quraisy berhasil dimenangkan kaum Muslimin. Kemenangan Muslimin dalam Perang Uhud pada pagi hari itu sebenarnya adalah suatu mukjizat. Adakalanya orang menafsirkan, bahwa kemenangan itu disebabkan oleh kemahiran Muhammad SAW mengatur barisan pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan berkuda dengan anak panah sehingga mereka tidak dapat maju dan tidak dapat menyergap Muslimin dari belakang. Ini memang benar. Tetapi juga tidak salah, kegagahan dan keberanian 600 orang Muslimin yang menyerbu pasukan yang jumlahnya lima kali lipat lebih banyak itu pun karena motifnya adalah iman.
Inilah yang membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian pimpinan. Barangsiapa yang telah beriman kepada kebenaran, maka ia takkan goncang oleh kekuatan materi, betapapun besarnya. Semua kekuatan batil yang digabungkan sekalipun, takkan dapat menggoyahkan kebulatan tekad itu. Oleh sebab itulah, pasukan berkuda Quraisy kocar-kacir. Dan hampir-hampir pula wanita-wanita merekapun akan menjadi tawanan perang yang hina dina.
Kaum Muslimin kini mengejar musuh sampai mereka meletakkan senjata di mana saja asal jauh dari bekas markas mereka. Kaum Muslimin kini mulai memperebutkan rampasan perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka lupa, dan mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi.
Hal ini dilihat pula oleh pasukan pemanah yang oleh Rasul diminta jangan meninggalkan tempat di gunung itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang. Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, satu sama lain mereka berkata, "Kenapa kita masih tinggal di sini dan tidak berbuat apa-apa. Allah telah menghancurkan musuh kita. Mereka, saudara-saudara kita itu, sudah merebut markas musuh. Ayo kita kesana, ikut mengambil rampasan perang!"
Yang seorang lagi tentu menjawab,"Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan meninggalkan tempat kita ini? Sekalipun mereka diserang!"
Yang pertama berkata lagi, "Rasulullah tidak menghendaki kita tinggal di sini terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu."
Lalu mereka berselisih. Saat itu juga, tampil Abdullah bin Jubair, berpidato agar mereka jangan melanggar perintah Rasul. Namun sebagian besar tidak patuh. Mereka pun meninggalkan pos pertahanan. Yang tertinggal hanya beberapa orang saja, tidak sampai sepuluh orang.
Seperti kesibukan Muslimin yang lain, para pemanah yang ikut bergegas meninggalkan posisinya itu pun sibuk pula dengan harta rampasan. Pada saat itulah Khalid bin Walid mengambil kesempatan, sebagai komandan kavaleri Makkah, ia mengerahkan pasukannya ke tempat pasukan pemanah, dan berhasil menghancurkannya.
(republika.co.id)

