****
Kamis, 18 Juli 2013
Misi Khusus Israel untuk El Baradei
****
Rabu, 17 Juli 2013
New York Times Ungkap Agenda Tunggal Menghancurkan IM
Kehidupan di Kairo tiba-tiba membaik. Antrean panjang untuk membeli bahan bakar tak terlihat, listrik yang dulu sering putus kini lancar menyala, dan polisi kembali bertugas di berbagai ruas jalan.
Sabtu, 13 Juli 2013
Bundaran Ramses, Kecerdasan People Powernya Ikhwanul Muslimin
*****
Kamis, 11 Juli 2013
Konspirasi Menggulingkan Mursi Digerakkan Mubarak dari Penjara Turra
KAIRO - Salah bila ada orang mengatakan bahwa Presiden
Mursilah yang mengangkat As-Sissi menjadi menteri
pertahanan. Karena pengangkatan As-Sissi adalah salah satu
syarat ketika menggulingkan Thanthawi, menteri pertahanan
sebelumnya.
Ketika menggeser Thanthawi dan Adnan, sebenarnya Presiden
Mursi tidak menguasai militer dan Dewan Militer sepenuhnya.
Oleh karena itu, Mursi tidak bisa memilih pemimpin militer
yang pantas memimpin. Sehingga yang terjadi adalah saling
tawar-menawar dengan anggota Dewan Militer, yang akhirnya
menyetujui turunnya Thanthawi dengan pengganti dari
mereka, yaitu Abdul Fattah As-Sissi. Saat itu Presiden tidak
bisa menolak, apalagi beliau menganggap bahwa saat itu
adalah masa transisi untuk sedikit demi sedikit mengakhiri
kekuasaan militer.
Para pengamat menilai bahwa pengangkatan As-Sissi sebagai
menteri pertahanan adalah skenario dari Mubarak yang
menjalankan perang dari penjara. Mubarak memandang
bahwa Thanthawi sudah gagal dalam memimpin militer, hal
yang terindikasi dengan yel-yel demonstran "Jatuhlah
pemerintahan militer". Dengan demikian, tidaklah mungkin
bisa dia menggalang kekuatan massa yang besar melawan
Ikhwanul Muslimin.
Thanthawi Mengumumkan Kemenangan Mursi sebagai
Presiden
Kemenangan Mursi adalah pukulan yang sangat berat bagi
rezim Mubarak. Mereka ingin Syafiqlah yang memenangkan
pemilu, apapun konsekwensinya. Sedangkan Thanthawi
menyerah dengan hasil pemilu, dan khawatir kondisi Mesir
semakin kacau tak terkendali. Saat itu, demostran juga sudah
berkumpul dalam jumlah yang sangat besar di Bundaran
Tahrir. Oleh karena itu, Thanthawi mengumumkan
kemenangan Mursi sebagai presiden.
Pemimpin Dewan Militer Tetap Loyal dengan Mubarak
Setelah pengumuman kemenangan Mursi, Mubarak langsung
memutuskan untuk mengganti Thanthawi, dengan akses para
pemimpin Dewan Militer yang masih loyal kepadanya.
Mengingat masih banyak pemimpin Dewan Militer yang lebih
loyal kepada Mubarak daripada kepada pemimpin mereka,
Thanthawi.
Para pemimpin militer tersebut mendatangi Presiden Mursi.
Mereka melaporkan bahwa militer sudah terlalu jauh terjun
dalam politik. Hal ini sedikit-banyak telah menurunkan
kemampuan tempur mereka. Apalagi ketika Thanthawi
memimpin, militer menjadi musuh banyak sekali kekuatan
politik. Mereka mengusulkan, militer menarik diri dari politik
dan mengganti Thanthawi. Mereka meyakinkan dan menjamin,
militer tidak akan memprotes penggantian tersebut, dengan
syarat yang menggantikannya adalah Abdul Fattah As-Sissi.
Karena As-Sissi masih muda dan memiliki kemampuan untuk
meningkatkan kembali performa militer yang hilang dalam
masa transisi.
Sebenarnya Presiden Mursi tidak yakin dengan usulan mereka.
Tapi beliau akhirnya menerimanya mengeluarkan militer dari
politik. Dalam benaknya, Mursi pun ingin segera mengganti
As-Sissi dengan seorang pemimpin baru yang bisa memegang
amanah kemashlahatan militer Mesir.
Kenapa Harus As-Sissi?
Sebelumnya, As-Sissi adalah pemimpin intelijen militer, dan
orang yang paling loyal kepada Mubarak. Sedangkan Mubarak
sendiri hanya percaya kepada militer.
As-Sissi adalah orang yang bertanggung jawab atas "Perang
Unta" (kejadian penyerbuan sekelompok orang penunggang
kuda dan unta ke tengah-tengah demonstran di Bundaran
Tahrir). Dia orang yang memegang kendali "pihak ketiga"
yang terlibat dalam banyak sekali kerusuhan yang
menjatuhkan banyak korban. Misalnya kejadian Maspero,
stadion Port Said, dan sebagainya.
Kemudian langkah berikutnya adalah As-Sissi berusaha
memperbaiki citranya, mendekati kekuatan-kekuatan politik
yang ada, memastikan loyalitas kalangan Kristen Koptik, Fulul,
dan penggerak revolusi yang tidak mendapatkan porsi
kekuasaan di pemerintahan Mursi.
Lalu dia memulai konspirasi dengan menggunakan kepolisian,
perwira intelijen, dan pendanaan Saudi Arabia dan Emirat.
Dimulai membuat pergolakan-pergolakan, menyebarkan 200
ribu preman, sehingga kondisi keamanan Mesir lepas kendali.
Dalam kondisi ini, rakyat sangat mendambakan keamanan
walaupun dengan imbalan kembalinya rezim Mubarak.
Di sinilah As-Sissi tampil sebagai tokoh penyelamat. Dia
menyelesaikan permasalahan keamanan dengan sangat
mudah dengan kekuatan militer yang super. Di waktu yang
sama, As-Sissi juga menenangkan Presiden Mursi, bahwa
dirinya tidak menginginkan kekuasaan, dan militer akan selalu
melindungi pemerintahan yang sah.
Ultimatum 48 Jam Dan Detik-Detik Menentukan
Sampai tibalah detik-detik yang menentukan. Terjadi
demonstrasi yang sangat besar menuntut Presiden Mursi
mundur. Saat itulah As-Sissi tampil dan mengatakan bahwa
dirinya telah mendengar akan memenuhi tuntutan mereka. Dia
akan memberi Presiden Mursi tenggang waktu 48 jam untuk
menyelesaikan krisis ini, jika tidak berhasil maka militer akan
mengambil alih kekuasaan untuk masa transisi.
Begitu tenggang waktu habis, As-Sissi mengumumkan kudeta
militernya dengan menyampaikan sebuah inisiatif solusi yang
sebenarnya semua butirnya sudah diutarakan oleh Presiden
Mursi, kecuali butir penggulingannya.
Drama ini berakhir dengan menggulingkan dan menahan
Presiden Mursi. Mesir pun masuk kepada kondisi sulit, yang
tidak jelas akhirnya. (sma/dakwatuna)
Selasa, 19 Juli 2011
Penanganan Keras Atas Terduga Teroris Timbulkan Dendam
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas, Minggu (17/7), menyatakan, indikasi timbulnya dendam mulai bisa dilihat sekarang. Sejumlah kasus polisi dibunuh oleh simpatisan kelompok garis keras di berbagai daerah. Misalnya kasus di Bekasi, seorang polisi tiba-tiba dibunuh padahal polisi bersangkutan bukan anggota Densus 88.
Kasus serupa terjadi pada masa pascapasukan bersenjata ABRI memberangus sekelompok jamaah Islam di Tanjungpriok, dengan alasan sebagai kelompok garis keras. Beberapa waktu situasi mereda, warga justru menebas tentara yang kebetulan lewat di gang di kawasan Tanjungpriok, dengan alasan sebagai bagian dari tentara yang menyerang mereka. Padahal tentara yang bersangkutan juga tidak pernah terlibat dalam operasi penyerangan.
