Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

Misteri Kehancuran kota sodom dari kacamata Sains

Kisah ini merupakan salah satu cerita tertua di dunia. Kisah dua kota yang namanya identik dengan dosa, Sodom dan Gomora.
Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka menjadi perumpamaan tentang Bejatnya Moral yang harus dibayar mahal.

Penggambaran kehidupan manusia di dua kota ini betul betul hampir sangat relevan dewasa ini, dimana berbagai tindakan yang sangat jauh dengan hakekat mereka sebagai makhluk ciptaan, bobroknya moral,seakan-akan tidak memiliki batasan. Dimana Perintah-perintah dari Sang Pencipta dan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat sudah seakan menjadi dongeng turun temurun yang hanya sebatas mereka dengar.
Sekitar 4000 tahun yang lalu, Sodom dan Gomora menyandang reputasi tersebut. Walau Kitab suci tak pernah menyebutkan apa perbuatan mereka secara mendetil sehingga bisa bernasib seperti itu. Walaupun demikian, Kitab suci sangat jelas memberikan penggambaran mengenai hukuman yang mereka terima dari Sang Pencipta.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanahyang terbakar dengan bertubi-tubi." (QS Huud ayat 82)

Jika cerita mengenai Sodom dan Gomora memang terjadi seperti apa yang dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil, maka sangat mungkin terjadi di suatu lahan kosong terpencil di sebelah lautan tanpa kehidupan. Tapi, dimanakah tempat itu?

Seperti yang kita ketahui, banyak tempat yang dikisahkan didalam kitab suci sulit untuk ditentukan dimana lokasi yang sebenarnya. Contohnya didalam Kitab Taurat yang membahas tentang lima kota lembah. Sampai saat ini kita hanya bisa berspekulasi bahwa kelima kota tersebut berada disekitar laut mati.
Cerita mengenai Sodom dan Gomora ini terjadi di zaman Ibrahim a.s, berabad-abad sebelum Musa a.s keluar dari tanah Mesir.
Tak ada yang menemukan petunjuk kota seperti itu pernah ada, sebab tak pernah ada orang yang sungguh-sungguh mencari-nya. Hingga pada tahun 1924, Ahli purbakala bernama William Albright berangkat menuju ke Laut Mati untuk melakukan penelitian disana. Beberapa orang yang bersamanya jelas mencari keberadaan sisa-sisa Sodom dan Gomora. Mereka mengitari pantai tenggara dari laut mati hingga mereka ahirnya tiba di sutus purbakala Bab-edh-dhra.
Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra), merupakan situs jaman perunggu, namun tak ada petunjuk jika situs itu meupakan suatu kota. Tampaknya daerah itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun Albright tak memiliki sumber daya untuk menggalinya.
Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang kembali ke situs tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala Paul Lapp memimpin penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk salah satu penggalinya.
Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar khas jaman perunggu yang mereka gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter.Disini mereka juga menemukan makam berisi perhiasan emas dan menggali lebih 700 tembikar yang merupakan hadiah penguburan termasuk tempat parfum kecil dan banyak benda lain seperti kain.
Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman kuno itu dengan Sodom.
Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah, iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.

Sodom dan Gomora dari segi Sanis

Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira (Gomora).
Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM. Laut Mati merupakan pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.
Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar belerang tinggi.
Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana geologi dengan urutan :
1. Pergerakan Sesar Moab
2. Gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota,
3. Erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,
4. Kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang.
Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Luth dan dua putrinya .
Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan gunung garam dan gunung lumpur.
(situslakalaka.blogspot.com)