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Menjelang Perang Uhud

Sejak Perang Badar, pihak Quraisy tidak pernah tenang lagi. Lebih-lebih karena kesatuan Zaid bin Haritsah telah berhasil mengambil alih jalur perdagangan mereka ketika hendak pergi ke Syam melalui jalan Irak.
Orang-orang Quraisy kemudian sepakat menyiapkan angkatan perang guna memerangi Muhammad, dengan memperbesar jumlah dan perlengkapannya. Selanjutnya tenaga kabilah-kabilah akan dikerahkan dan agar ikut serta bersama mereka, menuntut balas terhadap kaum Muslimin. Tak hanya kaum pria, pihak Quraisy juga membawa pula kaum wanita mereka, dipimpin oleh Hindun, istri Abu Sufyan.
Hindun adalah sosok yang paling ingin membalas dendam, karena dalam peristiwa Badar itu, ayahnya, saudaranya dan orang-orang yang dicintainya tewas terbunuh. Keberangkatan Quraisy dengan tujuan Madinah yang disiapkan dari Dar An-Nadwa itu terdiri dan tiga brigade.
Brigade terbesar dipimpin oleh Talhah bin Abi Talhah terdiri dari 3.000 orang. Kecuali 100 orang saja dari Tsaqif, selebihnya dari Makkah, termasuk pemuka-pemuka, sekutu-sekutu serta golongan Ahabisynya. Perlengkapan dan senjata yang mereka bawa tidak sedikit, dengan 200 pasukan berkuda dan 3.000 unta, di antaranya 700 orang berbaju besi.
Sementara itu, Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi, yang juga berada di tengah-tengah mereka, dengan teliti dan seksama memerhatikan semua kejadian itu. Di samping kesayangannya pada agama nenek-moyangnya dan golongannya, Abbas juga mempunyai rasa solider dan sangat mengagumi Muhammad.
Hal inilah yang mendorongnya—tatkala diketahuinya keputusan Quraisy akan berangkat dengan kekuatan yang begitu besar—menulis surat menggambarkan segala tindakan, persiapan dan perlengkapan mereka. Surat itu diserahkannya kepada seseorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada Nabi. Dan orang ini pun sampai di Madinah dalam tiga hari, dan surat itu pun diserahkan kepada Rasulullah.
Pasukan Quraisy pun berangkat dan sampai di Abwa'. Ketika melalui makam Aminah binti Wahab—ibunda Rasulullah SAW—timbul kedengkian beberapa orang yang berpikiran picik. Terpikir oleh mereka akan membongkarnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka menolak perbuatan itu agar kelak tidak menjadi kebiasaan Arab."Jangan menyebut-nyebut soal ini. Kalau ini kita lakukan, Bani Bakar dan Bani Khuza'ah akan membongkar juga kuburan mayat-mayat kita," kata mereka.
Quraisy meneruskan perjalanan sampai di 'Aqiq, kemudian mereka berhenti di kaki gunung Uhud, dalam jarak lima mil dari Madinah.
Orang dari Ghifar yang diutus oleh Abbas bin Abdul Muthalib telah sampai di Madinah.Ia kemudian menyerahkan surat tersebut kepara Rasulullah, yang kemudian dibacakan oleh Ubay bin Ka'ab. Rasulullah meminta isi surat itu dirahasiakan, dan sang utusan kembali ke Madinah langsung menemui Sa'ad ibnu Al-Rabi' di rumahnya. Diceritakannya apa yang telah disampaikan Abbas kepadanya dan ia juga meminta supaya hal itu dirahasiakan. Akan tetapi istri Sa'ad yang sedang berada dalam rumah waktu itu, mendengar juga percakapan mereka. Dengan demikian, sudah tentu hal itu bukan rahasia lagi.
Dua orang anak-anak Fudzala, yaitu Anas dan Mu'nis, oleh Muhammad ditugaskan menyelidiki keadaan Quraisy. Menurut pengamatan mereka, ternyata Quraisy sudah mendekati Madinah. Kuda dan unta mereka dilepaskan di padang rumput sekeliling Madinah. Di samping dua orang itu, Rasulullah juga mengutus Hubab ibnu Al-Mundhir bin Al-Jamuh.
Setelah keadaan mereka itu disampaikan kepadanya seperti dikabarkan oleh Abbas, Nabi SAW sangat terkejut. Ketika kemudian Salamah bin Salamah keluar, ia melihat barisan depan pasukan kuda Quraisy sudah mendekati Madinah, bahkan sudah hampir memasuki kota. Salamah segera kembali dan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada warga Madinah.
Pihak Aus dan Khazraj, begitu juga semua penduduk Madinah merasa khawatir sekali akan akibat serbuan ini, yang dalam sejarah perang, Quraisy belum pernah mengadakan persiapan sebaik itu. Pemuka-pemuka Muslimin di Madinah malam itu berjaga-jaga dengan senjata di masjid untuk menjaga keselamatan Nabi. Sepanjang malam itu seluruh kota dijaga ketat.
Keesokan harinya, orang-orang terkemuka dari kalangan Muslimin dan mereka yang pura-pura Islam—kaum munafik seperti disebutkan dan dilukiskan pula oleh Al-Qur'an—oleh Nabi diminta berkumpul untuk bermusyawarah. Nabi SAW berpendapat akan tetap bertahan dalam kota dan membiarkan Quraisy di luar kota. Apabila mereka mencoba menyerbu masuk kota, maka penduduk kota ini akan lebih mampu menangkis dan mengalahkan mereka.
Abdullah bin Ubay bin Salul mendukung pendapat Nabi itu. Para sahabat Rasulullah—baik Muhajirin ataupun Anshar—juga sependapat dengan Rasulullah. Akan tetapi pemuda-pemuda yang bersemangat yang belum mengalami Perang Badar, juga orang-orang yang pernah ikut Perang Badar—dan mendapat kemenangan disertai hati yang penuh iman, bahwa tak ada sesuatu kekuatan yang dapat mengalahkan mereka—lebih suka keluar menyongsong musuh di tempat mereka berada.
Pendapat ini mendapat dukungan luas. Mereka semua mengatakan bahwa bila Tuhan memberikan kemenangan kepada mereka atas musuh, itulah yang mereka harapkan. Dan itu pula kebenaran yang telah dijanjikan Allah kepada Rasul-Nya. Kalaupun mereka mengalami kekalahan dan mati syahid, mereka akan mendapat surga. Kata-kata yang menanamkan semangat keberanian dan mati syahid ini, sangat menggetarkan hati mereka.
Setelah jelas bahwa suara terbanyak ada pada pihak yang mau menyerang dan menghadapi musuh di luar kota, Rasulullah berkata kepada mereka, "Saya khawatir kalian akan kalah."
Tetapi mereka tetap ngotot ingin menyerbu. Tak ada jalan lain, Rasulullah pun mengikuti pendapat mereka. Cara musyawarah ini sudah menjadi undang-undang dalam kehidupan beliau. Dalam menyikapi tiap masalah, beliau tidak mau bertindak sendiri, kecuali yang sudah diwahyukan Allah kepadanya.
Apabila suatu masalah yang dibahas telah diterima dengan suara terbanyak, maka hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau karena ada maksud-maksud tertentu. Sebaliknya ia harus dilaksanakan, tapi orang yang akan melaksanakannya harus pula dengan cara yang sebaik-baiknya dan diarahkan ke suatu sasaran yang yang akan mencapai sukses.
Dan Muhammad SAW berangkat memimpin kaum Muslimin menuju Uhud. Di Syaikhan beliau berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya belum dikenal. Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay. Nabi bersabda, "Jangan meminta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, sebelum mereka masuk Islam!"
(republika.co.id)