"Penanganan teroris sekarang sama (dengan operasi Kopkamtib-red.). Penyelesaian dengan kekerasan, seperti ada teroris ditembak kepalanya. Deradikalisasi semestinya bukan dengan cara kekerasan seperti menembak (terduga) teroris di kepala," kata dia saat peluncuran bukunya berjudul "Hegemoni Rezim Intelijen".
Menurut dia, sangat mengejutkan Densus 88 dibentuk oleh Polri untuk menangani kejahatan teror dengan pendekatan utama kekerasan. Cara demikian tidak "menyehatkan" keadaan, sebaliknya melahirkan generasi teroris baru.
Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY) tersebut berpendapat, Polri terutama Densus 88 semestinya belajar dari masa lalu di mana kasus teroris indikasinya tidak semata kejahatan. Jika melihat pola dan modus teroris dan organisasinya, kasus ini mirip dengan Komando Jihad yang terjadi pada masa Orde Baru, ada aspek rekayasa atau campurtangan pemerintah tertentu.
Kasus Komando Jihad (KJ) skenario awalnya isu ancaman komunisme di Vietnam terhadap stabilitas Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sebagai antisipasi, para operator intelijen mendesain KJ, direkrut para mantan anggota Darul Islam (DI) dan ditunjuk pimpinannya H. Ismail Pranoto (Hispram). Belakangan diketahui, KJ dan misinya diskenario oleh Ali Murtopo.
Kemudian KJ direkayasa sebagai organisasi yang mengancam keamanan nasional dengan isu KJ bermaksud akan mengganti Pancasila dengan mendirikan negara Islam, pemerintah yang sah sebagai thogut, sebagai jalan mendapatkan dana dilakukan fa'i atau perampokan dari harta orang-orag kaya," "Teroris sekarang ada kesamaan isunya," ujar dia.
Iman Samudera dan kawan-kawan memandang pemerintah sekarang thogut, mereka bermaksud mendirikan negara Islam, dengan mengganti dasar negara Pancasila dengan syariat Islam, atau alasan solidaritas atas pembunuhan muslim di Palestina dan kawasan Timur Tengah lainnya. Adapun organisasi yang dijadikan kendaraan Jamaah Islamiyah (JI).
Para keluarga teroris pun kehidupannya seperti diskenario sama dengan korban KJ maupun gerakan PKI. Anak-anak para terduga teroris mengalami stigmatisasi seperti tidak bisa mendapatkan KTP, tidak bisa sekolah negeri, dengan alasan anak-anak dari para teroris. Kemudian keluarga mereka dibatasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Kami memiliki lembaga Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Islam Indonesia melakukan advokasi dan pembinaan para keluarga teroris. Ibu dan anak-anak para terduga teroris hidup terasing di berbagai daerah seperti di Cilacap, Boyolali dan banyak daerah lain. Mereka bertanya-tanya mengapa ayah dibilang teroris? Keadaan demikian merupakan stigmatisasi, jika anak mereka terus ditelantarkan, maka kita membiarkan lahir generasi teroris baru seperti anak-anak Palestina. Dalam benak mereka tidak ada kata lain kecuali perlawanan terhadap kekerasan yang mereka dan orangtuanya merasakan," ujar Busyro.*
(hidayatullah.com)
Bahaya Motif di Balik Peristiwa Radikalisme dan Terorisme
PERNAHKAH anda membayangkan bagaimana caraanya membuat citra Pondok Pesantren --yang selama ini dikenal berisi orang-orang menuntut ilmu agama--, agar nampak buruk, agar nampak radikal, dan dikesankan berisi orang-orang yang melawan ideologi negara? Sepertinya sangat susah.
Tapi dengan sebuah peristiwa ledakan bom rakitan, ternyata hal itu bisa dilakukan. Bahkan, dengan adanya satu saja ada ledakan kecil di Pondok Pesantren di kampung kecil, hampir semua orang kemudian menuntut pentingnya pengetatan dan pengawasan ekstra terhadap semua Pondok Pesantren di Seluruh Indonesia.
Seluruh perhatian kemudian terpusat pada pentingnya mengendalikan Pondok Pesantren agar terhindar dari pengaruh radikalisme dan terorisme. Itulah yang disebut sebagai ‘dampak’. Bom adalah peristiwanya, dan citra buruk sebagai dampaknya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:313), dampak diartikan sebagai pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik itu akibat negatif maupun akibat positif). Karena yang diinginkan bernama dampak, maka kadang peristiwanya bisa direkayasa sedemikian rupa agar dampak yang ditimbulkan bisa sesuai dengan keinginan pembuat peristiwa Meski begitu, dampak dari peristiwa kadang juga di luar dugaan pembuat peristiwa.
Namun yang pasti, dampak yang diinginkan sangat mudah dicapai dengan peristiwa yang diciptakan. Mau tahu bagaimana sebuah peristiwa sangat penting untuk mendapatkan dampak yang diinginkan?
Pertama, bagi orang awam, Bom Bali I yang terjadi pada Oktober 2002 mungkin dikiranya benar-benar bikinan Amrozi Cs. Bom yang menewaskan 202 orang ini, bahkan disangkal sendiri oleh mantan Kabakin ZA Maulani (almarhum), jika bom tersebut bikinan Amrozi Cs. Karena jika dilihat dari bahan yang ditemukan di TKP (Tempat Kejadian Perkara), bahan tersebut hanya bisa dimiliki oleh Israel, Prancis dan Amerika Serikat.
Namun sidang bom terdahsyat Indonesia ini, para pelaku yang sekarang sudah dieksekusi mati, mengaku bahwa bahan yang digunakan hanya bahan-bahan dari materi petasan. Sedangkan yang ditemukan di TKP adalah semacam C4, maupun bekas RDX. Tentu itu bukan keanehan, karena memang Amrozil Cs hanyalah tumbal.
Maka dari itu, meski para pelaku mengaku hanya menggunakan 1 kuintal bahan petasan sekalipun, menurut ZA Maulani, tak mungkin bisa menghancurkan TKP hingga sedahsyat yang terlihat di lokasi ledakan. Amrozi Cs, dalam sidang mengaku membuat bom (petasan)nya, akan tetapi tampaknya mereka sengaja dijebak dalam ledakan sedemikian rupa dahsyatnya, sehingga yang bersangkutan beserta kelompok dan teman-temannya menjadi terlibat dalam kejadian tersebut.
Hal itu bisa dilihat dalam sidang-sidang, mereka tampak bodoh dan tak bisa terampil merangkai secara profesional. Meski begitu, lihat saja dampak dari Bom Bali I. Pemerintah kemudian membabibuta memburu seluruh orang-orang yang pernah belajar bom semacam Amrozi. Mereka tak tidak lain, adalah para bekas Mujahidin yang pernah berjuang dan berjihad di Afganistan, Ambon , dan Maluku.
Jumlah mereka, menurut beberapa sumber, mencapai 3000 orang. Sebagian dari 3000 veteran mujahidin ini sudah dihabisi aparat di Indonesia maupun negara-negara tetangga. Maka dari itu, tidak sedikit pengamat menduga, peristiwa Bom Bali sengaja diciptakan untuk memaksa pemerintah agar bersemangat memburu para veteran mujahidin Indonesia, demi membalas dendam terhadap kejadian 9/11 yang merontokkan tower WTC di Amerika.
Bagaimanapun, peristiwa 9/11 telah mempermalukan Amerika di mata negara-negara sedunia. Dan, ternyata dampak dari Bom Bali 1 benar-benar sukses. Pemerintah sangat bersemangat memburu mereka, dengan bantuan dana dan perlengkapan dari Amerika. Yang menjadi janggal, teroris kini tidak pernah habis meski Densus sudah menangkapi dan menembak mati dedengkot-dedengkot teroris macam Noordin M Top, Dr Azahari, Dulmatin, dan lain-lain. Setiap hari muncul nama baru yang dikait-kaitkan dari kadang dari terduga yang sudah ditembak mati.
Kedua, berbagai persitiwa bom di Indonesia pasca Bom Bali I, juga meninggalkan dampak luar biasa. Banyak keluarga Muslim yang misalnya isterinya mengenakan cadar, berbaju gamis, celana ngantung, berjenggot, atau semacam itu, akhirnya menjadi terkucilkan.