Sabtu, 11 Juni 2011

Tokoh Islam Dunia

Perjalanan Agama Islam sejak awal sampai kini telah melahirkan banyak tokoh penting di berbagai bidang ilmu. Sejalan dengan pesatnya perkembangan berbagai bidang pada abad XIX-XX, Islam melahirkan sejumlah tokoh, antara lain sebagai berikut.
NAMAMASA_HIDUPASALKETOKOHAN
Abduh, Muhammad1849-1905MesirPemikir, teolog, dan pembaru Islam
Abdul Aziz bin Sa'ud1880-1953Arab SaudiRaja pertama Arab Saudi
Abdurrahman, Tunku1903-1990MalaysiaTokoh kemerdekaan Malaysia dan sekjen pertama OKI
Abdus Salam1926-1996PakistanIlmuwan muslim pertama peraih Nobel Fisika, pendiri ICTP (International Centre for Theorical Physics)
Agha Khan Muhammad Syah al-Hali1877-1957IndiaImam Syiah Ismailiyah, penulis, Aga Khan ketiga)
Ahmad Khan, Sir Sayid1817-1898IndiaPembaru Islam
Ali Abdul Raziq1888-1966MesirUlama dan hakim syar'I (hakim agama)
Ali Pasya, Muhammad1765-1849MesirPendiri negara Mesir Modern
Ali Syari'ati1933-1977IranSosiolog, ahli politik, dan ahli syariat
Alusi, Syihabudin Ahmad1802-1854IrakUlama, mufti, dan pemikir
Ameer Ali1849-1928IndiaPembaru, sejarawan, pengacara, dan guru besar hukum Islam
Aqqad, Abbas Mahmud1889-1964MesirJurnalis, kritikus, dan sastrawan
Arkoun, Mohammed1928AljazairPemikir Islam kontemporer di bidang teologi, filsafat dan hukum
Ataturk, Mustafa Kemal1881-1938TurkiPendiri dan presiden pertama Republik Turki
Faisal bin Abdul Aziz1906-1975Arab SaudiRaja Arab Saudi (memerintah 1964-1975)
Farid Wajdi, Muhammad1875-1954MesirWartawan, pengarang, ahli fikih, dan pembaru pemikiran Islam
al-Faruqi, Ismail Raji1921-1986PalestinaIlmuwan, penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan, pendiri Pusat Pengkajian Islam Temple University, Philadelphia (Amerika Serikat)
al-Fatani, Daud bin Abdullah1718-1847ThailandAhli fikih, tasawuf dan ilmu kalam
Faziur Rahman1919-1988PakistanCendekiawan, penulis, aktivis muslim, dan guru besar University of Chicago (Amerika Serikat)
Gamal Abdul Nasser1918-1970MesirNegarawan dan presiden Mesir (1956-1970)
Haekal, Muhammad Husain1888-1956MesirSejarawan, sastrawan, dan negarawan
Hasan al-Banna1906-1949MesirTokoh pergerakan dan pembaruan di Mesir
Hassan Hanafi1934MesirFilsuf hukum Islam dan guru besar Filsafat Universitas Cairo
Inayat Khan, Hazrat1882-1927IndiaMusikus dan sufi
Iqbal, Sir Muhammad1873-1938PakistanPenyair, filsuf, dan pembaru Islam
al-Jabati1753-1822MesirSejarawan dan Penulis
Jamaluddin al-Afghani1838-1897AfganistanPembaru Islam, aktivis politik, jurnalis, dan penggerak pan-Islamisme
Jauhari, Tantawi1870-1940MesirCendekiawan dan ahli filsafat
Jinnah, Muhammad Ali1876-1948PakistanPendiri negara Pakistan
Kemal Pasya, Namik1840-1888TurkiPenyair, pengarang, wartawan, penulis drama, dan tokoh Usmani Muda
Khomeini, Ayatullah Ruhollah1900-1989IranPendiri Republik Islam Iran
Mahfouz, Naguib1911MesirSastrawan Muslim, pemenang Nobel sastra 1988
Mahmud II1785-1839TurkiSultan ke-33 kerajaan Usmani
Malcolm X (Malik asy-Syabbaz)1925-1965Amerika SerikatPemimpin muslim Afro-Amerika, tokoh Nation of Islam
al-Manfaluti, Mustafa Lutfi1876-1924MesirPerintis sastra Arab Modern, sastrawan dan nasionalis Mesir
al-Maraghi, Muhammad Mustafa1881-1945SudanUlama, guru besar tafsir, dan mantan rektor Universitas al-Azhar
Maryam Jamilah1934Amerika SerikatPenulis dan intelektual muslim
Maududi, Abu A'la1903-1979IndiaUlama dan pemikir Islam
Mernissi, Fatima1940MarokoTokoh feminimisme Islam
Mutanhari, Murtada1919-1979IranUlama dan filsuf
Naquib al-Attas, Muhammad1931MalaysiaAhli filsafat, pendiri The International Institute of Islamic Thought an Civilization (ISTAC), dan pemikir Islamisasi ilmu pengetahuan
Nasr, Husein1933IranPemikir IslaSyiah kontemporer
Nawawi al-Jawi1813-1897IndonesiaUlama, penulis, dan pendidik asal Banten, menetap di Mekah
Qasim Amin1865-1908MesirPemikir dan toko pembaru, terutama tentang peran dan emansipasi wanita
Qutub, Sayid1906-1966MesirCendekiawan dan tokoh Ikhwanul Muslimin
Rasyid Rida, Muhammad1865-1935MesirPemikir dan ulama pembaru
el-Saadawi, Nawal1931MesirPendiri Arab Women's Solidarity Association (AWSA)
Sabiq, Sayid1915MesirUlama di bidang fikih
Shuon, Frithjof1907SwissAhli perbandingan agama dan pemimpin aliran filsafat perenial, nama muslimnya Muhammad Isa Nuruddin
asy-Sya'rawi, Mutawalli1912MesirUlama dan mantan menteri agama Mesir
Syaltut, Mahmud1893-1963MesirUlama dan pemikir Islam dari Universitas al-Azhar
Syaukani, Muhammad bin Aliw. 1834YamanAhli hadis, fikih, usul fikih, dan mujtahid
Syauqi, Ahmad1869-1932MesirSastrawan Arab modern dan kolumnis surat kabar
Thabathaba'I, Muhammad Husin1903-1981IranMufasir, hakim, ahli syariah dan ilmu esoteris, perancang evolusi Iran
Thaha Husein1889-1973MesirSastrawan, pemikir, dan pembaru
at-Turabi, Hasan1932SudanPolitikus, pendidik, dan tokoh Islamisasi Sudan