Kamis, 09 Juni 2011

Perang-Perang di Zaman Nabi SAW

Perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi atas ghazwah (gazwah) dan sariyah (sariyyah). Ghazwah adalah perang yang dipimpin oleh Nabi SAW, sedangkan sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi SAW. Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat tentang jumlah ghazwah dan sariyah. Ada beberapa ghazwah dan sariyah dalam sejarah Islam, antara lain sebagai berikut :
Ghazwah   Sariyah
al-Asyirah2 H   Abdullah bin Jahsy2 H
Badar2 H   Abdullah bin Unais3 H
Bahran3 H   Abdurrahman bin Auf6 H
Bani Lihyan6 H   Abu Auja'7 H
Bani Mustaliq6 H   Abu Bakar7 H
Bani Qainuqa2 H   Abu Salam3 H
Banu Quraizah5 H   Abu Ubaidah bin Jarrah6 H
Bani Sulaim3 H   Ali bin Abi Thalib10 H
Buwat2 H   Bani Asad4 H
Daumat al-Jandal4 H   Basyir bin Sa'ad al-Ansari7 H
Fath al-Makkah6 H   Bi'ru Ma'unah6 H
al-Gabah6 H   Ghalib bin Abdullah al-Laisi7 H
Hamra' al-Asad3 H   Hamzah bin Abdul Muthalib1 H
Hunain8 H   Hasma6 H
Khaibar7 H   Ijla' Bani Nadir4 H
Khandaq5 H   Ka'b bin Umair al-Gifari8 H
al-Kidr3 H   Muhammad bin Maslamah6 H
Mu'tah8 H   Qirdah3 H
Safwan2 H   Raji'4 H
Sawiq2 H   Sa'd bin Abi Waqqas1 H
Tabuk9 H   Ubaidah bin Haris1 H
Ta'if8 H   Ukasyah6 H
Uhud3 H   Umar Bin Khattab7 H
Widan2 H   Zaid bin Haritsah6 H
Zat ar-Riqa'3 H   Zat ar-Riqa'4 H
Zi Amr3 H  