Mereka bahkan sudah tercap sebagai ‘kelompok’ calon teroris meskipun tidak melakukannya. Ini gara-gara polisi sering membiarkan media over blow-up ambil gambar dan mempublikasikan terduga pelaku bom yang selalu bercelana ngantung, berjenggot, berbaju gamis, dan beristeri cadaran.
Dan anehnya, cara-cara ini terus menerus digunakan oleh Densus 88 setiap kali ada persitiwa bom. Lebih lucu lagi, Densus 88 tak segan menyertakan kitab suci Umat Islam bernama al-Qur’an sebagai barangbukti terorisme.
Mungkinkah dengan kebijakan murahan itu, ada keinginan agar penyitaan al-Qur’an bisa berdampak negatif: misalnyaagar orang Islam takut menyimpan al-Qur’an di rumah? Atau orang Islam takut membawa bahkan menampakkan al-Qur’an di tempat umum?
Yang lebih memprihatinkan, cara-cara polisi menggelandang terduga teroris, sangat mirip cara pasukan Amerika. Dan sudah seperti pemandangan di Timur Tengah: terborgol, terantai kakinya, dilakban matanya, dan diseret-seret. Jika melihat itu, kita sepertinya tidak sedang berada di Indonesia yang dikenal santun.
Terakhir, tentang bom di Pondok Pesantren UBK (Umar Bin Khattab) Bima, Nusa Tenggara Barat. Tidak jelas, siapa yang merakit, menaruh, dan meledakkan bom itu. Yang jelas, sebelum ada bom, dikabarkan anggota Polsek setempat yakni Brigadir Rokhmad tewas dibunuh oleh salahsatu santri ponpes UBK. Pada Kamis tanggal 30 Juni 2011 siang, polisi naas itu ditikam pelaku bernama Saban Abdurahman.
Sebenarnya publik juga belum mengetahui latar belakang penusukan itu. Mengapa tiba-tiba ada penusukan hingga menewaskan seorang polisi. Satu-satunya sumber, hanya datang dari polisi sendiri. Kata polisi, pelaku menikam polisi karena ada perintah tuhan untuk membunuh korban yang dianggap kafir.
Tahu-tahu, sebuah bom meledak beberapa hari setelah polisi menangkap pelaku penusukan. Tepatnya Senin tanggal 11 Juli 2011, sebuah bom kecil tiba-tiba meledak di dalam ponpes UBK. Siapa yang merakit, dan meledakkan bom itu? belum diketahui.
Dengan adanya ledakan tersebut, kini ada alasan polisi untuk memasuki pondok. Polisi lalu menangkapi santri dan kembali menenteng satu peti al-Qur’an sebagai barang bukti, selain beberapa barangbukti lain yang ‘lazim’ ditemukan di TKP bom: VCD Jihad, rangkaian bom, CPU, printer, dan lain-lain.
Polisi juga menyebut dugaan adanya bom adalah untuk "membalas dendam" polisi karena menangkap Ubaid, salahsatu tersangka pelatihan militer yang konon ada kaitan dengan ponpes UBK!. Belakangan polisi mengaitkan mereka dengan JAT-nya Abu Bakar Baasyir karena ada jaket bertuliskan Jamaah Anshorut Tauhid.
Dampak berikutnya. Beberapa tokoh masyarakat buru-buru menyuarakan perlunya pemerintah mengawasi semua pondok pesantren. Salah satu ormas Islam, underbow PBNU, GP Ansor malah langsung membentuk Densus 99 untuk membantu Densus 88— sebuah langkah yang rancu.
Sudah tentu, banyak yang meminta agar ponpes UBK nantinya akan ditutup. Jika benar ponpes UBK ditutup, itulah dampak paling berbahaya. Karena jika hanya karena sebuah ledakan kecil kemudian berhasil menutup operasi sebuah Pondok Pesantren, maka kejadian serupa akan terulang di pondok pesantren lain.
Ingat, masih ribuan veteran Mujahidin yang belum dihabisi aparat. Artinya, mereka bisa saja satu demi satu digilir dan dibuat sedemikian rupa agar terlibat dalam aksi terorisme yang melibatkan ponpes tertentu, lalu dipakai alasan untuk menutup Pondok Pesantren itu.
Saya menduga, peristiwa di Ponpes Bima adalah sebuah "pilot project liar" untuk kelak bisa dipakai polanya, menutup Ponpes Al Mukmin Ngruki di Solo. Apalagi Abu Bakar Baasyir sudah mendekam di tahanan, kemungkinan melakukan aksi serupa di Ngruki sungguh sangat mudah. Apakah caranya dengan akan ‘ledakan’ juga, atau dengan variasi lain? Kita tunggu.*
Penulis adalah Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) dan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
(hidayatullah.com)
Rabu, 22 Juni 2011
Teroris terbesar menurut ilmuwan Inggris
"Dunia ini penuh terorisme terorganisir. Saya mengacu pada serangkaian perang terorisme Amerika secara terus-menerus pada Islam yang kuantitasnya sama dengan perang sepertiga dunia 'Irak, Afghanistan, Pakistan, Yaman, Libya, Suriah (persiapan perang yang sekarang sedang dibuat)," kata Shakespeare.
"Kini adalah saatnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa AS adalah teroris terbesar dari semuanya," katanya kepada IRNA menjelang konferensi internasional akhir pekan ini yang diselenggarakan di Teheran.
Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 80 negara, bertemakan `Dunia Tanpa Terorisme, mencari pendekatan yang komprehensif melawan terorisme di tingkat internasional.'
"Ini bisa dicapai jika Gerakan Non Blok menunjukkan beberapa nyali yang berarti bersikap sampai ke intimidasi dari Amerika Serikat dan sekutunya, misalnya Inggris," kata Shakespeare, yang merupakan pengacara dan dosen.
Dia mengatakan bahwa sudah 10 tahun sejak AS melancarkan perang yang disebut melawan terorisme, tetapi situasinya justru bertambah buruk. "Amerika sekarang dibenci di seluruh penjuru dunia: karena pihaknya tidak lagi benar-benar memajukan kepentingan nasional. Semua yang telah benar-benar terjadi adalah bahwa kompleks industri-militer Amerika telah secara besar-besaran meraih keuntungan dari kematian banyak nyawa orang-orang tak berdosa," katanya.
Setelah menyelenggarakan begitu banyak konferensi mengenai momok terorisme, ia menyarankan bahwa pendekatan baru adalah kebutuhan untuk mengatasi akar penyebab terorisme itu sendiri. "Akar penyebab adalah sistem keuangan berbasis riba dan kontrol keuangan oleh Wall Street dan London. Suatu ekonomi baru yang bebas riba diperlukan untuk mengakhiri terorisme terorganisir," kata Shakespeare.
(republika.co.id)
Selasa, 21 Juni 2011
Titik Awal Hilangnya Peradaban Nusantara Oleh Barat Di Balik Penokohan RA Kartini
Masih ingat Cut Nyak Dien? Beliau tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman TIDAK AKAN PERNAH MEMBUAT WANITA MENYAMAI LAKI-LAKI . Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuandan kewajibannya.
Yang harus berubah adalah, wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara.
Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara. Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.
Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje?
Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000 hal. 234-235).
Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk menaklukkan Islam.
Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar . Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa.
Penyamaran Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda.
Salah satu strateginya adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa.
Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan. (hal. 24).
Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk menaklukkan Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan pribumi Muslim sudah berjubel.
Biasanya, berawal dari perasaan minder sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak anak didik Snouck langsung atau pun tidak, yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.
Sudah sejak dulu memang Orang-orang Orientalis Barat selalu hendak meredupkan cahaya Islam dan menutup-nutupi sesuatu yang benar dan mengaburkan sejarah. Saya yakin, pengikut feminisme dan emansipasi pasti akan sangat benci kepada artikel pahit dalam blog ini, karena akan mengancam "periuk" mereka. Mereka tentuakan kejang-kejang, sambil menjerit-njerit tidak suka. Kepahitan yang sesungguhnya obat dilemparkan demi memilih kemanisan yang sejatinya RACUN.