Referensi
  • Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
  • Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
  • Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
  • Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
  • Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
  • Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
  • alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
  • Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
  • Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
  • M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
  • Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
  • Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999. 
(http://al-quran.bahagia.us/)

Kamis, 09 Juni 2011

Mesjid-Mesjid bersejarah di Nusantara

MASJID adalah tempat ibadah umat Islam. Dalam kaitannya dengan penyebaran Islam di Indonesia, masjid mempunyai peran yang sangat penting. Berikut ini adalah beberapa masjid bersejarah di Indonesia serta waktu pendiriannya.

Masjid Bersejarah di SUMATERA
Masjid Raya Baiturrahman (1607-1636)Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam
Masjid Raya al-Ma'shun (1906)Medan, Sumatera Utara
Masjid Raya al-Osmani (1854-1858)Labuhan Deli, Sumatera Utara
Masjid Raya Labuhan Medan (1824)Deliserdang, Sumatera Utara
Masjid Jamik Ismailiyah (1884)Delliserdang, Sumatera Utara
Masjid AziziLangkat, Sumatera Utara
Masjid Raya Syekh Burhanuddin (1670)Padang Pariaman, Sumatera Barat
Masjid Raya Pakandangan (1865)Padang Pariaman, Sumatera Barat
Masjid Gadang Koto Nan Empat (1840)Payakumbuh, Sumatera Barat
Masjid Raya Lima Kaum (1710)Tanah Datar, Sumatera Barat
Masjid Syekh Mangsiangan (1800)Koto Laweh, Sumatera Barat
Masjid Bingkudu (1823)Agam, Sumatera Barat
Masjid Raya Taluk (1870)Agam, Sumatera Barat
Masjid Raya Ganting (1805)Padang, Sumatera Barat
Masjid Raya Pulau Penyengat (1803)Kepulauan Riau, Riau
Masjid Agung Pondok Tinggi (1874)Kerinci, Jambi
Masjid Agung Sultan Machmud Badaruddin (1724-1758)Palembang, Sumatera Selatan