Perang Badar (17 Ramadan 2 H)
Perang Badar terjadi di Lembah Badar, 125 km selatan Madinah. Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslim Madinah dan musyrikin Quraisy Mekah. Peperangan ini disebabkan oleh tindakan pengusiran dan perampasan harta kaum muslim yang dilakukan oleh musyrikin Quraisy. Selanjutnya kaum Quraisy terus menerus berupaya menghancurkan kaum muslim agar perniagaan dan sesembahan mereka terjamin. Dalam peperangan ini kaum muslim memenangkan pertempuran dengan gemilang. Tiga tokoh Quraisy yang terlibat dalam Perang Badar adalah Utbah bin Rabi'ah, al-Walid dan Syaibah. Ketiganya tewas di tangan tokoh muslim seperti Ali bin Abi Thalib. Ubaidah bin Haris dan Hamzah bin Abdul Muthalib. adapun di pihak muslim Ubaidah bin Haris meninggal karena terluka.

Selasa, 07 Juni 2011

Kelembutan Nabi SAW


oleh: Prof dr Achmad Satori Ismail

Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa'nah masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar,
"Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang."
Umar bin Khattab RA langsung berdiri dan menghunus pedangnya.
"Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya."
Rasulullah SAW berkata,
"Bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik."
Tiba-tiba pendeta Yahudi berkata,
"Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat.Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu,kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin."
Itulah kemuliaan akhlak Rasulullah, sang teladan yang telah dipuji Allah sebagai nabi dengan akhlaknya berada di atas semua akhlak yang agung. Kelembutan dan kesabaran dijadikan sebagai manhaj dalam berdakwah. Ucapannya lembut, sikapnya lembut, dan perilakunya dalam semua aktivitas dakwahnya adalah kelembutan, kecuali sikap yang membutuhkan ketegasan.
Kelembutan merupakan akhlak yang mampu mendekatkan manusia kepada Islam. Allah menjelaskan,
"Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS Ali Imran 159).
Kekerasan dan perilaku anarkis akan merugikan Islam dan umatnya. Beliau selalu menyeru umatnya agar bersikap lembut.
Beliau bersabda,
"Sikap hati-hati (tidak tergesa-gesa), kesederhanaan, dan perilaku lembut adalah bagian dari 24 ciri kenabian." (HR at-Tirmidzi).
Rasul SAW pernah mengingatkan Siti Aisyahsaat bersikap kasar.
"Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan danAllah memberi dampak positif pada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan. Dan tiada kelembutan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan biladicabut kelembutan dari sesuatu akan menjadikannya buruk." (HR Muslim). Rasulullah juga menegaskan bahwa barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan. (HR Muslim).
Umat Islam wajib bersikap lembut dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan. Banyak musuh-musuh Allah yang selalu memprovokasi agar umat Islambersikap ekstrem, bertindak anarkis, dan melakukan teror.
Sikap dan perilaku tidak terpuji itu, akan menzalimi dan mendorong non-Muslim antipati terhadap Islam.
(republika.co.id)

Rabu, 01 Juni 2011

Jangan halangi aku membela Baginda Rasulullah SAW.

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkankuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”
Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedihkarena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”
Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”
Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”
Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakniketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriyang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”
Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”
Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkansemua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata.Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba IbnuMas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannyaair ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”
Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”
“Beliau tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkankuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih luka parah, Nasibah….”
“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”
Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkankuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”
Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedihkarena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”
Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”
Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”
Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakniketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriyang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”
Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”
Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkansemua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata.Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba IbnuMas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannyaair ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”
Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”
“Beliau tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkankuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih luka parah, Nasibah….”
“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”
(dari berbagai sumber)