Wahai KAUM FEMINIS, wahai penuntut EMANSIPASI !! Cara anda menghinakan diri dengan menjadi pengeras suara dan symbol orang-orang Barat hanya akan membuat anda TERPANDANG di kalangan mereka tetapi HINA dihadapan Pencipta.
(situslakalaka.blogspot.com)
Senin, 20 Juni 2011
Pesan Tersembunyi Di Balik Film Film Walt Disney
Wes Penre merupakan mantan anggota kelompok pemuja setan , yang kemudian bertobat dan menjadi peneliti dunia hiburan AS. Dan Menurutnya Walt Disney merupakan anggota Freemasonry derajat 33°, suatu derajat tertinggi yang hanya bisa dicapai oleh tokoh-tokoh Yahudi, dan juga anggota Illuminaty.
Di balik seluruh karakter kartun yang diciptakannya yang tersebar di aneka film, buku cerita, dongeng, dan sebagainya, terselip agenda tersembunyi illuminaty untuk mempengaruhi dan men-setting pemikiran anak-anak, " tulis Penre.
Tengoklah film Pinnochio, secara sepintas tidak ada sesuatu yang berbahaya namun jika kita cermati, ada salah satu hal yang jika kita biarkan maka bukanlah hal yang mustahil anak anak kita akan terjerembab dalam KEMUSYRIKAN di kemudian hari, perhatikan lagu "When You Wish Upon A Star" beserta klip yang melatarbelakanginya, yang jika kita terjemahkan bebas berarti "Saat Kau Memohon Kepada Bintang".
Astaghfirullah.......hati ini serasa diingatkan oleh sebuah hadits yang kira kira redaksinya demikian : "seorang hamba meminta kepada bintang maka dia beriman kepada bintang itu dan kafir kepada Allah, Di Lain waktu hamba meminta kepada Allah swt, maka dia beriman kepada Allah swt dan kafir kepada bintang"
Yang lebih mengejutkan, Seluruh produk produk Disney ternyata mengandung simbol-simbol Masonik, okultisme, sinyal sinyal pornografi dan juga indoktrinasi maupun pengendalian alam pikiran. "Lewat Disney, mereka telah meracuni pemikiran manusia sejak masih anak-anak agar bisa menerima `The New World Order´ suatu saat kelak.
Mereka juga memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak seluruh dunia apa yang disebut sebagai black-magic, The Sorcery, sebagai jalan keluar yang bagus dari persoalan yang mendesak, " tandas Penre yang juga banyak menulis masalah-masalah Illuminaty di dunia hiburan Amerika.
Tanpa Anda sadari, anak-anak polos Anda telah "menghilang" ke dalam Disneyland dan diculik oleh perusahaan Disney dan dikorbankan serta diperbudak menjadi agen-agen The New World Order di masa depannya. Dan sangat mengagumkan, Disney mampu melakukan ini semua di kamar-kamar tidur dan kamar-kamar seluruh keluarga di dunia ini tanpa kita mampu membendungnya.
Penre juga bercerita bahwa seorang sahabatnya pernah menemui hal ganjil di Disneyland-California. "Di suatu tempat di tengah areal Disneyland, orang ini masuk dan bersembunyi ke dalam semak-semak untuk sekadar merokok. Tanpa diduga, dari semak-semak itu terlihat sebuah lorong ke dalam tanah. Dia masuk ke dalam dengan hati-hati. Dari dalam tanah dia mendengar suara tangisan anak-anak..., " ujar Penre.
Kristen Inggris Ternyata Lebih Militan dari Muslim
Phillips, yang mengepalai lembaga watchdog masalah kesetaraan di Inggris, menilai sikap militan penganut kristen di Inggris ini dipengaruhi oleh ajaran gereja-gereja arus utama imigran Afrika dan Karibia. Mereka cenderung tidak toleran.
''Umat Islam sebaliknya melakukan sekuat tenaga mereka untuk mengembangkan ajaran Islam yang sesuai dengan kehidupan di alam demokrasi liberal modern,'' kata Phillips seperti dikutis surat kabar ternama Inggris Dailymail .
Sementara, umat kristen bersikap sebaliknya. "Saya pikir ada banyak sekali suara tentang gereja dianiaya. Tetapi, ada isu yang lebih nyata tentang wajah gereja-gereja konvensional,'' katanya. ''Saya melihat orang-orang, yang benar-benar menjalani kehidupan dan kesuksesannya dengan ajaran konvensional, tidak cocok dengan kondisi masyarakat modern, multi-etnik, dan multikultural.''
Sikap mereka berbeda dengan sikap komunitas Muslim di Inggris yang melakukan sebisa mereka datang untuk berdamai dengan tetangga mereka.
Kaum Muslim Inggris berusaha mencoba mengintegrasikan dengan masyarakat sekitar. Mereka melakukan yang terbaik untuk mencoba menerapkan ajaran Islam yang sesuai dengan hidup dalam demokrasi liberal modern.
Tapi, ironisnya umat Muslim yang selama ini dianggap tidak toleran. "Orang yang paling mungkin menjadi korban diskriminasi agama dalam masyarakat Inggris sebenarnya adalah seorang Muslim. Tapi, sebaliknya orang yang paling gampang merasa tersinggung karena diskriminasi agama adalah Kristen evangelis,'' katanya.
Mantan Uskup Agung Canterbury, Lord Carey, menyerang hukum kesetaraan yang mendiskreditkan umat kristen. Namun, menurut Phillips, kasus hukum yang dibawa oleh orang Kristen selama ini tidak lebih dari soal homoseksual. Kasus hukum itu lebih termotivasi oleh upaya untuk mendapatkan pengaruh politik.
"Untuk banyak aktivis Kristen, saya pikir mereka ingin memperjuangkan isu dan memilih orientasi seksual sebagai dasar isu untuk melawan undang-undang kesataraan. Saya pikir argumen mereka bukan tentang hak-hak orang Kristen. Semuanya ini tentang politik,'' katanya. ''Ada banyak suara aktivis Kristen yang memunculkan isu tersebut, yang menurut saya tidak benar-benar ada di negara ini.''
Tapi Phillips, yang dibesarkan dengan latar belakang tentara, mengaku bisa memahami mengapa banyak kelompok agama merasa dikepung dengan persoalan kesataraan. Dia juga mengatakan undang-udang kesataraan tidak harus diterapkan pada organisasi internal kelompok agama.
'Ini harus diakui bahwa ada suara-suara anti-agama di Inggris,'' katanya. "Ini sangat wajar bahwa Anda tidak bisa menjadi imam Katolik Roma kecuali Anda seorang pria. Tampaknya benar bahwa jangkauan hukum anti-diskriminasi itu harus berhenti di pintugereja atau masjid."
(republika.co.id)
Kamis, 16 Juni 2011
Runtuhnya Mitos R.A Kartini Dan Rekayasa Sejarah
Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik 'pengkultusan' R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia (Satu Abad Kartini 1879-1979, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4).
Dari penelusurannya itu dia menyimpulkan jika Sebenarnya kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya.
Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia.Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia.
Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh
Kedua, Datu ( Ratu ) Siti Aisyah We Tenriolle.
Anehnya, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddinar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf.
Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.
Tokoh wanita kedua yang pantas menggantikan kartini adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Penokohan Kartini Betul-Betul Merupakan Pilihan Belanda
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.
Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri.
Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.
Ringkasnya , Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur Haluan Etika C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.
Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).
Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda.
Hal yang teramat aneh (dalam penelusurannya) adalah : Orang-orang Indonesia sendiri terutama dilingkungan Kartini berasal, dalam masa kehidupan Kartini, hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikelTiar Bahtiar.
Dewi Sartika
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.
Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Rohana Kudus dari Padang
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini HARUS SEGERA DI GUGURKAN . Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.
Tengku Fakinah , selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh,kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
(situslakalaka.blogspot.com)
Rabu, 15 Juni 2011
Aneh, Orang Yang Tidak Mau Melakukan Seks Sebelum Nikah Dicap Konservatif
Kesimpulan itu didapatkan dari hasil survei "Tata Nilai, Impian, Cita-cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara " yang diadakan oleh Goethe-Institut, The Friedrich Naumann Foundation for Freedom, Lembaga Survei Indonesia dan Merdeka Center for Opinion Research Malaysia.