Masjid Bersejarah di KALIMANTAN
Masjid Sulatan Abdurrahman (1823)Pontianak, Kalimantan Barat
Masjid Kesultanan Sambas (1885)Sambas, Kalimantan Barat
Masjid Agung Amuntai (1875)Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan
Masjid Su'ada (1908)Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan
Masjid Shirotol Mustaqim (1891)Samarinda, Kalimantan Timur
Masjid Kasimuddin (1901-1925)Bulungan, Kalimantan Timur

Senin, 06 Juni 2011

Barus dan Sejarah Peradaban Islam yang Terlupakan

Mungkin, sebagian di antara kita masih ada yang merasa asing dengan nama "Barus"-sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera. Tapi, tahukah kita bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di Indonesia? Dan sadarkah kita bahwa karena ketidaktahuan kita, kita melupakannya?

Sekilas tentang Barus

Sebelum menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Barus merupakan kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, Barus disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur (1).
Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Pada zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh.
Lalu kenapa Barus di sebut sebagai kota tertua? Karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan, dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir'aun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi (2).
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis bahwa Syaikh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi dan terdapat pula makam Syaikh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira 7 meter. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu. (3)
Sebuah tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D'extreme-Orient (EFEO) Perancis yang berkerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China,Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun, dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur. (4) hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh dan sebagainya, hidup dengan berkecukupan di kota Barus dan sekitarnya. (5)

Kapan Islam masuk ke Barus?

Masuknya cahaya Islam ke kota Barus juga tak terlepas dari peran Banda Aceh yang rute pelayaran perniagaannya telah dikenal sejak zaman dahulu oleh para pedagang Arab, India dan China.
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara – terutama Sumatera dan Jawa – dengan Cina diakui oleh sejarawan G.R Tibbetts. Tibbetts meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dan jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan nusantara saat itu. "Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi". (6)
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M – hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah saw. menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah secara terang-terangan kepada bangsa Arab – di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Buddha Sriwijaya.
Disebutkan pula bahwa di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak-pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajianal-Qur'an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren,umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Selain itu, mereka juga memiliki kedudukan yang baik dan mempunyai pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Buddha Sriwijaya). Bahkan, kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Semakin lama,semakin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan, ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai. (7)
Bahkan, Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi pada tahun 1000 M menulis sebuah kitab yang menggambarkan betapa di zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim. Perkampungan itu berdiri di dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hanya karena hubungan yang teramat baik dengan dunia Islam, Sriwijaya memperbolehkan orang-orang Islam yang sudah ada di wilayahnya sejak lama hidup dalam damai dan memiliki perkampungannya sendiri, dimana di dalamnya berlaku syari'at Islam. (8)
Temuan lain mengenai Barus juga diperkuat oleh Prof. Dr. HAMKA, yang menyebutkan bahwa, seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, Hamka menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Nusantara. Hamka juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika. (9)
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Mekkah sendiri pada abad itu (dengan mempergunakan kapal laut dan transit lebih dulu di Tanjung Comorin, India) konon memakan waktu 2,5-hampir 3 tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2,5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 M lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam, setidaknya memerlukan waktu 5-10 tahun. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para sahabat Rasulullah saw., segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu .
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut,orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shib , sedangkan Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni' . Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni ', utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 M atau 31 H dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan tiga kali berganti kepimimpinan. Maka dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepimimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644 -656 M). hanya berselang 20 tahun setelah Rasulullahsaw. wafat (632 M). (10)
Dari bukti-bukti di atas, dapatlah dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut:
• Rasulullah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, 2,5 tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M).
• Lalu selama 3 tahun lamanya berdakwah secara diam-diam – periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M) dan setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Mekkah ke seluruh Jazirah Arab.
• Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (yang disebut Barus).
Jadi, hanya 9 tahun sejak Rasulullah saw. memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. (11)
Inilah, yang oleh banyak sejarawan dikenal dengan Teori Mekkah. Sehingga Teori Gujarat yang berasal dari Orientalis Snouck Hurgronje terbantah dengan sendirinya.
Dan Barus akan tetap menjadi sejarah peradaban Islam yang tak akan terlupakan bagi siapa saja yang mengetahuinya.
( Penulis, Sarah Larasati Mantovani )
Footnote:
(1) http://id.wikipedia.org/wiki/Barus,_Tapanuli_Tengah, data-data ada yang di ambil dari buku Rizki Ridyasmara, Gerilya Salib di Serambi Mekkah: Dari Zaman Portugis hingga Paska Tsunami, Pustaka al-Kautsar, 2006, Jakarta.
(2) Ibid , hlm. 4-5. Lihat Akhir Perjalanan Sejarah Barus , KOMPAS, 1 April 2005.
(3) Lihat Naskah Jawi yang dialihtuliskan dan dipetik dari kumpulan naskah Barus dandijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yangdisebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul " Asal Toeroenan Radja Barus ". Seksi Jawi pertama berjudul " Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus" , lihat juga Sejarah Raja-Raja Barus , Ecole Franéaise d'Extréme-Orient, 1988 dan A Kingdom of Words: Language and Power in Sumatra , Oxford University Press, 1999.
(4) Ibid , hlm. 5.
(5) Ibid , hlm. 6. Lihat Sagimun M.D., Peninggalan Sejarah, Masa Perkembangan Agama-Agama di Indonesia , CV. Haji Masagung, cet. 1, 1998, hlm. 58.
(6) Ibid , hlm. 3. Lihat G.R Tibbetts, Pre Islamic Arabia and South East Asia , JMBRAS, 19 pt.3, 1956, hlm. 207. Penulis Malaysia – Dr. Ismail Hamid dalam Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, terbitan Pustaka al-Husna, Jakarta, cet.1, 1989, hlm. 11 juga mengutip Tibbetts.
(7) Ibid , hlm. 3-4. Lihat Kitab Chiu Thang Shu , tanpa tahun.
(8) Ibid, hlm. 12. Lihat Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi, Aja'ib al Hind .
(9) Ibid , hlm. 4. Lihat HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama , Pustaka Panjimas, cet. 3, Jakarta, 1996, hlm. 4-5.
(10) Ibid , hlm. 9.
(11) Ibid , hlm. 7. Lihat Joesoef Sou'yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin , Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hlm. 390-391.
(eramuslim.com)