Di Indonesia, survei ini diselenggarakan pada 18-26 November 2010 dengan 1496 responden berusia 15-25 tahun, dan berasaldari 33 provinsi. Hasilnya, 47,5 persen kaum muda Indonesia memandang diri mereka pertama-tama sebagai orang muslim. Sedangkan yang menganggap mereka pertama-tama orang Indonesia sebanyak 40,8 persen.
Yang menarik, anak-anak muda yang mengutamakan identitas keislamannya ini sebagian besar tinggal di perkotaan. Mereka mapan secara ekonomi dan berpendidikan sampai tingkat universitas. Sementara pemuda desa dengan status ekonomi lebih rendah justru mendominasi kelompok responden yang lebih merasa sebagai orang Indonesia lebih dulu daripada muslim.
Selanjutnya akademisi yang juga sebelumnya terlibat aktif di Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menjelaskan bahwa anak muda kota lebih mementingkan identitas keagamaan karena bagi mereka agama adalah pegangan penting di saat situasi ekonomi dan politik mengalami keguncangan.
Memiliki akses yang lebih baik ke pendidikan dan media justru membuat pemuda kota memiliki tingkat ketidakamanan ( insecurity ) yang lebih tinggi dari pemuda desa, kata Burhanuddin. Sebab mereka lebih terbiasa berkompetisi dan memiliki akses informasi yang lebih komplet atas situasi-situasi politik dan ekonomi untuk menganalisis masa depan.
Agama pun kemudian menjadi aset penting kehidupan sehari-hari dalam mengatasi keresahan.
Di samping itu, Burhanuddin juga menengarai hasil survei itu menampakkan kegagalan sistem pendidikan. Perilaku orang kota yang lebih merasa sebagai orang Islam,kata Burhanuddin, berkaitan dengan sistem pendidikan yang tidak mampu menguatkan sentimen kebangsaan.
Semakin lama seseorang menuntut ilmu, semakin terpapar ia pada pendidikan agama yang mendoktrin. Kurikulum sekolah tidak cukup kuat mengajarkan identitas kebangsaan.
Pendidikan agama yang mendoktrin itu juga menghasilkan pemikiran konservatif di antara anak-anak muda Indonesia.
Mereka menolak seks sebelum menikah (96,2 persen),
menolak mengonsumsi alkohol (88,7 persen),
atau menjauhi bahan psikotropika halus/mariyuana (99,2 persen).
Sekitar 90,1 persen anak muda juga mengaku tidak mau menikah dengan orang beda agama.
Dari 9 persen yang menjawab bersedia menikah beda agama, 69 persennya menyatakan syarat bahwa si pasangan harus pindah ke agamanya.
Meski begitu, pemikiran konservatif ini tidak sebanding dengan aktivitas keagamaan mereka. Hanya 28,7 persen responden yang mengaku selalu salat lima waktu dan hanya 10,8 persen yang membaca atau memahami Quran.
Primadona aktivitas beragama mereka adalah puasa di bulan Ramadan. Sekitar 59,6persen responden mengaku selalu melaksanakan puasa Ramadan. "Mungkin karena setahun sekali. Dan karena pengaruh TV di bulan Ramadan itu suasananya kayak di surga," kata Burhan berkelakar.
Untuk isu jilbab, "hanya" 38 persen responden menganggap jilbab wajib buat perempuan. Sekitar 21 persen menyatakan, pemakaian jilbab tergantung pada pribadi masing-masing, apakah hendak memakainya atau tidak.
Lalu, selain sekolah atau kursus agama di bulan Ramadan, dari mana anak-anak muda Indonesia mendapatkan pendidikan agama mereka yang mendoktrin? Ternyata, menurut Burhan, televisi adalah penyumbang terbesar porsi sumber informasi keagamaan. Posisi kedua ditempati masjid, baru keluarga. (pz/met/yahoo/eramuslim.com)
Mengembalikan kejayaan Islam bukan dengan emosional.
Ali mengatakan kecenderungan yang terjadidi dunia Islam adalah terlalu dominan sikap emosional. Padahal, dunia Islam sewajarnya sejalan beriringan dalam menyuarakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui penguasaan itu lah maka keluhuran Islam akan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Itu sebabnya, lanjut Ali, dunia Islam dibuat tidak bisa berbuat banyak saat menghadapi tekanan. Sekalipun diberikan keluluasaan dalam berkembang, negara-negara Islam tampak digiring dalam skenario yang tidak menguntungkan. Dunia barat umumnya, menurut Ali, tidak menghendaki dunia Islam mencapai kemajuan. Salah satu contohnya, penggunaan teknologi nuklir oleh dunia Islam. Dunia barat, utamanya AS dan Israel acapkali memandang kepemilikan teknologi nuklir hanya untuk negara tertentu saja
(republika.co.id)
Selasa, 14 Juni 2011
Status Agama Islam di Malaysia Berubah Seiring Pergantian Kepimpinan
Dari laporan yang dipublikasikan Merdeka Center for Opinion Research (MCOR), Selasa (13/6) di Jakarta, menyebutkan perbedaan pandangan soal status agama Islam di mata negara berubah seiring pergantian kepemimpinan. Sebagai gambaran, mantan Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman Putra dan Tuin Hussein On secara resmi menyatakan Malaysia sebagai negara sekuler dengan Islam sebagai agama resmi.
Pernyataan ini berubah ketika jabatan Perdana Menteri diduduki Mahatir Mohammad. Mahathir saat berkuasa mengatakan Malaysia merupakan negara Islam. Pernyataan Mahathir ini berkorelasi dengan dukungan yang kuat bagi jabatan Perdana Menteri Tun Abdullah Badawi pada tahun 2004.
Walau tidak sepopuler Mahathir, MCOR melihat tindak-tanduk Badawi merupakan pengejawantahkan apa yang diperlihatkan Mahathir saat menyatakan bahwa Malaysia merupakan negara Islam. Kondisi itu juga ditopang dengan latar belakang Badawi yang berasal dari keluarga konservatif dan beragama.
Akan tetapi, fakta di lapangan tidak menafikan bentuk Malaysia sebagai negara federal. Dimana Islam menjadi agama negara tapi tidak semua negara bagian menerapkan kondisi serupa.
Disebutkan MCOR, konstitusi federal Malaysia menyatakan bahwa penguasa, Sultan adalah pemimpin negara bagian masing-masing. Salah satu poinnya, konstitusi Malaysia tidak menyebutkan adanya agama negara. Oleh karena itu, persepsi status Islam di setiap negara bagian tidak sama.
(republika.co.id)
Soal Jilbab, Malaysia Wajib, Sementara Indonesia Tergantung...
Hasil riset yang dipublikasikan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Selasa (13/6) di Jakarta, menyebutkan keputusan mengenakan jilbab sepenuhnya tergantung dari perempuan. Hal itu terekam dalam hasil survei yang menyebutkan 20,8 persen Muslimah Indonesia menyatakan perempuan memiliki wewenang untuk menentukan mengenakan jilbab atau tidak.
Hanya 0,5 persen yang menyatakan mengenakan jilbab merupakan tanggung jawab dari ayah atau suami mereka. Hasil lainnya menyebutkan, semakin tinggi tingkat pendidikan Muslimah Indonesia, semakin kuat kecenderungan mengenakan jilbab tergantung dari Muslimah itu sendiri.
Hal serupa terjadi pada perempuan dengan penghasilan rendah yang mengatakan putusan mengenakan jilbab tergantung dari perempuan bersangkutan. Adapun alasan Muslimah Indonesia mengenakan Jilbab antara lain, 17,8 persen.
Muslimah Indonesia menyatakan bahwa jilbab melindungi perempuan dari sorotan laki-laki. Sementara 7,1 persen Muslimah mengatakan perempuan berjilbab terlihat lebih menarik. Di Malaysia, hasil riset yang dipublikasikan Merdeka Center for Opinion Research (MCOR) menyebutkan 70 persen dari Muslimah negeri Jiran itu menyatakan mengenakan jilbab merupakan kewajiban.
Semakin tinggi tingkat pendidikan Muslimah Malaysia, semakin tinggi pula menjadikan jilbab sebagai sebuah kewajiban. Hanya 14,7 persen Muslimah Malaysia yang menganggap jilbab merupakan hak Muslimah bersangkutan.
Pandangan wajib ini, menurut MCOR, berasal dari tekanan yang kuat sedari awal terhadap Muslimah Malaysia saat mengenyam pendidikan dasar hingga menengah. Faktor penguat lain, pada tahun1980-an, tren mengenakan jilbab di kalangan Muslimah Malaysia begitu tinggi. Kondisi itu tidak berubah meski terjadi pergeseran sosial yang mengacu ke arah yang lebih bebas.
Bahkan pengamatan MCOR, film-film yang dibuat pada 1950-an, yang menampilkan perempuan tanpa jilbab tidak dapat dibuat dengan gaya yang sama pada masa kini.
(republika.co.id)
Minggu, 12 Juni 2011
singapura jadi bunker koruptor?
Laporan dari Morgan Stanley mengungkapkan dari 55 ribu orang kaya Indonesia (yang kekayaannya melebihi US$1juta), 30% di antaranya adalah kelas menengah dari Indonesia, alias sebanyak 18 ribu orang, memilih Singapura untuk menaruh uangnya.
Kalau semiskin-miskinnya 18 ribu orang itu masing-masing punya US$ 1 juta, maka aset total mereka di sini adalah 18 ribu x 1 juta = US$18 miliar, alias Rp160 triliun! Namun rasanya tak mungkin aset mereka cuma US$1 juta saja.
Para koruptor RI paling doyan lari ke negeri singa itu. Bisa kebayang bukan, kelipatan kekayaan orang kita di sini? Diperkirakan oleh Merrill Lynch, lebih dari Rp800 triliun duit orang Indonesia ditaruh di Singapura.
Singapura, negara berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa dengan produk domestik bruto (GDP) sekitar US$132 miliar pada 2009, menjadi pusat keuangan dan bisnis regional yang maju pesat, hadir sebagai saingan baru bagi pusat keuangan mapan seperti Hongkong dan Swiss.
Banyak kejanggalan dalam perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura. Pada 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Singapura di Bali. Namun, perjanjian itu tak dapat dipisahkan dari perjanjian kerja sama pertahanan (DCA). Ketika hendak diratifikasi, anggota DPR periode 2004-2009 melihat ada beberapa kejanggalan.
Pertama, hal ini terutama berkaitan dengan penjelasan Indonesia akan memberikan tanah seluas 32 ribu hektar untuk latihan bersama antara TNI dan Singapura. Wilayah yang diminta adalah di Baturaja, Sumatera Selatan.
Kedua, Tidak diratifikasinya perjanjian itu, seperti dikemukakan mantan Wapres Jusuf Kalla, karena Singapura kemudian meminta akses yang lebih luas bagi Angkatan Udaranya di wilayah Indonesia. Sesuatu yang nampaknya disengaja Singapura, sehingga Perjanjian Ekstradisi itu tidak bisa dilaksanakan.
Secara politis, menukar orang yang bermasalah secara hukum dengan wilayah untuk berlatih sangat tak menguntungkan. Syarat ini merugikan kepentingan Indonesia.Situasi ini membuat negeri singa itu menjadi celah bagi koruptor dari Indonesia, termasuk mereka yang diduga terlibat korupsi, untuk berlari ke Singapura dan bersembunyi di sana.
Apalagi, untuk pergi ke Singapura, seseorang hanya membutuhkan paspor dan tak perlu mempergunakan visa. Karena tidak ada perjanjian ekstradisi yang ditandatangani Indonesia, Polri tak boleh beroperasi di Singapura tanpa izin pemerintah setempat.
Dalam konteks Nunun Nurbaeti, misalnya, kalau saja Singapura bersedia, dimanapun Nunun bersembunyi, seketat apapun upaya melindunginya, usaha itu tak akan efektif. Nunun selama ini dianggap salah satu 'kunci' dari kasus penyuapan pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia.
Indonesia pun tidak bisa memaksa Singapura, supaya 'menangkap' Nunun. Sebab perjanjian ekstradisi kedua negara yang ditanda-tangani 2007, belum diratifikasi oleh parlemen masing-masing. Kalau Nunun bisa dideteksi tinggal di Singapura, maka orang-orang yang bermasalah seperti bisa berpikir ulang menjadikan Singapura sebagai tempat persembunyian.
Namun, Singapura sudah jadi bunker koruptor dan keuntungan dari uang haram itu amat besar sebab menjadi tiang penyangga ekonomi negeri Lee Kuan Yew itu. [inilah.com]
Jumat, 10 Juni 2011
Ideologi Islam, Solusi Bukan Ancaman
Kalaupun mengatur hubungan antar manusia, agama hanya mengatur pada aspek yang terbatas, misalnya ibadah ritual (worship) dan akhlak (moral), tidak mengatur seluruh aspek kehidupan secara total dan menyeluruh.
Para intelektual Barat, dalam mendefinisikan agama, kadang dipengaruhi oleh latar belakang mereka yang beragama Kristen, di samping tentunya terpengaruh paham sekularisme.
Misalnya, Emile Durkheim dalam bukunya Les Formes Elementaries de La Vie Religiese (Bentuk-bentuk Elementer dalam KehidupanBeragama), mengatakan: Religion is an interdependant whole composed of belief and rites (faith and practices) related to sacred thing, unites adherents in a single community known as Church. (Agama adalah suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling bersandar yang satu pada yang lain, terdiri dari kepercayaan dan ritus-ritus (keimanan dan ibadat) yang dihubungkan dengan hal yang suci, dan mengikat pengikutnya dalam suatu masyarakat yang disebut gereja). Definisi Durkheim ini di samping mengartikan unsur agama secara sempit dan sekularistik, yakni hanya terdiri dari keyakinan dan ibadah ritual, juga ternyata sangat dipengaruhi oleh tempat di mana dia hidup, yaitu masyarakat Kristen.
Ketika umat Islam mengambil makna agama yang sekularistik itu, lalu diterapkan pada Islam, yang terjadi adalah reduksi dan distorsi. Akhirnya Islam dipahami seperti agama-agama lainnya yang a-politis dan tidak mampu mengatur kehidupan manusia.
Padahal, sebagai agama sempurna, sesungguhnya Islam telah mengatur seluruh perikehidupan manusia tanpa kecuali. Tak ada satupun persoalan hidup yang terjadi pada manusia, kecuali Islam telah menjelaskan tata aturannya.
Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…" (QS Al-Maidah: 3).
Juga di ayat yang lain Allah berfirman:
"Dan telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Kitab (Alquran) menjelaskan segala sesuatu." (QS An Nahl: 89).
Karenanya, jika kita membuka Alquran, akan kita dapati banyak ayat Alquran menerangkan tentang berbagai aspek kehidupan manusia, tidak hanya ibadah dan akhlak.
Dalam bidang ekonomi, misalnya terdapat ayat:
"Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba." (QS Al Baqarah: 275).
Dalam aspek politik/pemerintahan, misalnya terdapat ayat berikut:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) danlebih baik akibatnya." (QS An Nisa: 59).
Dalam masalah sosial kemasyarakatan, misalnya terdapat ayat berikut:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu daridiri yang satu, dan dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…" (QS An Nisa: 11).
Tentang strategi militer, misalnya ada ayat:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan (untuk berperang) yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengenalnya; sedang Allah mengetahuinya." (QS Al Anfal: 60).
Mengenai masalah pendidikan/ilmu pengetahuan, misalnya ada ayat berbunyi:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS Al-Mujaadilah: 11). Mengenai sanksi dan hukuman pidana, misalnya ada ayat:
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagiapa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al Maidah: 38). Itulah sebagian ayat-ayat Alquran yang membuktikan bahwa Islam membahas dan mengatur segala aspek kehidupan manusia.