Selasa, 24 Mei 2011

Desa Islam Tertua dan Alquran Berusia Ratusan Tahun ada di Maluku

Alquran yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Desa Ujir, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, hingga kini masih utuh dan dirawat dengan baik oleh masyarakat setempat. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Aru, Moh Dahlan Ohoirenan, mengatakan bahwa Alquran itu masih utuh dan terawat baik, tapi tidak dimanfaatkan umat Islam.
"Kondisinya masih terawat baik dan ditempatkan dalam masjid sebagai koleksi sejarah bernilai tinggi," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Aru menetapkan Alquran tua tersebut sebagai salah satu aset pariwisata sejarah yang bisa dinikmati para wisatawan. Terutama, mancanegara yang berkunjung ke sana.
Menurut dia, masyarakat Kepulauan Aru mengakui Desa Ujir merupakan desa Islam tertua di sana. Dahlan mengatakan bahwa Alquran tua tersebut awalnya akan dipamerkan saat perhelatan MTQ ke-XXIV tingkat Provinsi Maluku. Acara akan dibuka Gubernur Karel Albert Ralahalu di Dobo pada 21 Mei 2011.
"Kami awalnya menginginkan kehadiran Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, menyaksikan Alquran tersebut dengan tujuan mengarahkan dinas teknis untuk mengirimkan tim guna meneliti umur pastinya. Sekaligus untuk melatih masyarakat merawatnya lebih baik," kata Dahlan.
Desa Ujir juga memiliki meriam tua peninggalan Portugis yang dilindungi perangkat desa setempat sebagai aset sejarah dalam mendukung pengembangan pariwisata. "Ujir juga memiliki pantai yang bersih dan airnya bening sehingga memiliki pesona bawah laut menarik untuk selam maupun mancing aneka jenis ikan," kata Dahlan.
(republika.co.id)