Ideologi Islam Bukan Ancaman
Mungkin ada yang khawatir ketika Islam dijadikan ideologi, sehingga muncul pertanyaan, apakah ideologi Islam adalah sebuah ancaman? Jawabannya sangat tergantung dari cara pandang ideologis yang digunakan.
Cara pandang ideologis, adalah cara pandang terhadap suatu fakta berdasarkan keyakinan tertentu pada sebuah ideologi. Menurut cara pandang ideologi kapitalisme, Islam ideologi jelas merupakan ancaman baginya. Sebab, metode penerapan ideologi Kapitalisme adalah dengan Isti'mar (penjajahan/imperialisme).
Sementara itu ideologi Islam anti imperialisme. Jadi Islam adalah ancaman bagi mereka yang menebarkan penjajahan dan kezaliman di atas muka bumi. Tapi bagi umat manusia secara keseluruhan Islam adalah sebuah harapan, solusi atas berbagai problematika umat manusia.
Justru kapitalisme yang diterapkan saat ini bukan sekadar menjadi ancaman, tapi sudah menjadi bahaya nyata yang menyengsarakan umat manusia. Kemiskinan, kelaparan, kerusakan moral, kerusakan lingkungan dll adalah bukti nyata bahaya ideologi kapitalisme.
Jadi, dengan kata ideologi Islam, sebenarnya dimaksudkan agar Islam kembali menempati posisinya yang layak yang telah ditetapkan Allah baginya. Yaitu sebagai penuntun dan pengatur segala urusan hidup manusia secara utuh dan menyeluruh (kaaffah). Agar manusia meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Insya Allah. ***
OLEH: Muhammadun
Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau
(batampos.co.id)
Rabu, 08 Juni 2011
Bismillah’ dalam Lagu Bohemian Rhapsody Queen Bukan Menggambarkan Allah
“Bismillah! We will not let you go. (Let him go!)
Bismillah! We will not let you go….
Beelzebub has a devil put aside for me, for me, for me….
Gallileo, Gallileo, Gallileo, Gallileo Gallileo figaro-Magnifico-
Syair diatas adalah secuplik lagu legendaries Queen yang berjudul “Bohemian Rhapsody”. Pecinta rock tahun 1970-1990-an mana yang tak kenal lagu itu? Lagu Bohemian Rhapsody ditulis oleh Freddie Mercury untuk album A Night at The Opera tahun 1975 dan dinotbatkan oleh Guiness Book of Records sebagai Lagu terfavorit di Inggris (31.000 responden lebih). Bohemian Rhapsody dimainkan dengan menggunakan kunci-kunci aneh. Nada dasarnya cepat sekali berubah. Musiknya mempunyai struktur chord yang susah dimainkan dan dinyanyikan.
Dalam sebuah versi dikatakan bahwa Bohemian Rhapsody adalah lagu yang menceritakan seseorang yang akan dieksekusi mati karena telah membunuh seseorang. Ia menuliskan atau lebih tepatnya menceritakan pesan terakhirnya kepada ibunya sendiri untuk menjelaskan kondisinya sekarang.
Namun jika kita mau merenung, meneliti, dan mengkaji lebih mendalam, akan kita temukan kaitan kuat antara lagu tersebut dengan pemaknaan paganisme yang dilakukan Freddie Mercury. Bisa dikatakan lagu Bohemian Rhapsody adalah semacam manifestasi Lucifer dan kekuatan Majusi yang dianut oleh Freddie Mercury sebagai seorang pemeluk Zoroaster.
Nuansa Lucifer akan makin terasa kuat dengan penyebutan mantra yang dikaitkan dengan nama Galileo dalam Bohemian Rhapsody. Galileo Galile sendiri adalah seorang penyempurna teleskop berhaluan illuminati, sebuah gerakan yang dibentuk oleh para ilmuwan penentang kejumudan Gereja di Eropa abad pertengahan namun memendam misi Luciferian dan dipimpin oleh Galileo Galile sendiri.
Arti kata Bohemian dalam Lagu Queen ini sangat terkait erat kepada Bohemian Club (1872) sebagai salah satu sekte paganisme yang muncul di Amerika dan bergerak lewat jalur Underground. Bohemian Club selama dua ratus tahun berdiri adalah bagian dari kelompok penyembah setan.
Ritual Bohemian Club, sendiri didasari akan semangat penyembahan terhadap satanisme. Salah satu ritual member Bohemian Club adalah melaksanakan ritus pagan yang sangat megah di Bohemian Grove dengan cara melakukan Cremation of Care Ceremony, yakni mengorbankan seorang anak dengan cara di bakar hidup-hidup. Acara ini pun secara turin dilakukan tiap tahunnya.
Upacara lainnya yang dilaksanakan para penganut paganisme ini adalah ritus menyembah sebuah patung burung hantu (owl) raksasa setinggi 40 kaki, dan mengorbankan manusia di altarnya. Perwujudan Burung hantu pun kita bisa lihat di uang 1 dollar Amerika tersembunyi dalam sudut mata uang yang tampil dengan lambang mata satu itu.
Maka itu tidaklah heran, bahwa para anggota Bohemian Club di Amerika banyak diisi para pejabat pemerintahan seperti George Bush, Bill Clinton, Richard Nixon, Jimmy Carter, Colling Power, Hendry Kissinger, termasuk mantan Gubernur California saat ini, Arnold Schwarzeneger.
Sejarah kelahiran Bohemian dibentuk pada tahun 1872 oleh 5 orang Jurnalis Amerika. Club ini terletak 75 mil di luar San Fransisco. Perkumpulan ini mempunyai sebuah tempat untuk berkumpul yang diberi nama Bohemian Grove. Luas Grove ini pun tidak main-main yakni mencapai 2700 acres.
Bohemian Club (BC) saat ini sudah berkembang menjadi organisasi bagi orang terkenal dan kaya yang melangsungkan ritualnya selama 2 minggu tiap tahunnya. Akibat geraknya yang rahasia, Kelompok ini pun luput dari perhatian wartawan dan media massa.
Para member Bohemian banyak dari mereka adalah CEO berpengaruh di dunia, orang-orang pemerintah, finance, industri, dan penguasa media berkumpul untuk mendengarkan pidato, propaganda, jaringan, dan saling membagi agenda. Mereka juga mengadakan upacara Druid-like depan patung, lengkap dengan pakaian, api, mantera dan ritual-ritual lainnya.
Lalu apa kaitannya dengan Queen? Freddie Mercury sebagai seorang Zoroaster, tahu betul arti dari Bohemian. Kebiasannya menyembah api sebagai keyakinan seorang Majusi menandakan semangat Lucifer dalam dirinya. Lirik kekuatan Lucifer pun akan sangat terasa dalam lagu Bohemian Rhapsody-nya.
Kita jangan kira bahwa frase bismillah yang dinyanyikan dalam lagu Bohemian Rhapsody memiliki arti ‘dengan menyebut nama Allah’ adalah mutlak mengasosiasikan tentang Islam. Sebab tak lama setelah menyebut Bismillah, Freedie Mercury menyelipkan kata Beelzebub, sebagai sebuah personifikasi iblis dalam keyakinan para bohemian.
Beelzebub sendiri adalah nama yang disebut di dalam Alkitab memiliki kaitan dengan Satan. Sejatinya, Beelzebub atau Beelzebul adalah nama dewa orang Filistin dari kata Ba‘al ZebĂ»b, yang artinya "Dewa Lalat" dan juga digunakan di Perjanjian Baru sebagai sinonim untuk Setan.
Dikatakan bahwa Beelzebub adalah iblis yang menyebabkan kehancuran, dialah yang membuat setan-setan disembah manusia, membuat nafsu berat, dan membuat kecemburuan dalam kota juga pembunuhan, lalu membuat peperangan. Beelzebub juga termasuk tiga Fallen Angels terkenal yaitu, Beelzebub, Lucifer, dan Leviathan. Dia juga mewakili 7 dosa besar yaitu Glutonny atau Kerakusan.
Dalam Perjanjian Salomo, Beelzebul muncul sebagai pangeran dari setan dan mengatakan bahwa ia adalah mantan malaikat surga. Sedangkan dalam Injil Nikodemus, dikatakan bahwa Beelzebul adalah nama sekunder dari Setan.
Akhirnya kita bisa menganalisa bahwa Bohemian Rhapsody adalah ritual dari kepercayaan pagan majusi Freddie Mercury. Kita harus tahu bahwa dalam agama Majusi, mereka memiliki dua buah Tuhan, yaitu Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Sesuai namanya, dua Tuhan ini pun saling bertentangan. Tuhan kebaikan disebut dengan nama Ahura Mazda. Sedangkan Tuhan Keburukan disebut dengan nama Ahriman. Ahura Mazda selalu bertarung dengan Ahriman sebagai penguasa kegelapan. Hingga pada perkembangannya, Ahriman diadopsi orang-orang Ibrani sebagai setan, Iblis, Azazil, atau Lucifer.
Oleh karena itu, pada suatu versi lainnya diceritakan bahwa Bohemian Rhapsody sendiri adalah lagu yang menceritakan seseorang yang miskin (I am just a poor boy) yang akan dihukum mati (Open your eyes Look up to the skies and see) untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya yang konon karena membunuh (just killed a man, Put a gun against his head, Pulled my trigger, now his dead). Tapi dia tidak ingin ada orang yang kasihan kepadanya (I need no sympathy). Dan kemudian dia membaca mantra agar dibebaskan dari hukumannya dan meminta pertolongan dari Ahura Madza (Bismillah) dan juga Tuhan Keburukan (Beelzebub/Ahriman).
Jadi, penyebutan nama Allah oleh Freddie Mercury jelas sekali tidak sama sekali menggambarkan Allah, tapi lebih kepada doktrin Majusi, Lucifer, paganisme, tentang pertarungan dalam kehidupan Freddie sendiri. Secara logika jua, kita bisa berfikir bagaimana mungkin seorang Majusi justru mendakwahkan Islam lewat lagunya. Wallahua’lam. (eramuslim.com)
Menyikapi Singapura Sebagai 'Tukang Tadah'
Mereka menuduh Singapura sudah menjadi tempat persembunyian paling aman bagi orang (Indonesia) yang sedang menghadapi masalah hukum.
Oktober tahun lalu, Wakil Jaksa Agung Darmono dalam rapat Komisi III DPR menuding Singapura sebagai negara tetangga yang melindungi para koruptor yang melarikan diri dari kejaran hukum aparat Indonesia.
Keempat tokoh itu adalah bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua Mahkamah Kosntitusi Jimly Asshiddiqie, Ketua DPR-RI Marzuki Alie dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.
Pernyataan keempat tokoh itu muncul bersamaan dengan adanya sorotan di masyarakat bahwa Nunun Nurbaiti, sosialita yang juga isteri mantan Wakapolri Adang Daradjatun, selama ini 'bersembunyi' di Singapura. 'Persembunyian' Nunun menjadi tak terdeteksi karena pihak Singapura tidak mau membantu para pemburu Nunun.
Padahal kalau saja Singapura bersedia, dimanapun Nunun bersembunyi, seketat apapun upaya melindunginya, usaha itu tak akan efektif. Nunun selama ini dianggap salah satu 'kunci' dari kasus penyuapan pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia.
Indonesia pun tidak bisa memaksa Singapura, supaya 'menangkap' Nunun. Sebab perjanjian ekstradisi kedua negara yang ditanda-tangani 2007, belum diratifikasi oleh parlemen masing-masing. Tidak diratifikasinya perjanjian itu, seperti dikemukakan Wapres Jusuf Kalla, karena Singapura kemudian meminta akses yang lebih luas bagi Angkatan Udaranya di wilayah Indonesia. Sesuatu yang nampaknya disengaja Singapura, sehingga Perjanjian Ekstradisi itu tidak bisa dilaksanakan.
Kalau Nunun bisa dideteksi dimana dia tinggal di Singapura, maka orang-orang yang bermasalah seperti Nunun, bisa berpikir ulang menjadikan Singapura sebagai tempat persembunyian.
Alasan keempat tokoh tersebut berbicara ketus terhadap Singapura, cukup kuat. Sebab peran Singapura pelindung koruptor dari Indonesia, sudah lama jadi pembicaraan. Tapi sebagaimana lazimnya, sebuah ceritera miring seperti itu, belum menjadi perhatian para pengambil kebijakan, maka Singapura pun terus saja melanjutkan program perlindungan koruptor Indonesia.
Padahal sebagai negara tetangga terdekat dan sama-sama berada dalam perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara, seharusnya tanpa ada kritikan dari Indonesia , Singapura sudah harus lebih peka. Tidak berarti kalau pejabat Indonesia diam, tidak bicara tentang cara Singapura, lalu negara tetangga itu bisameneruskan praktek tak bersahabat itu.
Masalahnya jika sikap Singapura ini dibesarkan, banyak hal yang akan membuat akuntabilitas Singapura sebagai negara maju, bersih dan modern, terkuak secara memalukan. Misalnya dengan melindungi para koruptor, secara tidak langsung Singapura secara sengaja merusak penegakan hukum di Indonesia.
Mengapa disebut sengaja, sebab Singapura tahu betul Indonesia sedang gencar-gencarnya melaksanakan pemberantasan korupsi. Jika uang hasil korupsi dari Indonesia akhirnya ditampung Singapura, negara tetangga ini, sudah berperan seperti preman yang menjadi 'tukang tadah'.
Singapura, bisa saja berdalih bahwa negara itu tidak tahu apakah uang yang dibawa lari oleh koruptor ke sana, sebagai hasil kejahatan. Tapi dalih itu sangat tidak masuk akal. Karena di hampir semua negara maju di dunia sudah menerapkan pencegahan money laundering atau pencucian uang yang mengharuskan mengetahui asal-usul uang yang ditransfer dalam jumlah besar.
Kalau uang hasil korupsi dan koruptornya oleh Singapura diberi tempat persembunyian yang aman, tak ubahnya dengan sebuah keluarga yang hidup dari uang hasil kejahatan. Artinya Singapura adalah negara para penjahat. Maka Singapura tidak pantas mengklaim diri sebagai negara yang zero korupsi.
Yang paling tidak etis dan bermoral, jika Singapura terbukti membangun negerinya dari hasil uang korupsi di negara tetangga. Maka sekalipun Singapura menjadi salah satu negara termodern di Asia, pencapaiannya itu hanya akan ternoda.
Pencapaian itu menciptakan jurang pemisah yang lebar dengan Indonesia. Keberhasilan Singapura akan menimbulkan kecemburuan baru. Terorisme antara lain hidup karena adanya kecemburuan sosial. Jadi inilah yang perlu diperhitungkan Singapura.
Singapura lupa, sekalipun bisa menjadi sebuah negara yang terkaya di dunia, tetapi jika ia bertetangga dengan negara miskin, maka kekayaan dan kemajuannya itu tidak akan punya arti. Menjadi kaya dengan dikelilingi orang paling miskin, justru sangat berisiko. Jadi sebagai negara tetangga terdekat Indonesia, mestinya Singapura pun harus memikirkan bagaimana kehidupan yang tak bermasalah seperti itu.
Singapura perlu berkaca pada hubungan Amerika Serikat dan Meksiko. Amerika Serikat yang serba unggul dalam segala aspek kehidupan dibanding Meksiko, justru berusaha membantu negara tetangganya itu agar jurang pemisah kedua negara tidak lebih melebar.
Singapura tidak boleh lupa, bahwa ada sejumlah memori pahit tentang prilaku Singapura yang selama ini masih terus disimpan Indonesia. Jika itu dibuka, bukan mustahil kebencian massal di Indonesia terhadap Singapura bisa meledak, sebab persoalannya sudah diakumulasi dengan perlindungan Singapura terhadap para koruptor.
Kini terpulang kepada Singapura bagaimana merespon kekecewaan di Indonesia. Sementara pihak otoritas di Indonesia pun, tidak bisa terus diam. Indonesia harus bersikap lebih jelas supaya Singapura tidak menjadi tetangga 'tukang tadah'. [inilah.com]










